Indonesia Tak Perlu Jadi Nakal

Indonesia Tak perlu Jadi Nakal
3 minute read

Menurut Pak JK, ada dua cara jadi terkenal, yaitu jadi nakal atau kaya raya. Wah, maksudnya seperti Awkarin?


PinterPolitik.com

 

Resep terkenal Pak JK sejujurnya sangat familiar bagi saya. Waktu duduk di SMP dulu, seorang senior pernah berkata kalau mau terkenal di semua kalangan petinggi dan seisi penduduk SMP, jadilah murid yang sangat nakal atau sangat pintar.

Kelompok anak populer nakal ini di SMP saya, biasa nongkrong di pojok-pojok kantin dan bangunan lama sekolah yang tak terpakai dan digosipkan angker. Di lluar area sekolah, saya beberapa kali pergoki mereka merokok bergantian. Kalau upacara bendera tiap senin, mereka hampir selalu dipanggil oleh Kepala Sekolah ke depan barisan sebagai contoh buruk. Ya, mereka terbukti populer sebab Kepala Sekolah hafal nama mereka.

Sementara kelompok yang pintar agak berbeda. Mereka berlomba-lomba ke ruang guru di saat istirahat hanya untuk menjajal rumus fisika atau matematika, atau makan siang berkelompok di dalam kelas. Ohya, mereka tak pernah ke perpus. Jangan salah, di SMP saya, perpus malah tempat anak-anak nakal berkumpul. Selain angker, perpus kami tempat sempurna curi-curi waktu tidur siang. Kepala Sekolah juga sering memanggil nama mereka saat upacara bendera untuk memberi penghargaan.

Tapi kenakalan yang dimaksud Pak JK tentu bukan seperti apa yang ada di SMP saya. Maksud bliyo adalah tak nurut sama Amerika Serikat dan bertindak ‘keras’. Ia menyebut Iran, Venezuela, dan Tiongkok sebagai contoh negara nakal sempurna. Kenapa sempurna? Sebab, menurut analisis Pak JK, media suka pada mereka.

Tapi apakah Pak JK tahu keadaan para warga yang berada di bawah negara-negara nakal itu? Nakal ini artinya sama dengan diktator, lho. Di bawah kediktatoran alias kenakalan petinggi negaranya, kini rakyat Venezuela krisis berat, bangkrut pula, di Iran perempuan hebat nan jenius diusir hanya karena tak mau pakai hijab, sementara di Tiongkok 82 juta warganya hidup dalam kondisi sangat miskin.  Semua karena diktator yang nakal, Pak. Sudi membayar biaya popularitas dengan krisis dan kemiskinan? Saya mah, emoh.

sumber: detik

Pak, terkenal karena reputasi buruk itu tak selamanya bagus, lho. Cuma kelihatan keren karena sering muncul di pemberitaan saja. Itu juga isi beritanya jelek. Belum lagi  lingkungan kita akan dipenuhi dengan orang-orang nakal lain. Sudahlah, Pak JK. Kalau mau populer, kenapa tak jadi kelompok anak pintar seperti di SMP saya saja?

Baca juga :
Izin FPI Tunggu Sidang MK?

Ya memang sih, Indonesia tak kaya raya, tapi bukan berarti jadi nakal (diktator) lantas jadi cita-cita. Mengapa? sebab yang bisa nakal tapi masih dalam batas wajar hanyalah Awkarin dan Young Lex saja. (A27)

Facebook Comments