Hendropriyono, Hedonisme, dan Filsafat

Hendropriyono hedonisme
Mantan Kepala BIN AM Hendropriyono (Foto MI/Depi Gunawan)
2 minute read

“Katakan padaku filosofi apa yang akan kau selami. Amarah dan dendam tak bisa lagi untuk kita warisi,” – Glenn Fredly feat. Monita Tahalea dan Istiqamah Djamad, Filosofi dan Logika


Pinterpolitik.com

Demonstrasi mahasiswa terkait dengan sejumlah RUU bermasalah beberapa waktu lalu tampaknya masih menyisakan banyak kisah ya. Salah satu yang teranyar adalah pernyataan dari mantan Kepala BIN AM Hendropriyono.

Menurut Pak Hendropriyono, demonstrasi yang ada belakangan ini cuma ekspresi dari kelompok masyarakat hedonis. Wah, kok jadi terkait ke hedonisme ya?

Mahasiswa yang berdemo tampak tak terima dengan label hedonis yang diberikan oleh sang jenderal. Menurut mereka, kalau mereka hedonis mereka tidak akan turun ke jalan. Mereka berdemo justru karena mereka peduli dengan rakyat, jadi menurut mereka salah kalau dilabeli hedonis.

Hey, tapi tahu apa kita-kita ini kalau dibandingkan dengan Pak Hendropriyono? Selama ini mungkin kita hanya mengenal Pak Hendro sebagai sosok dengan pengalaman militer segudang. Tapi, sebenarnya beliau ini punya cukup dasar loh untuk bilang gitu.


Hedonisme ini kan salah satu bahasan yang masuk dalam dunia filsafat. Kata hedonisme ini berasal dari bahasa Yunani yaitu hedone yang berarti kesenangan. Hedonisme ini sering kali dikaitkan dengan ajaran bahwa kesenangan adalah tujuan akhir dari hidup manusia.

Mahasiswa kok protes dibilang hedonis? Click To Tweet

Nah, Pak Hendropriyono ini sendiri adalah seorang guru besar di intelijen dari Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN) dengan kekhususan filsafat intelijen. Tidak tanggung-tanggung, beliau ini adalah profesor intelijen pertama di dunia. Selain itu, beliau ini juga menulis buku berjudul Filsafat Intelijen Negara Republik Indonesia.

Dari dua hal itu aja terlihat kalau Pak Hendropriyono ini punya latar belakang dalam dunia filsafat. Soal hedonisme dan cabang-cabang lain dalam filsafat pasti bukan hal yang asing buat beliau.

Jadi ya, kita bisa apa kalau di hadapan penyandang gelar guru besar dengan kekhususan filsafat intelijen seperti Pak Hendro? Mau label apa aja yang diberikan oleh mantan Kepala BIN ini ya bebas-bebas aja, wong beliau ini profesor kok, filsafat lagi.

Ya pada akhirnya, mahasiswa atau siapapun memang harus banyak mengalah, kan tidak punya kuasa dan tidak punya gelar. Terima saja kalau diberi label dari yang lebih punya posisi.

Sedih sih, tapi mau bagaimana lagi, memang nasib jadi rakyat ya memang selalu dipandang rendah. Makanya, jadi profesor dong. (H33)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.