Imitation Game ala Jokowi

Imitation Game ala Jokowi
Foto: Pars Today
6 minute read

“Socially, everything is just inventions and imitations.” – Gabriel Tarde


Pinterpolitik.com

 

Peperangan dalam tajuk Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 sebentar lagi dimulai. Dua kubu sudah menyiapkan strategi masing-masing untuk meraih kemenangan.Kubu Jokowi secara khusus sudah membentuk tim pemenangan yang terhimpun dalam Tim Kampanye Nasional-Koalisi Indonesia Kerja (TKN-KIK) yang tersebar di 34 provinsi.

Sementara itu, ada fakta menarik dari beberapa bagian strategi yang dilakukan oleh Jokowi. Dalam situasi tertentu, kubu petahana ini seolah ingin membendung kubu Prabowo Subianto dengan menempatkan sosok yang setipe dengan yang digunakan oleh kubu lawannya tersebut. Jokowi seolah mencoba melakukan imitasi politik – meniru gerakan lawan – dengan memilih tokoh-tokoh yang bisa membendung aksi lawan.

Sejauh ini, politik imitasi sang petahana bisa diangap positif dengan menilai persepsi yang beredar di masyarakat. Click To Tweet

Imitasi politik yang dilakukan Jokowi menjadi langkah yang menarik untuk dicermati. Pastinya ada kalkulasi yang dipertimbangkan oleh kubu petahana dengan menempatkan sosok-sosok yang bisa melawan agresivitas kubu lawan.

Lantas yang menjadi pertanyaan adalah apakah imitasi politik ini menjadi langkah pembendungan (containment) terhadap strategi politik Prabowo yang tepat dan apakah efektif untuk bisa mempengaruhi persepsi publik?

Duel Bidak Jokowi-Prabowo

Pada sebuah kontestasi politik, tentu tiap orang dan kelompok memiliki strategi tersendiri untuk memenangkannya. Strategi kampanye menjadi penting dan mutlak bagi para kandidat yang akan bertarung. Strategi yang tepat akan berujung pada kemenangan.

Dalam sebuah strategi kampanye politik, ada prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan, misalnya positioning, branding, segmenting, strategi media dan strategi non-media. Proses sosial politik yang diartikulasikan terkait fenomena ini adalah bagian dari strategi kampanye tersebut.

Pada titik ini, Jokowi nampaknya tengah melakukan strategi politik dengan menerapkan kebijakan meniru strategi lawan. Jika dilihat dari motifnya, perhitungan politik seperti ini, tentu bukanlah sebuah kebetulan.

Terpilihnya Sandiaga Uno sebagai calon wakil presiden Prabowo misalnya, membuat Jokowi menjatuhkan pilihan kepada Erick Thohir untuk mengisi ketua Tim Sukses. Sandi dan Erick adalah sama-sama pengusaha, bahkan punya hubungan yang cukup dekat di antara mereka.

Meskipun secara posisi tidak sebanding, namun peran tim sukses yang disandang Erick juga besar untuk memenangkan Pilpres. Apalagi Erick adalah sosok yang sedang naik daun setelah menjadi Ketua Pelaksana Asian Games 2018 yang bertabur kesuksesan. Sandiaga sebagai sosok yang sering disebut mewakili kelompok milenial dan pengusaha sukses ini coba diduplikasi oleh kubu Jokowi dengan memasang Erick.

Imitation Game ala Jokowi

Kemudian ada sosok Ali Mochtar Ngabalin, yang selama ini terkenal dengan komentarnya yang frontal dan cenderung ceplas-ceplos. Ngabalin dimajukan untuk meredam sosok Mardani Ali Sera, inisiator gerakan #2019GantiPresiden. Maka, tak heran jika Ngabalin wara-wiri di televisi nasional sembari menyebut tagar tersebut sebagai tindakan makar dan inkonstitusional.

Meskipun tidak sedikit yang menyebut bahwa sikap Ngabalin akan menggerus elektabilitas Jokowi – karena Jokowi selama ini dikenal low profile dan kalem dalam berkomunikasi – tapi nampaknya kebiasaan itu tidak dihilangkan atau dikurangi oleh Ngabalin. Ia tetap konsisten dengan gaya bicaranya dan masih menganggap tagar itu sebagai makar.

Sosok Ngabalin yang ceplas-ceplos ini nampaknya memang diplot untuk meredam suara-suara sumbang yang diarahkan oleh kubu Prabowo. Seperti diketahui bahwa banyak suara-suara yang cukup vokal dan frontal dari kubu oposisi, misalnya saja Fahri Hamzah dan Fadli Zon yang cukup sering mengkritik pemerintah dengan nada keras.

Kemudian ada sosok fenomenal yang akan menjadi pendamping Jokowi di Pilpres 2019 nanti, Ma’ruf Amin. Kehadirannya diharapkan menjadi antitesa dari pihak lawan yang selama ini kerap menggunakan politik identitas sebagai bahan kampanye. Isu politik identitas ini sempat panas terjadi di Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu, dan oleh sebagian pihak dianggap menjadi cerminan Pilpres 2019. Prabowo yang sebelumnya diuntungkan dengan politik identitas karena menggandeng PKS serta GNPF-Ulama, kini harus berpikir ulang untuk menggunakan isu serupa pada Pilpres nanti sebab kini ada sosok Ma’ruf Amin di kubu Jokowi.

