HomeNalar Politik2024: Gibran vs Mikail vs Alam

2024: Gibran vs Mikail vs Alam

Kecil Besar

Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 bakal jadi arena bertanding di antara anak-anak muda โ€“ khususnya mereka yang masuk dalam kategori Milenial dan Generasi Z. Mengapa tarung antara Gibran Rakabuming Raka, Mikail Baswedan, dan Alam Ganjar menjadi penting?


PinterPolitik.com

โ€œBerikan aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan duniaโ€ โ€“ Soekarno, Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia

Saat itu, di akhir tahun 1931, anak-anak muda Hindia Belanda berkumpul di Surabaya, Jawa Timur (Jatim). Tepatnya, pada tanggal 31 Desember 1931, para individu muda ini berkumpul dalam rangka Kongres Indonesia Raya.

Di antara para pemuda ini, hadirlah seorang dewasa muda yang dulu dikenal dengan nama Kusno. Sosok ini bercerita bagaimana dirinya dipenjara di Penjara Sukamiskin selama dua tahun lamanya.

Sosok yang lebih dikenal dengan nama Soekarno โ€“ atau Bung Karno โ€“ ini juga bercerita bagaimana semangat juang anak muda untuk Tanah Air tidak akan ada habisnya. Dengan lantang, Soekarno mengatakan, โ€œBeri aku seribu orang tua dan, bersama mereka, dapat kupindahkan Gunung Semeru. Tapi, beri aku seribuโ€ฆ Tidak, seratus. Ya, bahkan hanya sepuluh pemuda dengan semangat muda dan cinta Tanah Air yang membara, akan kuguncangkan dunia.โ€

Boleh kita berpikir bahwa kutipan pernyataan ini adalah salah satu pernyataan paling fenomenal dari presiden pertama Republik Indonesia (RI) tersebut. Namun, sudahkah publik sadar bahwa peran anak muda semakin ke sini hanya semakin menjadi jargon saja?

Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 disebut-sebut menjadi momennya anak-anak muda โ€“ dengan besarnya jumlah pemilih di kategori usia Milenial dan Generasi Z. Namun, apa benar Indonesia sudah berguncang dengan jutaan anak muda yang bakal memilih tahun depan?

Menariknya, di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024, terdapat satu individu Milenial terlibat langsung sebagai kandidat, yakni Gibran Rakabuming Raka yang menjadi calon wakil presiden (cawapres) nomor urut 2. Selain Gibran, sejumlah nama muda juga aktif berpartisipasi dalam kampanye, seperti Mikail Baswedan dan Alam Ganjar.

Lantas, mengapa para anak muda ini bisa memiliki momentum politik sebesar sekarang โ€“ terlepas dari jumlah pemilih muda? Mungkinkah ini saat yang tepat untuk anak-anak muda?

Gara-gara Gibran?

Dalam politik, tidak ada yang serba instan. Dan, dalam permainan politik, persaingan juga akan selalu mengikuti dinamika yang terjadi.

Inilah mengapa akhirnya apa yang terjadi dalam dinamika Pilpres 2024 terkini merupakan hasil dari situasi yang ada. Misal, ketika kandidat A memiliki basis suara di salah satu wilayah dengan jumlah pemilih besar โ€“ seperti Jatim, kandidat lain โ€“ B dan C โ€“ akan mencari jalan bagaimana potensi kemenangan kandidat A bisa diperkecil.

Baca juga :  Ini Akhir Cerita Thohir Brothers?

Dalam fisika, mungkin hal seperti ini dikenal sebagai prinsip gaya, yakni gaya aksi sama dengan gaya reaksi. Namun, dalam hitungan atau model matematis dalam politik, hal demikian bisa dikupas dengan teori permainan (game theory). 

Katakanlah Koalisi Indonesia Maju (KIM) yang mengusung Prabowo Subianto sebagai calon presiden (capres) akhirnya mengusung Gibran sebagai cawapres. Keberadaan Gibran di KIM bisa saja menjadi poin tambahan bagi kubu Prabowo โ€“ mengingat memunculkan representasi anak muda di Pilpres 2024.

Dengan adanya representasi, bukan tidak mungkin tingkat keterpilihan Prabowo di kalangan anak muda juga meningkat. Hal ini bisa saja menimbulkan reaksi dari lawan-lawan Prabowo.

