Gaya ‘Romusha’ PDIP di Pilkada

Gaya ‘Romusha’ PDIP di Pilkada
Istimewa
2 minute read

“Saya ingin mengucapkan selamat bekerja, dan terus tidak ada rasa capek. Saya bilang bekerjalah sampai pingsan, tiada waktu istirahat.” ~ Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri.


PinterPolitik.com

Sebagai organisasi politik yang besar, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) memiliki beragam strategi untuk dapat memenangkan kontestasi Pilkada serentak 2018. Tapi sepertinya Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri tampak ambisius dengan menargetkan kemenangan 50 persen di 171 wilayah seluruh Indonesia. Tsadeest.

Kalau mau jadi partai besar ya harus memiliki obsesi besar juga dung. Masa sekaliber partai banteng bermoncong putih ini cuma berani menargetkan perolehan kemenangan yang kecil sih. Itu mah pesimistis namanya. Gak ada lah ya, kamusnya Bu Mega kayak gitu. Pokoke kerja keras meraih suara terbanyak.

Nah masalahnya nih, demi ambisi ini para kader PDIP diminta turun gunung mewujudkan kemenangan 50 persen tersebut. Kalau perlu, gak ada hari istirahat bagi mereka, gak boleh capek dan gak boleh mengeluh. Karena PDIP bukan tempatnya untuk kader yang mencla-mencle. Kalau perlu kerja sampe pingsan.

Ya ampun, tega amat ya kader disuruh kerja rodi gitu. Ambisi sih boleh aja ya. Tapi gak gitu juga keles. Apa bedanya ini sama Romusha zaman penjajahan Jepang dulu? Tega amat sih, Bu Mega sama kadernya. Tapi kadang emang harus gini sih kalau mau menang Pilkada. Toh partai lain juga pasti gak mau kalah.

Baca juga :  Mama Sakiti Hati Kader Banteng

Tapi bukan berarti demi mengejar target kemenangan dalam Pilkada, lantas menghalalkan segala macam cara termasuk korupsi. Itu juga gak boleh. Auto dosa itu mah. Emangnya mau tercyduk Operasi Tangkap Tangan dari Komisi Pemberantasan Korupsi. Nah bisa berabe tuh nanti.

Belajar deh dari kasus OTT Bupati Bandung Barat yang kena OTT KPK karena diduga korupsi. Si oknum itu korupsi untuk mencari dana dengan meminta uang ke sejumlah kepala dinas, demi kepentingan pencalonan istrinya yang akan maju sebagai calon bupati Bandung Barat periode 2018-2023 menggantikan dirinya.

Kalau prinsipnya pokoke menang Pilkada, ya bisa aja kayak gini konsekuensi logisnya. Memangnya mau, kader PDIP semuanya masuk hotel prodeo? Alih-alih menguasai 50 persen kemenangan Pilkada serentak 2018, bisa-bisa kader PDIP malah abis semua tercyduk KPK. Bisa amsyong tuh. (K16)

Share On