Ijtima Ulama, Menuju People Power?

Ijtima Ulama, Menuju People Power?
Ijtima Ulama III (foto: JARRAK.ID)
3 minute read

Tidak seperti massa, intelektual memiliki selera rasionalitas dan ketertarikan pada fakta” . – Aldous Huxley, filsuf dan penulis Inggris


PinterPolitik.com

Pada zaman dulu, istilah Ijtima Ulama itu erat kaitannya dengan berkumpulnya ahli agama dalam suatu forum untuk merumuskan sebuah produk hukum agama Islam. Tapi, kelihatannya makna Ijtima menjadi jauh berbeda ya cuy ketika memasuki tahun politik. Hmmm, memang politik seakan bisa mengubah segala hal ya. Hehehe.

Orang yang awalnya pendiam bisa jadi agresif, yang pemarah bisa jadi bijak. Bahkan dalam sekejap masyarakat biasa bisa berubah layaknya pengamat politik profesional. Kasihan ya sarjana ilmu politik, jadi banyak yang nganggur tuh nanti. Hehehe.

Secara terang-terangan Slamet Ma’arif selaku Ketua Organizing Committee (OC) mengatakan bahwa semua alumni Ijtima Ulama II akan diundang, kecuali yang sudah menjadi cebong. Click To Tweet

Banyak yang mengatakan bahwa ijtima ulama yang diprakarsai oleh Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) dan Presidium Alumni (PA) 212 ini bermuatan politik praktis cuy. Benar gak sih?

Memang kelihatannya gerakan ini terbentuk dari landasan kepentingan politik ya gengs. Berawal dari Pilgub DKI Jakarta terakit kasus penistaan agama dan ternyata terbawa hingga Pemilu 2019. Dalam hal Pemilu, baru kali ini ya muncul gerakan seperti ini.

Munculnya gerakan seperti ini tentu tidak menihilkan pro dan kontra di masyarakat. Ada yang memuji karena bagus sebagai bentuk kontrol kepada pemerintah. Tapi, tidak sedikit juga loh gengs tokoh yang melontarkan kritik pedas pada gerakan ini.

Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar misalnya, sempat memberikan kritikan. Doi mengatakan bahwa Ijtima itu seharusnya menghasilkan ijma (keputusan dalam hal agama). Sementara kalau Ijtima menghasilkan orang, maka itu namanya jima (bersetubuh).

Baca juga :
Hilangkan Polusi, PLN Bantu Anies

Doi juga mengatakan belum pernah ada preseden Ijtima, tetapi menghasilkan keputusan dalam hal politik praktis. Terlebih, yang namanya Ijtima itu harus diikuti oleh orang ahli agama, bukan yang tidak tahu agama. Hmmm, bener juga sih gengs. Hehehe.

Nah rencananya gengs, para tokoh GNPF dan PA 212 akan menggelar Ijtima Ulama III pada Rabu, 1 Mei 2019. Adapun tujuannya yaitu menanggapi kecurangan di Pemilu 2019.

Dalam penyelenggaraannya, ada yang menarik loh gengs. Secara terang-terangan Slamet Ma’arif selaku Ketua Organizing Committee (OC) mengatakan bahwa semua alumni Ijtima Ulama II akan diundang, kecuali yang sudah menjadi cebong. Waduh, kalau kayak gini, jadi lucu juga ya? Tapi gimana lagi, itu keputusan sang penyelenggara cuy.

Kita tau ya gerakan ini bisa berujung pada demonstrasi besar-besaran jika rekomendasi yang dihasilkan diarahkan ke sana. Kalau dikaitkan dengan pernyataan people power Ami, jangan-jangan gerakan itu memang akan diwujudkan melalui dari hasil Ijtima ini?

Jadi menarik ya untuk dipantau terus. Kira-kira para tokoh di balik acara ini bisa ngerahin massa berapa banyak ya? Kalau kata band Hijau Daun, biar saja waktu yang kan menjawabnya. Hehe. (F46)