Lantas, apa reaksi yang kemudian muncul menanggapi kehadiran Gibran? Boleh jadi, reaksi yang kemudian muncul adalah penimgkatan representasi anak muda di kubu lainnya juga โ€“ dengan tujuan untuk memperkecil potensi kemenangan lawan di kalangan anak muda juga.

Ini bisa dilihat dengan partisipasi kelompok-kelompok relawan muda di kubu-kubu lainnya. Mikail Baswedan, misalnya, menjadi salah satu inisiator bersama teman-temannya di gerakan yang bernama Ubah Bareng.

Sementara, di kubu Ganjar Pranowo dan Mahfud MD, terdapat juga sejumlah relawan anak muda. Salah satunya adalah Relawan Ganjar Milenial Center (GMC) yang dipimpin oleh Rosyid Ridho.

Di kubu Prabowo-Gibran, anak-anak muda lainnya juga menjadi relawan. Salah satunya adalah Generasi Penerus Negeri yang dipimpin oleh M. Pradana Indraputra.

Lantas, apa dampak dari terlibatnya lebih banyak anak muda pada Pilpres ini? Boleh jadi, kemunculan Gibran sebagai cawapres akhirnya menciptakan urgensi bagi kubu-kubu lawan untuk meningkatkan representasi anak muda mereka.

Dengan begitu, Pemilu 2024 yang disebut-sebut menjadi pemilunya anak muda pada akhirnya bisa benar-benar terwujud. Namun, benarkah demikian? Apakah representasi anak muda sudah benar-benar terpenuhi?

Gibran, Mikail, dan Alam: Representasi Muda?

Anggaplah diri kalian berada di sebuah sekolah โ€“ menjadi seorang siswa atau siswi yang mengikuti berbagai kegiatan di sekolah. Pada suatu hari, kelas Anda akan mengikuti sebuah kegiatan lomba antar-kelas dalam rangka memperingati hari penting.

Baca juga :  Mitos โ€œHantu Dwifungsiโ€, Apa yang Ditakutkan?

Kelaspun akhirnya mengadakan sebuah diskusi untuk menentukan siapa-siapa yang akan mengikuti lomba-lomba tersebut โ€“ mulai dari tarik tambang, lomba futsal, hingga lomba pidato. Nama-namapun dipilih untuk mewakili kelas tersebut.

Sederhananya, nama-nama yang dipilih itulah yang menjadi perwakilan bagi kelas tersebut di lomba yang melibatkan siswa-siswi satu sekolah. Perwakilan (representasi) inilah yang menentukan posisi kelas kalian di perlombaan yang diikuti.

Hampir sama, dalam politik, hal demikian juga terjadi. Sejumlah elemen masyarakat menjadi perwakilan dengan turut meningkatkan peran dan andil dalam pengambilan kebijakan berdasarakan kelompok yang mereka wakili.

Katakanlah keberadaan Gibran, Mikail, Alam, dan anak-anak muda lainnya adalah bukti keterwakilan anak-anak muda. Bukan tidak mungkin, anak-anak muda akan memiliki andil yang akhirnya lebih besar di pemerintahan selanjutnya โ€“ siapapun yang menang nantinya.

Namun, persoalan representasi bukanlah hanya masalah ada perwakilan atau tidak, melainkan juga representasi semacam apa yang terbentuk. Mengacu ke tulisan Matthew Hayes dan Matthew V. Hibbing yang berjudul The Symbolic Benefits of Descriptive and Substantive Representation, terdapat dua jenis representasi, yakni representasi deskriptif dan representasi substantif. 

Representasi deskriptif berbicara mengenai siapa yang akhirnya menjadi perwakilan dari kelompok tersebut โ€“ berdasarkan etnis, kelompok usia, ras, dan sebagainya. Sementara, representasi substantif berbicara mengenai tindakan mewakili yang dijalankan โ€“ seperti membuat kebijakan yang sesuai.

Pada akhirnya, kualitas representasi yang baik harus mengombinasikan dua macam representasi ini โ€“ yakni bagaimana representasi anak muda diwakili oleh anak muda yang benar-benar paham kebutuhan generasi ini dan bagaimana pada akhirnya perwakilan itu membuat kebijakan yang kongruen.

Bagaimana caranya agar representasi yang mengombinasikan keduanya bisa tercapai? Mengacu ke Hayes dan Hibbing, meningkatnya jumlah perwakilan atas kelompok tersebut umumnya akan menciptakan keterwakilan yang lebih baik.

