HomeNalar PolitikBalapan Antariksa: Biden vs Xi Jinping

Balapan Antariksa: Biden vs Xi Jinping

Kecil Besar

Perlombaan antariksa atau space race tidak berhenti pada masa Perang Dingin. Saat ini, Tiongkok menjadi penantang baru Amerika Serikat (AS) atas kepimpinan ruang angkasa. Siapa kira-kira yang akan menang dalam perlombaan kali ini?


PinterPolitik.com

Sekitar 30 tahun yang lalu, dunia dikenalkan pada sebuah persaingan yang sebelumnya tidak pernah terjadi dalam sejarah umat manusia. Persaingan tersebut adalah space race atau perlombaan antariksa, yang dua aktor utamanya adalah para negara adidaya Perang Dingin, yaitu Amerika Serikat (AS) dan Uni Soviet.

Meskipun euforia space race mereda setelah Perang Dingin berakhir, beberapa waktu ke belakang muncul anggapan bahwa akan ada perlombaan antariksa baru. Hegemoni AS dalam keantariksaan mendapat tantangan dari kebangkitan teknologi Tiongkok, yang dalam dua dekade ini menunjukkan progres yang signifikan. Presiden Xi Jinping bahkan sudah menyiapkan roadmap untuk mewujudkan mimpinya sebagai negara adidaya antariksa pada tahun 2045.

Namun, Tiongkok tidak bergerak sendiri, dinamika politik kontemporer mengindikasikan Negeri Tirai Bambu akan berkolaborasi intens dengan Rusia dalam membangun kapabilitas keantariksaan. Ini tercermin dari sejumlah agenda antariksa mereka. Salah satunya adalah kesepakatan antara badan antariksa Rusia, Roscosmos dan badan antariksa Tiongkok, China National Space Administration (CNSA), untuk membangun stasiun luar angkasa di Bulan, yang bisa digunakan oleh negara-negara lain.

Oleh karena itu, banyak pengamat kemudian mengatakan bahwa perlombaan antariksa sudah benar-benar di depan mata. AS akan menghadapi gabungan kapabilitas antariksa Tiongkok yang dibantu oleh Rusia.

Namun, sebelum membahas lebih lanjut tentang persaingan AS dan oposisinya, pantas untuk terlebih dahulu kita mengetahui bagaimana pola pikir yang tepat dalam memahami perlombaan antariksa.

Meraba Perlombaan Antariksa Modern

Logika yang perlu kita gunakan agar mengerti sifat persaingan negara besar dalam bidang keantariksaan adalah melihatnya sebagai fenomena geopolitik. Pengamat militer asal AS, Everett C. Dolman, dalam tulisannya Astropolitik: Classical Geopolitics in the Space Agemengatakan bahwa antariksa tidak jauh berbeda dengan zona-zona yang selama ini menjadi arena persaingan di Bumi, seperti laut ataupun darat.

Dan layaknya zona pertempuran konvensional, ada titik-titik penting yang perlu dipertahankan ataupun diakuisisi oleh negara agar dapat menanamkan pengaruh politiknya.

Titik tersebut contohnya adalah geostationary orbit (GSO) dan low earth orbit (LEO), teritori-teritori antariksa yang umumnya digunakan untuk penempatan satelit dan stasiun luar angkasa. Perlu diketahui bahwa LEO dan GSO dianggap sebagai sumber daya alam yang terbatas, karena layaknya persebaran lahan di Bumi โ€“ hanya wilayah-wilayah ini yang dianggap layak sebagai tempat operasi satelit yang optimal. LEO dan GSO sendiri eksklusif terletak di atas khatulistiwa Bumi.

Hubungan antara ketersediaan alam dan pengembangan teknologi yang diterapkan di antariksa menciptakan suatu kesinambungan yang pada akhirnya menghasilkan nilai ekonomis. Fenomena ini kemudian diberi istilah space economy atau ekonomi antariksa.

Ahli ekonomi Universitas Kolombia, George Pullen, dalam tulisannya What is the Space Economy? mengatakan space economy terdiri dari semua produk dan aktivitas industri yang berkaitan dengan ruang angkasa, seperti manufaktur roket dan satelit, teknologi telekomunikasi, dan pemantauan cuaca โ€“ bahkan juga pariwisata dan penambangan mineral.

Baca juga :  The Danger Lies in Sri Mulyani?

Selama ini, menurut Dolman, status quo ekonomi keantariksaan masih dipimpin oleh AS. Akan tetapi, layaknya sektor-sektor lain yang ada di Bumi, daya tarik space economy tentu akan mengundang upaya-upaya dari negara besar lain untuk memperoleh dan bahkan mungkin menggerogoti kekuasaan hegemoni AS.

Dalam bukunya yang berjudul New Frontiers, Old Realities, Dolman mengatakan Tiongkok sebagai negara yang sedang bangkit, akan berupaya keras untuk mengungguli kemajuan teknologi antariksa AS. Tiongkok bahkan berani mempersenjatai satelitnya dengan persenjataan, melalui program Fengyun, FY-1C yang melalukan tes penembakan satelit pada 2007 lalu.

