Sosok nasionalis dan berwibawa, berpadu dengan tokoh agamawan hangat dan moderat NU sebagai Presiden dan Wakil Presiden Indonesia 2019. Kombinasi ini barangkali belum bisa diimajinasikan oleh sebagian besar masyarakat kita. Namun demikian, bukan berarti Sri Sultan Hamengkubuwono X dan Cak Imin tak punya potensi memimpin Indonesia, bukan?


PinterPolitik.com

 

Gelaran Pemilihan Presiden (Pilpres) masih dua tahun lagi datang. Namun, tiap pihak, baik politisi dan pejabat, sudah memasang kuda-kuda dan ancang-ancang dari sekarang. Di antara nama yang berseliweran dan diprediksikan bersaing, belum ada yang berani menyebut Sri Sultan Hamengkubuwono X (HB X) dan Muhaimin Iskandar (Cak Imin) akan keluar sebagai Presiden RI dan Wakil Presiden 2019.

Tentu saja prediksi tersebut tak datang dari ruang hampa. Sri Sultan HB X, selain dikenal sebagai sosok tenang nan berwibawa, membawa banyak kemajuan dan pembaharuan di kota yang dipimpinnya, Yogyakarta. Ia menjadi satu-satunya tokoh dari Golongan Karya (Golkar) yang dipercaya untuk terlibat dalam Deklarasi Cianjur pada masa reformasi 1998. Jejak politik dan kehidupan personal yang ‘lurus’, merupakan sinyal jikalau penerima penghargaan People of The Year 2007 bidang politik ini, adalah sosok yang dapat dipercaya sekaligus diandalkan.

Sementara Cak Imin, berbeda dengan HB X, namanya sudah santer terdengar sebagai sosok yang digadang menjadi wakil Presiden 2019. Partai Kebangkian Bangsa (PKB), partai ia berasal, memberikan dukungan penuh kepadanya. Sebagai seorang politisi berhaluan agamais Nahdatul Ulama (NU), tentu keponakan Gus Dur ini bisa meredam ‘panas’ radikalisme yang perlahan menggeliat di Indonesia.

Bagaimana kedua tokoh ini dapat saling melengkapi posisi Presiden dan Wapres 2019 mendatang? Mari telisik latar belakang kedua lebih dalam.

Anak Pahlawan dan Pemimpin ‘Lurus’

Tak hanya Megawati Soekarnoputri yang memiliki ayah kandung pejuang negeri. HB X, juga merupakan anak dari seorang tokoh politik yang memainkan peran penting pada masa pasca kemerdekaan Indonesia. Namanya tak banyak dibahas dalam buku sejarah selain sebagai mantan Wakil Presiden RI pertama, namun menurut John Monfries, penulis A Prince in a Republic, Sri Sultan HB IX sangat berjasa menyelamatkan Indonesia dari masa gonjang-ganjing ekonomi negeri dan bersedia membuka pintu istananya untuk dijadikan pemeritahan Republik Indonesia. Monfries menambahkan jika HB IX juga menyumbangkan sebagian besar hartanya untuk menghidupi pemerintahan yang masih seumur bayi kala itu. Inilah yang membuat Soekarno menangis terharu saat menerima cek dari HB IX.

Kiri: Istri kelima HB IX, Raden Ayu Nindyokirono Kanan: Sri Sultan Hamengkubuwono IX (Foto: Istimewa)

Walaupun demikian, sosok inspiratif sang ayah tak lantas membuat HB X menjual namanya demi keuntungan pribadinya. Bergabung dengan Partai Golkar, yang saat ini dikenal sebagai sarangnya koruptor kelas kakap, tak menyeret HB X melakukan korupsi.

