In Memoriam: Kartini Bernama Patmi

Foto: Y14
6 minute read


PinterPolitik.com

Selasa pagi (21/03/2017) pukul 02.55, Ibu Patmi (48) salah satu Kartini Kendeng yang melakukan aksi cor kaki dengan semen sejak Senin (13/3/2017) menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit St. Carolus. Kejadian bermula saat pukul 02.30 pagi, setelah keluar dari kamar mandi, Bu Patmi merasakan nyeri di dadanya dan mengeluh tidak nyaman. Beberapa menit kemudian, beliau mengalami kejang dan muntah-muntah. Dokter yang siaga di markas LBH (Lembaga Bantuan Hukum) Jakarta, langsung mendampingi dan membawanya ke RS. Carolus.

Pukul 02.55, Bu Patmi dinyatakan meninggal dunia oleh pihak Rumah Sakit dengan dugaan serangan jantung. Selanjutnya, pukul 08.30 pagi jenazah Bu Patmi dibawa melalui jalur darat dengan mobil ambulan ke Pati, Jawa Tengah untuk dimakamkan. Sebelumnya, keadaan kesehatan Bu Patmi dinyatakan sehat oleh Dokter Lina, yang sealu mendampingi para relawan dan peserta aksi di LBH Namun, keadaan berbalik drastis kemudian.

Tahun lalu, Bu Patmi juga melakukan aksi mengecor kaki di depan Istana Negara bersama dengan 8 perempuan dari Kendeng, yang dijuluki Kartini Kendeng. Sejak awal, beliau aktif dalam gerakan penyelamatan lingkungan Kendeng. Bu Patmi meningalkan dua orang anak bernama Sri Utami dan Muhamadun Da’iman. Sri Utami, anak sulung Bu Patmi, memberi komentar terkait almarhumah ibunya menjawab,

“Nggih, wanci ndek wingi niku mak’e mangkat (ke Jakarta) niku nggih mboten wonten paksaan. Nggih mpun pamit kaleh keluarga. Iku saking keluarga lah nggih mpun ngizini, wong sanjange nike pamit kangge berjuang mbelani anak-putu, mbelani tanah air dewe. Umpami wonten nopo-nopo nggih niku mpun westine seng ndamel urip, westine Gusti Allah. Kulo nggih, insya Allah nggit saget nampi. La pripun maleh? Garise semonten. Ngonten. Nggih mugi-mugi wae seng ditliler niki, keluargane nggih diparingi ketabahan. Iku mawon.”

(Ya, memang ibu berangkat tidak ada paksaan, juga sudah berpamitan dengan keluarga, dari  keluarga juga sudah mengizinkan. Ibu menyampaikan bahwa pamit untuk berjuang membela anak-cucu, membela tanah air sendiri. Seumpama ada apa-apa, itu sudah menjadi kehendak Yang Membuat Hidup, kehendak Gusti Allah. Saya ya, insya Allah bisa menerima. Mau bagaimana lagi, takdirnya begitu. Ya, semoga saja keluarga yang ditinggal ini diberikan ketabahan).

Foto: LBH Jakarta

Juru bicara Koalisi Untuk Kendeng Lestari (KUKL) M. Sobirin mengungkapkan, pada Senin siang (21/03/2017), telah menyepakati untuk hanya akan menurunkan 9 peserta di tiap aksi. Peserta tersebut juga bergantian setiap 3 hari. Hal ini dilakukan terkait menjaga kondisi tubuh dan stamina para peserta aksi. Di LBH (Lembaga Bantuan Hukum), tempat para peserta aksi beristirahat, pada Selasa malam (21/03/2017), diadakan tahlilan bersama para elemen masyarakat untuk mengenang, bersolidaritas, dan mendoakan almarhumah.

Baca juga :  Fadli Tuding Indonesia Apatis
In Memoriam: Kartini Bernama Patmi
Foto: LBH Jakarta

Sobirin juga menambahkan bahwa pada Senin (20/03/2016) sore, pihak Kepresidenan yang diwakili Teten Masduki mengundang perwakilan warga berdialog di KSP (Kantor Staff Presiden). Dalam dialog, perwakilan warga menolak skema penyelesaian konflik yang hendak menggantungkan pencabutan izin lingkungan mengingat hasil laporan KLHS tertutup dan tidak meyertakan warga yang menolak pendirian pabrik semen.  Pihak kepresidenan yang diwakili oleh Teten Masduki juga telah merespon kabar meninggalnya Bu Patmi. Menurutnya, pihaknya akan memberikan kompensasi untuk keluarga Bu Patmi.

Pegiat Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPKK), Eko Arifianto menyatakan, bahwa aksi menolak pabrik semen akan terus berlanjut. Eko berharap, wafatnya Bu Patmi akan menjadi momentum untuk menumbuhkan bunga-bunga perlawanan masyarakat terhadap kesewenangan pemerintah yang tak mengindahkan rakyat dalam merancang pembangunan.

Protes Kartini Kendeng

Para petani Kendeng melakukan aksi cor menyemen kaki sebagai bentuk penolakan terhadap pembangunan pabrik semen di Rembang. Aksi memasung kaki dengan semen ini merupakan simbol keterbelengguan mereka akibat berdirinya pabrik semen yang mengakibakan hilangnya mata pencaharian bertani dan ancaman terkena polusi lingkungan.