Ini menjadi kekhawatiran baru bagi AS karena sebelumnya Negeri Paman Sam belum pernah serius mengembangkan sistem pertahanan satelit. Dolman menyebut aksi yang dilakukan Tiongkok ini adalah untuk menunjukkan pada dunia bahwa sebagai negara hegemon antariksa, AS mempunyai sebuah kelemahan dan sumber ketakutan.

Perilaku Tiongkok ini bisa dijelaskan dengan teori power transition theory (PTT) dari A.F.K Organski yang dijabarkan dalam bukunya World Politics. Di dalamnya, Organski menjelaskan bahwa negara-negara yang memiliki potensi akan berusaha menantang negara kekuatan lama yang telah mendominasi karena tidak puas dengan tatanan yang ada. Dengan potensi yang cukup, pergeseran kekuatan dominan akan terjadi dengan kekuatan lama tergantikan oleh kekuatan baru.

Selain untuk unjuk gigi kapabilitasnya, negara penantang ini juga dijelaskan akan melakukan aksi-aksi yang tujuannya adalah mempertunjukkan pada negara lain bahwa sang negara hegemon tidak bersifat invincible atau tak terkalahkan. Mereka mempunyai sejumlah kelemahan yang sesungguhnya bisa dieksploitasi oleh siapapun yang ingin menentangnya.

Lalu, pertanyaan besarnya, dilihat dari perkembangannya sekarang, kira-kira siapa yang lebih unggul dalam perlombaan antariksa?

Sektor Swasta, Keunggulan AS?

Perlu dipahami bahwa meskipun perlombaan antariksa sering digemborkan oleh penggunaan kata yang sama dengan persaingan Perang Dingin, yaitu space race, sejatinya perlombaan antariksa modern memiliki sangat berbeda dengan masa lampau. Luke Harding dalam tulisannya The Space Race is Back On, mengatakan bahwa persaingan antara AS dan Uni Soviet dulu adalah murni mengenai persaingan antar negara. Sementara, space race modern akan lebih banyak berpangku pada peran swasta.

Dan memang, kalau kita melihat fenomenanya saat ini, perkembangan program antariksa lebih ditonjolkan oleh setidaknya tiga perusahaan teknologi besar, yaitu SpaceX yang dipimpin Elon Musk, Blue Origin besutan Jeff Bezos, dan Virgin Galactic asuhan Richard Branson. Mereka adalah perusahaan-perusahaan swasta asal AS.

Oleh karena itu, Alanna Krolikowski, profesor politik dari Missouri University of Science and Technology, mengatakan bahwa besar kemungkinannya AS akan tetap memimpin perlombaan antariksa modern. Aktor yang berperan besar dalam mengembangkan kemajuan teknologi antariksa AS saat ini adalah perusahaan swasta, mereka tidak terbatasi oleh penyempitan tujuan nasional. Mereka dengan bebas bisa melakukan eksplorasi dan bahkan mungkin mewujudkan space economy yang modern melalui turisme antariksa dan wacana penambangan mineral asteroid.

Baca juga :  Ini Akhir Cerita Thohir Brothers?

Kalau kita perhatikan, sepertinya memang AS sendiri berniat bergerak ke arah ini. Karena negeri Paman Sam adalah salah satu negara yang menolak menandatangani Perjanjian Bulan PBB 1979 yang isinya melarang eksploitasi benda antariksa oleh negara ataupun swasta. Stanley B. Rosenfield dalam tulisannya The Moon Treaty: The United States Should Not Become a Party menilai penolakan ini karena komunitas sains dan bisnis AS melihat Perjanjian Bulan akan merugikan perkembangan eksplorasi antariksa.

Sementara itu, Krolikowski menilai bahwa Tiongkok dan Rusia masih terjebak semangat perlombaan antariksa ala Perang Dingin. Ambisi yang mereka tunjukkan merefleksikan apa yang dianut oleh Uni Soviet dahulu, yaitu ingin mendapatkan rasa kebanggaan nasional.

Kecurigaannya adalah ini akibat dari perbedaan sistem pemerintahan. AS sebagai demokrasi kapitalis membuka peluang besar bagi swasta untuk mengembangkan teknologi sedangan Tiongkok dan Rusia sebagai negara otoriter memiliki keterbatasan inovasi.

Di sisi lain, AS sudah masuk ke level yang pragmatis. Mereka tidak lagi mementingkan permasalahan keunggulan citra negara ataupun ideologi.

Ini tercermin dari semakin berkurangnya anggaran yang diperoleh oleh NASA sejak Perang Dingin, begitu juga dengan penundaan sejumlah program ambisius. Contohnya adalah wacana eksplorasi ke Planet Mars, yang malah dialihkan ke misi kembali ke Bulan melalui Proyek Artemis, yang menurut Presiden AS Joe Biden bisa dijalankan pada tahun 2025.

Meskipun begitu, ini tidak berarti Tiongkok telah kalah. Eric Berger dalam tulisannya Why Chinaโ€™s Space Program Could Overtake NASA menyebutkan bahwa beberapa tahun terakhir ada indikasi bahwa Tiongkok mulai meniru teknologi yang dikembangkan perusahaan swasta. Contohnya adalah pengembangan roket Long March 8 yang memiliki keserupaan fitur teknologi dengan roket Falcon 9 milik SpaceX.