Partai Golkar sepeninggal Soeharto, layaknya kapal dengan multi kapten yang tak tahu arah. Tak jelas ideologi serta visi misi, alhasil hanya membutakan partai berhaluan nasionalis ini pada keuntungan dan kekuasaan. Dari sana, kadernya berkali-kali terjerat kasus korupsi babon, sebut saja Setya Novanto, Aburizal Bakrie, Akbar Tandjung, Paskah Suzzeta, dan lain-lain. Hal ini membuat sebuah label tak tertulis dari masyarakat, jika Golkar merupakan partai terkorup. Walaupun label itu sebetulnya tak hanya pantas disandingkan dengan Golkar saja. Dengan carut marut krisis kepemimipinan dalam tubuh Golkar, HB X tak tersentuh masalah korupsi dan memutuskan mundur pada tahun 2012 karena ketentuan Undang-Undang Keistimewaan Yogyakarta.

Selain itu, sosoknya kerap dianggap mewakili Jawa yang orisinil. Dirinya tenang, berwibawa, namun jauh dari kesan kaku dan konservatif. Ia bahkan dikenal dekat dengan kawula Ngayogya yang tinggal di Yogyakarta maupun di luar kota. Etnis Jawa menduduki populasi terbanyak di dalam negeri, dengan Jawa Timur dan Jawa Tengah dengan populasi terbanyak.

Layaknya peraturan tak tertulis, tujuh presiden RI mayoritas berasal dari etnis Jawa dan beragama Islam. Presiden BJ. Habibie, memang bukan berasal dari Jawa, namun Pare-Pare, Sulawesi Selatan. Namun demikian, etnis Jawa, bisa dikatakan, memainkan peran penting dalam gelaran pemilihan presiden karena populasinya yang banyak dan tersebar di hampir seluruh wilayah Indonesia. Walaupun tentu saja, warga dari etnis lain juga memiliki sumbangan tak sedikit pula.

Latar belakang berupa keluarga yang harmonis turut lekat dengan sosok Sri Sultan HB X. Berbeda dengan mayoritas pemimpin Jawa yang mendahuluinya, ia mantap tak berpoligami. Hingga hari ini, ia masih memiliki satu istri bernama Ratu Hemas. Beliau merasa dirinya tak mampu berlaku adil dalam berpoligami, “pengertian adil itu, kalau saya punya istri lebih dari satu, bukan sekedar istri A, saya beri 10 perak, si istri B juga diberikan 10 perak, tapi apakah dengan cara itu kedua istri saya sudah merasa diperlakukan adil sesuai dengan perasaan mereka?” ujarnya.

Cak Imin, Capres Moderat NU

Tak seperti Sri sultan HB X, Cak Imin sudah ‘dilemparkan’ oleh PKB sebagai wakil presiden 2019 sejak beberapa waktu lalu. Ketua Umum PKB ini merupakan politisi sekaligus tokoh NU termuda. Tak hanya PKB, organisasi kepemudaan berhaluan agamais, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Makassar juga mendukung Cak Imin, “Beliau (Muhaimin Iskandar) punya talenta kepemimpinan. Pernah menjadi Wakil Ketua DPR, menteri di era SBY (Susilo Bambang Yudhoyono), dan segudang prestasi. Jadi wajar kami mendukung dan mengusulkannya maju minimal kosong (cawapres),” tambah Azhar Asyad.

Sebagai partai berhaluan agamais, beberapa menyatakan hubungan PKB dengan Nahdatul Ulama (NU) sangatlah dekat. Hal ini diamini oleh Cak Imin sendiri, “Allhamdulillah, saya laporkan hubungan PKB dengan pengurus NU sangat kondusif dan sangat baik,” ujarnya.

Seperti yang sudah diketahui bersama pula, basis NU adalah salah satu yang terbanyak di Indonesia, dengan daerah Jawa Timur sebagai penyumbang terbesar pengikutnya. NU yang moderat dipandang ideal bila disandingkan dengan idealisme negara, Pancasila. Azyumardi, guru besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah menguatkan hal tersebut. “Meskipun ada lembaga-lembaga atau orang yang berusaha mengembangkan paham Wahabi, saya kira itu tidak menarik, dan bahkan ditolak oleh kaum Muslim secara terbuka atau diam,” jelasnya.

NU terbukti banyak melakukan aksi ‘memerangi’ gerakan Islam intoleran yang sedang banyak berkembang. Mulai dari mendirikan saluran TV9 hingga melahirkan organisasi massa Barisan Anshor (Banser) NU yang banyak membantu korban persekusi media sosial.