Bukan tidak mungkin, dengan munculnya Gibran sebagai cawapres, pada akhirnya anak-anak muda bisa memiliki tingkat keterwakilan yang lebih baik. Pasalnya, bila berkaca pada pemilu-pemilu sebelumnya, anak muda seakan-akan hanya menjadi jargon dengan tingkat keterwakilan yang lebih sedikit.

Mungkin, kutipan Bung Karno di awal benar. Namun, bukan tidak mungkin, guncangan akan lebih terasa besar ketika anak-anak muda yang terlibat tidak hanya sepuluh, melainkan seluruh anak muda Indonesia untuk menentukan nasib negara dan bangsa ini. (A43)


spot_imgspot_img

#Trending Article

Didit The Peace Ambassador?

Safari putra Presiden Prabowo Subianto, Ragowo Hediprasetyo Djojohadikusumo atau Didit, ke tiga presiden RI terdahulu sangat menarik dalam dinamika politik terkini. Terlebih, dalam konteks yang akan sangat menentukan relasi Presiden Prabowo, Joko Widodo (Jokowi), dan Megawati Soekarnoputri. Mengapa demikian?

Prabowo Lost in Translation

Komunikasi pemerintahan Prabowo dinilai kacau dan amburadul. Baik Prabowo maupun para pembantunya dianggap tak cermat dalam melemparkan tanggapan dan jawaban atas isu tertentu kepada publik, sehingga gampang dipelintir dan dijadikan bahan kritik.

2029 Anies Fade Away atau Menyala?

Ekspektasi terhadap Anies Baswedan tampak masih eksis, terlebih dalam konteks respons, telaah, dan positioning kebijakan pemerintah. Respons dan manuver Anies pun bukan tidak mungkin menjadi kepingan yang akan membentuk skenario menuju pencalonannya di Pilpres 2029.

The Pig Head in Tempo

Teror kepala babi dan bangkai tikus jadi bentuk ancaman kepada kerja-kerja jurnalisme. Sebagai pilar ke-4 demokrasi, sudah selayaknya jurnalisme beroperasi dalam kondisi yang bebas dari tekanan.

PDIP Terpaksa โ€œTundukโ€ Kepada Jokowi?

PDIP melalui Puan Maharani dan Joko Widodo (Jokowi) tampak menunjukan relasi yang baik-baik saja setelah bertemu di agenda Ramadan Partai NasDem kemarin (21/3). Intrik elite PDIP seperti Deddy Sitorus, dengan Jokowi sebelumnya seolah seperti drama semata saat berkaca pada manuver PDIP yang diharapkan menjadi penyeimbang pemerintah tetapi justru bersikap sebaliknya. Lalu, kemana sebenarnya arah politik PDIP? Apakah akhirnya secara tak langsung PDIP akan โ€œtundukโ€ kepada Jokowi?

The Irreplaceable Luhut B. Pandjaitan? 

Di era kepresidenan Joko Widodo (Jokowi), Luhut Binsar Pandjaitan terlihat jadi orang yang diandalkan untuk jadi komunikator setiap kali ada isu genting. Mungkinkah Presiden Prabowo Subianto juga memerlukan sosok seperti Luhut? 

The Danger Lies in Sri Mulyani?

IHSG anjlok. Sementara APBN defisit hingga Rp31 triliun di awal tahun.

Deddy Corbuzier: the Villain?

Stafsus Kemhan Deddy Corbuzier kembali tuai kontroversi dengan video soal polemik revisi UU TNI. Pertanyaannya kemudian: mengapa Deddy?

More Stories

Deddy Corbuzier: the Villain?

Stafsus Kemhan Deddy Corbuzier kembali tuai kontroversi dengan video soal polemik revisi UU TNI. Pertanyaannya kemudian: mengapa Deddy?

Siasat Ahok โ€œBongkarโ€ Korupsi Pertamina

Ahok tiba-tiba angkat bicara soal korupsi Pertamina. Mengacu pada konsep blame avoidance dan UU PT, mungkinkah ini upaya penghindaran?

Dari Deng Xiaoping, Sumitro, hingga Danantara

Presiden Prabowo Subianto telah resmikan peluncuran BPI Danantara pada Senin (24/2/2025). Mengapa mimpi Sumitro Djojohadikusumo ini penting?