Pada akhirnya, sebagai refleksi diri, dampak dari space race modern sesungguhnya bisa dikapitalisasi oleh negara berkembang untuk melibatkan dirinya ke โ€œzona pertempuranโ€ yang baru ini. Berkembangnya peran swasta telah membuka jendela transfer teknologi yang minim akan kepentingan politik.

Indonesia pun sesungguhnya mulai terlihat menunjukkan perilaku yang sama ketika Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengundang SpaceX pada awal 2021 lalu untuk mendirikan bandar antariksa di Biak, Papua. Namun, sayangnya, wacana tersebut sampai saat ini belum terlihat progres yang signifikan.

Well, siapapun yang akan memenangkan space race modern, sepertinya tepat bila Indonesia bisa memanfaatkan momen perlombaan ini untuk ikut berpatisipasi, bukan hanya menjadi penonton.

Astronot Neil Armstrong ketika memijakkan kakinya di Bulan mengatakan bahwa itu adalah โ€œone small step for man, one giant leap for mankindโ€. Barang kali, di masa depan, langkah yang dipijakkan astronot bukan lagi dianggap sebagai langkah besar untuk umat manusia, tetapi juga โ€œone giant leap for interplanetary economyโ€, suatu langkah besar ke arah perekonomian antar planet. (D74)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Didit The Peace Ambassador?

Safari putra Presiden Prabowo Subianto, Ragowo Hediprasetyo Djojohadikusumo atau Didit, ke tiga presiden RI terdahulu sangat menarik dalam dinamika politik terkini. Terlebih, dalam konteks yang akan sangat menentukan relasi Presiden Prabowo, Joko Widodo (Jokowi), dan Megawati Soekarnoputri. Mengapa demikian?

Prabowo Lost in Translation

Komunikasi pemerintahan Prabowo dinilai kacau dan amburadul. Baik Prabowo maupun para pembantunya dianggap tak cermat dalam melemparkan tanggapan dan jawaban atas isu tertentu kepada publik, sehingga gampang dipelintir dan dijadikan bahan kritik.

2029 Anies Fade Away atau Menyala?

Ekspektasi terhadap Anies Baswedan tampak masih eksis, terlebih dalam konteks respons, telaah, dan positioning kebijakan pemerintah. Respons dan manuver Anies pun bukan tidak mungkin menjadi kepingan yang akan membentuk skenario menuju pencalonannya di Pilpres 2029.

The Pig Head in Tempo

Teror kepala babi dan bangkai tikus jadi bentuk ancaman kepada kerja-kerja jurnalisme. Sebagai pilar ke-4 demokrasi, sudah selayaknya jurnalisme beroperasi dalam kondisi yang bebas dari tekanan.

PDIP Terpaksa โ€œTundukโ€ Kepada Jokowi?

PDIP melalui Puan Maharani dan Joko Widodo (Jokowi) tampak menunjukan relasi yang baik-baik saja setelah bertemu di agenda Ramadan Partai NasDem kemarin (21/3). Intrik elite PDIP seperti Deddy Sitorus, dengan Jokowi sebelumnya seolah seperti drama semata saat berkaca pada manuver PDIP yang diharapkan menjadi penyeimbang pemerintah tetapi justru bersikap sebaliknya. Lalu, kemana sebenarnya arah politik PDIP? Apakah akhirnya secara tak langsung PDIP akan โ€œtundukโ€ kepada Jokowi?

The Irreplaceable Luhut B. Pandjaitan? 

Di era kepresidenan Joko Widodo (Jokowi), Luhut Binsar Pandjaitan terlihat jadi orang yang diandalkan untuk jadi komunikator setiap kali ada isu genting. Mungkinkah Presiden Prabowo Subianto juga memerlukan sosok seperti Luhut? 

The Danger Lies in Sri Mulyani?

IHSG anjlok. Sementara APBN defisit hingga Rp31 triliun di awal tahun.

Deddy Corbuzier: the Villain?

Stafsus Kemhan Deddy Corbuzier kembali tuai kontroversi dengan video soal polemik revisi UU TNI. Pertanyaannya kemudian: mengapa Deddy?

More Stories

The Irreplaceable Luhut B. Pandjaitan? 

Di era kepresidenan Joko Widodo (Jokowi), Luhut Binsar Pandjaitan terlihat jadi orang yang diandalkan untuk jadi komunikator setiap kali ada isu genting. Mungkinkah Presiden Prabowo Subianto juga memerlukan sosok seperti Luhut? 

Teror Soros, Nyata atau โ€œHiperbolaโ€? 

Investor kondang George Soros belakangan ramai dibincangkan di media sosial. Apakah ancaman Soros benar adanya, atau hanya dilebih-lebihkan? 

Inikah Akhir Hidup NATO?

Perbedaan pendapat antara Amerika Serikat (AS) dan negara-negara anggota Organisasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) belakangan terlihat semakin kentara. Apa maknanya?