HTI Kan Polos, Kenapa Dipolisikan?

HTI Kan Polos, Kenapa Dipolisikan?
Foto Istimewa
2 minute read

“Wah bagus sekali ya perkataanmu! Sampai-sampai membuat namamu itu terdaftar di daftar pencarian orang oleh pihak kepolisian.”


PinterPolitik.com

Video yang memperlihatkan Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera dan mantan Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Ismail Yusanto membuat pernyataan “ganti sistem” dalam gerakan #2019GantiPresiden berbuntut panjang. Keduanya akhirnya dilaporkan ke Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri gengs.

Nah, Ismail mengaku tidak habis pikir dirinya dilaporkan atas tuduhan makar. Ya mau gimana lagi ya, kalau doi dulunya bukan jubir HTI mungkin bicara ganti sistem gitu, orang enggak mikir ke arah makar.

Tapi ini mantan jubir HTI yang ngomong, kan orang jadi mikir: “Wah HTI nih, udah pasti dong gerakan tagar pengennya sistem khilafah yang diterapkan.” Adeh, jadi malas gengs bahasnya, mbok itu kan sudah jadi rahasia umum ya. Ahahaha.

Ismail yang polos ini sempat nanya dan enggak paham. Kata doi niat makar itu di mananya ya coba? Doi juga bilang kalau sistemnya jelek ya harus diganti dong, masa sistem jelek nggak boleh diganti?

Hmm, kalau sistemnya diganti, mau ganti jadi apa pak? Jadi khilafah ya? Adeh itu mah sama aja atuh pak. Wkwkwk. Click To Tweet

Intinya sih gengs, menurut Ismail, Indonesia telah berkali-kali berganti sistem. Seperti sistem pemilu langsung, sistem kepartaian, hingga sistem pemilihan kepala daerah. Katannya itu semua sudah ganti, kenapa jadi sensi begitu ya? Weleh-weleh.

Bener juga sih gengs apa yang dibilang Ismail. Ya udah pak kalau gitu, kita ganti sistem aja ya. Ganti sistem jadi orde lama gitu? Atau jadi sistem ganjil genap? Wkwkwk, bercanda ya gengs.

Nah, di luar ini semua gengs, menurut kalian apakah benar Ismail bertujuan ganti sistem Indonesia bukan menjadi khilafah? Dan haruskah saat ini Indonesia mengganti sistem pemerintahannya juga? Kalau harus kita ganti sistem, yang seperti apa nih gengs?

Kalau menurut eyke sih sistem yang cocok buat Indonesia itu adaah sistem keterwakilan tanpa harus melakukan Pemilu serentak yang pernah diterapkan Soekarno gengs. Kenapa? Ya habis gimana, banyak partai banyak maling dan politik jadi transaksional, mau voting juga banyak yang golput. Sekalinya milih juga karena UUD alias ujung-ujungnya duit. Wkwkwk. Betul apa betul? (G35)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here