GNPF-U Larang Pilih Ulama?

GNPF U Larang Pilih Ulama
Yusuf Muhammad Martak. (Foto: Nasionalisme.co)
2 minute read

“Agama tidak membuat masyarakat menjadi fanatik. Orang menjadi fanatik dan menggunakan agama untuk membenarkan ideologi mereka sendiri.” ~Reza Aslan


PinterPolitik.com

Ijtima Ulama II telah dilangsungkan dan menemukan titik temu. Seperti yang telah diperkirakan sebelumnya, GNPF Ulama tetap mendukung Prabowo Subianto yang akhirnya berpasangan dengan Sandiaga Uno.

Paslon Prabowo-Sandiaga pun berencana akan meneken pakta integritas dalam Ijtima Ulama II. Lah, bukan ulama tapi kok dipilih? Tenang gaes, ganteng-ganteng gini, Bang Sandi itu seorang santri era post-islamisme, versi para pendukungnya. Jadi tetap islami. Cmiw.

Munculnya keputusan Ijtima Ulama diprediksi dapat memecah suara ulama di Pilpres 2019. Ada kelompok ulama yang mendukung Prabowo-Sandi, ada kelompok ulama yang mendukung Jokowi-Ma’ruf Amin. Yaa, beda suara sih nggak masalah, asal tetap menentramkan.

Tapi nih gaes, Ketua GNPF Ulama, Yusuf Muhammad Martak nampaknya kurang menyukai adanya perpecahan tersebut nih. Dia justru menyayangkan sikap kubu sebelah yang memilih cawapres dari kalangan ulama.

Ijtima Ulama atau Ijtima Pendukung Prabowo-Rizieq? Kok, nggak mau mendukung ulama? Hehe Click To Tweet

Hmm, bingung bukan? Yang awalnya bilang harus memilih ulama sebagai pemimpin siapa? Yang pertama menyodorkan beberapa ulama untuk mendampingi Prabowo siapa? Loh, sekarang kok melarang-larang ulama untuk menjadi cawapres pasangan lain?

Menurut Yusuf, setelah ada keputusan, maka masing-masing ulama bebas menentukan pilihannya. Namun, ia memprediksi suara ulama ke kubu Prabowo-Sandi akan lebih banyak.

Yusuf juga menjelaskan bagaimana Ijtima Ulama bisa menjadi kekuatan besar untuk menjamin kemenangan di 2019. Lagi-lagi ia bernostalgia tentang kemenangan Anies-Sandi di Pilkada 2017 yang saat itu melawa kubu petahana.

Ciee ciee, iya sih menang. Tapi kira-kira sekarang punya bahan propaganda apa ya? Mungkin nggak Jokowi bakal salah ngomong seperti yang dialami Ahok tempo hari? Kalau begitu, kubu Prabowo harus banyak-banyak berdoa, semoga sesekali lidah Jokowi keseleo sampai salah ngomong. Hehehe.

Hadeh, sungguh politik itu benar-benar menyeramkan ya gaes. Hati siapa pun bisa jadi bimbang karenanya, tak terkecuali para tokoh agama. Kemarin bilang A sekarang bisa bilang B. Ah, kalau begini, haruskah kita pandang mereka sebagai politisi saja? Abis, sikapnya penuh dengan kepentingan banget sih. Hehehe. (E36)