Strategi Imitasi Jokowi

Jika melihat fenomena langkah politik yang dilakukan oleh Jokowi dengan memasang orang-orang tersebut, maka kondisi ini sesuai dengan penjelasan dalam teori imitasi yang digagas oleh Gabriel Tarde.

Tarde, seorang ilmuwan sosiologi asal Perancis mengatakan dalam bukunya The Laws of Imitation bahwa interaksi sosial yang terjadi dalam masyarakat mula-mula terjadi pada individu yang melakukan suatu bentuk imitasi,  yaitu proses sosial atau tindakan seseorang untuk meniru orang lain, baik sikap, penampilan, gaya hidup, pilihan politik, dan yang lainnya.

Tarde menyebut imitasi adalah elemen utama dalam kohesi sosial. Masyarakat terbentuk karena mereka mengimitasi atau counter-imitate antara satu dengan yang lainnya. Pandangan Tarde ini berangkat dari analisisnya tentang identifikasi fenomena repetisi universal. Melalui repetisi atau pengulangan universal ini, Tarde mengangap bahwa akan terjadi pola dan bentuk yang tumbuh dalam lingkungan masyarakat.

Prinsip-prinsip dasar pembangunan sosial mengandung penggabungan unsur invensi – penemuan terhadap sesuatu yang benar-benar baru – dan imitasi. Tarde menulis, secara sosial semuanya hanyalah invensi dan imitasi. Meskipun berangkat dari kajian sosiologi, Tarde menyebut jika teorinya ini tidak hanya terbatas pada kajian sosiologi saja, namun bisa untuk kajian sosial politik, bahkan ilmu pasti.

Jika menggunakan pisau analisis Tarde ini, fenomena kubu Jokowi yang memasang tokoh politik untuk menyerang kembali (counter-imitate) tokoh yang dipasang oleh kubu Prabowo adalah bagian dari usaha imitasi yang dilakukan Jokowi.

Jokowi, dengan menggabung invensi dan imitasi, melakukan upaya pembangunan proses artikulasi sosial-politik. Imitasi politik Jokowi ini dengan memilih dan mengembangkan sosok-sosok yang tepat untuk menghadapi sosok-sosok yang ada dalam kubu Prabowo.

Kubu Jokowi sadar bahwa keberadaan tokoh-tokoh yang punya pengaruh signifikan di kubu Prabowo bisa memainkan isu dengan sangat baik dan berbahaya bagi proses pemenangannya di Pilpres nanti. Dengan demikian ia memasangkan orang yang apple to apple dengan kubu Prabowo.

Selain itu, hal ini juga ingin memberi kesan bahwa kubu Jokowi menggunakan prinsip “lo jual gue beli”, di mana ia memiliki sumber daya yang besar dengan bukti bisa menurunkan orang-orang yang setipe dengan yang dimiliki oleh kubu Prabowo.

Bendung Prabowo, Jokowi Untung?

Bisa dikatakan bahwa penerapan strategi ini adalah bagian dari kebijakan pembendungan untuk mencegah efek yang lebih besar yang akan dihasilkan oleh kubu Prabowo. Sebagai bagian dari taktik politik, hal ini memiliki efek yang bisa dirasakan langsung oleh kubu Jokowi. Sejauh ini, politik imitasi sang petahana bisa diangap positif dengan menilai persepsi yang beredar di masyarakat.

Misalnya, penunjukkan Erick Thohir untuk meredam sosok Sandiaga Uno di tubuh Prabowo dianggap sebagai langkah yang cukup jitu. Jika dilihat dari persepsi publik, sosok Erick merupakan bagian yang tak terlepaskan dari keberhasilan ajang Asian Games beberapa waktu lalu.

Masyarakat cukup positif menilai penunjukkan Erick Thohir. Sebagai pengusaha sukses kehadiran Erick juga bisa menambah fundrising bagi keperluan kampanye Jokowi. Selain itu, isu kedekatan Erick dengan Sandiaga secara personal tentunya juga akan memberikan keuntungan yang besar bagi pihak Jokowi.

Kemudian, penempatan Ngabalin bisa diharapkan sebagai corong yang cukup efektif untuk meredam suara-suara sumbang dari kubu oposisi. Sejauh ini peran ini bisa dimainkan oleh Ngabalin dengan baik.

Sementara, Ma’ruf Amin disebut-sebut menjadi langkah tepat untuk meredam isu politik identitas yang selama ini menjadi persoalan bagi Jokowi. Meskipun penunjukkan Ma’ruf Amin melibatkan tarik menarik kepentingan di internal koalisi, sejauh ini pasangan Jokowi-Ma’ruf masih mengungguli Prabowo-Sandiaga di kalangan pemilih muslim. Hal itu bisa dilihat dari survei yang dilakukan oleh Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA pada bulan Agustus 2018.

Jika mengacu pada imitasi politik yang dilakukan oleh Jokowi ini, maka bisa dikatakan bahwa langkahnya sudah cermat sebagai usaha pembendungan kampanye politik Prabowo. Dengan cara ini, Jokowi bisa mengunci langkah politik Prabowo. Apakah hal ini bisa terus berlanjut hingga waktu pemilihan tiba? Menarik untuk ditunggu. (A37)