Banser NU (Foto: BBC Indonesia)

Selain sosok yang dipandang moderat dan memiliki kepemimpinan apik, Cak Imin sedikit banyak mewarisi kepiawaian guru besar NU, Abdurrahman Wahid, sebagai pamannya. Cak Imin, saat ini memang tokoh NU yang dipandang cakap memimpin di liga Pilpres 2019.

Agamais dan Nasionalis Bersatu

Sri Sultan HB X yang berasal dari Golkar sebagai partai Nasionalis dengan Cak Imin dari partai PKB yang agamais, adalah kombinasi apik sebagai Presiden dan Wakil Presiden 2019 mendatang. Sri Sultan HB X tentu mewarisi kecakapan dan pembaharuan yang dilakukan HB IX, ayahnya. Namun, berbeda dengan kebanyakan raja Jawa terdahulu, Sultan HB X, menolak berpoligami atas alasan mendahulukan perasaan pasangan dan sulitnya berlaku adil seperti yang digambarkan nabi.

Ia merupakan pengejawantahan sosok Jawa yang tenang, tak terburu-buru, berwibawa, namun tegas. Karena dekat dengan rakyatnya, ia dianugaerahi People of The Year di tahun 2007 di bidang politik. Selain itu, dirinya pun bersih dari korupsi dan segala permainan kotor politik hingga hari ini. Tentu saja hal ini menandakan dirinya bisa diandalkan dan dapat dipercaya.

Terlebih, dukungan dari etnis Jawa, yang menduduki populasi tertinggi di Indonesia, dipastikan banyak beradatangan kepadanya. Tak hanya di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur, suku Jawa juga tersebar di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Dengan demikian, dukungan tak hanya datang dan berpusat di Jawa Tengah dan Jawa Timur saja, tetapi juga dari Sabang hingga Merauke.

Ditambah lagi, dengan keberadaan Sri Sultan HB X, Partai Golkar tak lagi harus mengekor partai besar lain dalam mencalonkan capres. Dengan kata lain, Golkar tak perlu harus berkerumun dengan PDIP demi menggenapi angka 20% sesuai peraturan Presidential Threshold (PT). Dengan mencalonkan Sri Sultan HB X, sebagai kader Golkar yang dipercaya masyarakat, partai beringin ini tak perlu ikut mencalonkan Jokowi kembali.

Lagipula, bersama dengan PKB, partai Cak Imin berasal, Golkar bisa mendapatkan suara lebih dari 20% sesuai ketentuan PT. Pada 2014 lalu, Golkar dan PKB, masing-masing mendulang perolehan suara sebesar, 14,75% dan 9,04%. Jika Golkar dan PKB bersatu, mereka sudah mengantongi 23,79% di mana angka tersebut sudah melampaui nilai minimal PT 20%. Dengan demikian, tak ada alasan untuk kedua tokoh ini memasuki gelanggang Pilpres 2019 mendatang.

Sementara itu, Cak Imin sebagai tokoh PKB yang lekat dengan NU, merupakan pemimpin yang cakap dan memiliki pengalaman yang tinggi di politik. NU yang dinilai sebagai aliran Islam moderat, memiliki andil menjernihkan keadaan beragama negeri yang saat ini kerap ‘panas’ karena intoleransi. Cak Imin, di sisi lain, sebagai keponakan, digadang mewarisi kharisma dan intelektualitas dari mendiang Gus Dur.

Gus Dur (Foto: Istimewa)

Dengan demikian, perpaduan Sri Sultan HB X dengan Cak Imin, dari partai berhaluan Nasionalis dan Agamais, bisa menjadi sebuah jawaban dan alternatif dalam gelaran Pilpres 2019 mendatang. Menilik latar belakang dan rekam jejak keduanya, maka tak berlebihan jika Presiden dan Wakil Presiden RI 2019, adalah Sri Sultan HB X dan Cak Imin. (Berbagai Sumber/A27)