Generasi Optimis Timbun Grace Natalie

Foto : Istimewa
3 minute read

“Manusia dapat membuat yang mati jadi berbicara dan para ahli pun menyetujui sampai memberikan gelar dan ruangan khusus di rumah Sakit Jiwa.”


PinterPolitik.com

Daun telingaku menggeliat tanpa henti, kulit dahiku pun mengkerut ikut menyertai. Entah mengapa kemampuanku berbicara dengan benda mati mendadak hidup kembali.

Aku sangat yakin ini semua karena aliran nada itu! Ya, aliran nada yang berasal dari lubang-lubang speaker gadget temanku. Nada yang dipenuhi dengan kata-kata itu menari-nari dengan erotis bersama dengan gelombang frekuensi. Nada yang berintonasi bagai gemericik hujan di pagi hari masuk tanpa permisi ke dalam lubang telingaku. Tanpa izin, nada itu pun langsung mengelus kedua gendang telingaku.

Oh menyesal sekali rasanya pagi itu aku tidak menyempal gendang telingaku dengan earphone. Jika saja saat itu aku membawa earphone dan menggunakannya, dipastikan kemampuanku berbicara dengan benda mati dan nakalnya nalarku tidak kembali liar tergiring gombalan para politisi.

Apakah kalian tahu alunan nada erotis yang penuh dengan kata-kata seperti apa yang dapat mengugah potensi berbicaraku dengan benda mati? Jika kalian tidak tahu, mari sini kuberi tahu sepotong kata ironis yang dapat mebuat nalarku menjadi liar.

Berikut sepenggal kata-kata yang berhasil membangkitkan kemampuanku berbicara dengan benda mati. Harapanku kalian tidak tertular setelah membacanya:

“Kita adalah generasi optimis yang melihat orang atau negara lain sebagai kesempatan atau peluang untuk kerja sama, kolaborasi! Kita selalu berpikir gimana caranya fashion diterima di Paris, musik kita digandrungi di New York, dan animasi kita bisa diputar di bioskop dunia! Itulah perbedaan generasi optimis dengan  generasi sontoloyo dan genderuwo!”

Apakah setelah kalian membaca sepenggal kata-kata itu, kemampuan berbicara dengan benda mati sudah mulai hidup kembali?

Entah mengapa, kata-kata itu bereaksi sangat luar biasa dalam diriku ini. Apakah karena aku terlalu benci dengan narasi yang hanya sekedar narasi? Kosong, hampa, memang luarnya nampak berwarna, tapi setelah kupahami, realitanya itu hanya monokrom, hitam dan putih wujudnya.

Mengapa aku terlalu pesimis saat mendengar rangkaian kata yang sebenarnya bisa menggugah jiwa? Apakah ini semua karena aku bagian dari kelompok sontoloyo dan genderuwo? Atau aku terlalu terpengaruh dengan jawaban cangkir yang kuajak bicara setelah nada gadget itu berusaha mengubah logika?

Memang setelah kumendengar nada yang penuh dengan kata-kata itu, diriku langsung mengajak cangkir bercengkrama. Begini dialognya:

Aku: “Hai cangkir, kemampuanku kembali! Apa sih sebenarnya yang aku dengar tadi?”

Cangkir: “Masa sih kamu tidak tahu? Narasi itu mengatakan secara tidak langsung seperti ini: Gabunglah bersama kami! Bersama partai optimis yang pragmatis, penuh dengan dongeng gerakan progresif! Ayo imankan dalam batinmu untuk berhimpun dan dukung barisan Borjuis!”

Aku: “Wah, lantas bagaimana seharusnya sikapku ini cangkir?”

Cangkir: “Tidak usah banyak bersikap karena kebenaran akan mencari jalan pulangnya sendiri! Bau busuk bangkai pasti akan tercium nanti.”

Aku: “Terima kasih cangkir, aku akan duduk dan melihat sampai akhir para elite politik basa basi seperti ini! Dan di luar itu akan tetap kupersiapkan gerakan alternatif yang nantinya akan menyelisik. Karena mereka-mereka yang berbicara itu sepertinya hanya menjual wajahnya biar bisa dipilih. Aslinya sama saja.” (G35)