Petani-petani yang terlibat aksi pengecoran kaki atau aksi Dipasung Semen 2 sejak Senin (13/03) antara lain, Sudiri (Rembang), Jumika (Rembang), Sukamdi (Rembang), Sukinah (Rembang), Patmi (Pati), Giyem (Pati), Darto (Pati), Sariman (Pati), Kumari (Blora), Darto (Grobogan). Sampai saat ini peserta aksi bertambah hingga 50 orang lebih.

Para peserta aksi Dipasung Semen 2 yang telah dicor kakinya sejak Senin(13/03/2017), tersebut sebagian besar membuka cor di kakinya pada Senin (23/03/2017) sore dan bersiap untuk pulang keesokan paginya. Aksi cor kaki dilakukan setiap pukul 13.00 WIB sampai 17.00 di depan pelataran Monas yang bersebrangan dengan Istana Negara. Aksi ini masih akan terus berlanjut sampai tuntutan mereka agar Presiden Jokowi mencabut Izin Lingkungan yang diterbitkan Ganjar Prabowo pada 23 Februari 2017 dan pembangunan pabrik semen di Rembang, diberlakukan dan dihentikan sama sekali.

Upaya warga petani Rembang menolak pendirian pabrik semen. (Foto: Google)

Segala upaya sudah dilakukan oleh para warga petani Rembang untuk menolak pendirian pabrik. Mulai dari mendirikan tenda perlawanan di lokasi pendirian pabrik, melayangkan gugatan, meluaskan bentuk solidaritas, berjalan kaki lebih dari 100 kilometer, hingga mengecor kaki menggunakan semen. Namun, pendirian pabrik semen masih terus berlanjut dan kokoh berdiri, bahkan sudah hampir rampung sepenuhnya.

Baca juga :  Bom Bogota, Pemberontak Klaim Bertanggung Jawab

Pada Sabtu (18/03/2017) perwakilan Pegunungan Kendeng mencoba mendatangi kediaman Megawati Soekarno Putri yang beralaman di Jl. Teuku Umar selaku pempinan teringgi partai PDI-P. Perwakilan tersebut dipimpin oleh Gunarti, tokoh Sedulur Sikep, beserta sembilan perempuan lain. Sebelumnya, mereka juga telah mengirimkan surat pada 14 Februari 2017 untuk sowan. Seminggu tidak mendapat jawaban, Gunarti mendatangi langsung kediaman Megawati. Di tempat tujuan, surat mereka ditolak oleh petugas keamanan dan disarankan untuk mengirimkannya ke kantor DPP PDI-P.

Pertanyaan Gunarti apakah Megawati bersedia menemui perwakilan warga Kendeng juga tak mendapat jawaban. Gunarti malah diminta untuk datang ke kantor DPP PDI-P untuk menemui Sekretaris jenderal DPP PDI-P, Hasto Kristianto.

Determinasi Sedulur Sikep

(Dokumenter Samin VS Semen oleh: Dandhy Laksono)

Aksi para petani Kendeng melakukan berbagai cara untuk menolak pembangunan pabrik semen dengan melukai diri, mayoritas tidak dimengerti oleh warga urban kota. Sama halnya seperti masyarakat Molo di Maluku yang memandang air seperti darah, daging seperi tanah, hutan seperti kulit, serta kerangka badan seperti batuan, Sedulur Sikep berjuang dengan tangguh demi menjaga eksistensinya sebagai petani.

Andre Barahamin, sebagai penulis dan peneliti menyatakan, bagi Sedulur Sikep, membiarkan alam rusak berarti mengabaikan eksisitensinya sebagai petani. Tidak hanya menjadi petani, mereka memperjuangkan takdirnya menjadi petani dengan tubuhnya sendiri.

Lebih lanjut, Andre menambahkan sikap para petani dan Sedulur Sikep merupakan bentuk pengejawantahan Amor Fati atau love of one’s fate, mencintai takdir yang murni. Mereka adalah orang-orang luar biasa yang tidak mudah menyerah, pesimistis, dan membenci harapan yang belum tampak. Di saat yang bersamaan, mereka dapat menjaga rasionalitas dengan rendah hati dan sederhana.

Oleh kita, masyarakat urban perkotaan, tentu pandangan tersebut sulit diterima. Di tengah lipitan hidup yang menegasikan impian dan diliputi kemiskinan imajinasi, apa yang dilakukan para petani Kendeng kita anggap tak masuk akal dan hanya menyakiti diri sendiri. Sebagai penghuni gua fatalisme dan kerap menyebut diri sebagi pemuja realitas, paling tidak kita bisa ikut bersolidaritas terhadap perjuangan mereka dan memberi tahu bahwa mereka tidak sendiri berjuang. Atau setidaknya, perjuangan liat dan ketat mereka memperlihatkan kita satu pilihan sikap, mau bertani atau menjadi karyawan pabrik?

We must always take sides. Neutrality helps the oppressor, never the victim. Silence encourages the tormentor, never the tormented.” ― Elie Wiesel

(Berbagai Sumber/A27)

Share On

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here