Gatot Jadi Ketum PAN?

Gatot Jadi Ketum PAN?
Mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo dan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan (Foto: MPR RI)
6 minute read

Di tengah isu pergantian Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN), muncul nama mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo yang mencuat sebagai salah satu calon untuk posisi tersebut. Isu ini sepertinya muncul karena sejak menjadi panglima, Gatot sendiri memang sudah meiliki arah untuk terjun ke dunia politik. 


PinterPolitik.com

Sejauh ini belum ada respon penolakan dari internal PAN mengenai masuknya nama Gatot dalam bursa ketum. Wakil Sekretaris Jenderal  PAN, Faldo Maldini juga mengatakan bahwa partainya santai-santai saja dengan masuknya Gatot dalam bursa calon ketum.

Kader PAN sendiri mengatakan bahwa mereka tidak melihat sosok sang calon ketum, tapi lebih kepada apakah sang calon memenuhi tiga kriteria, yaitu kebangsaan, pengetahuan, dan pengalaman.

Lalu, seperti apa prospek Gatot untuk menjadi Ketum PAN yang kelima?

Kuat-Lemah Sang Jenderal

Berdasarkan tulisannya yang berjudul Defining Political Capital, Kimberly L. Casey menjelaskan bahwa untuk melakukan tindakan dan mencapai tujuan politik, seseorang membutuhkan apa yang disebut sebagai modal politik.


Modal politik ini, lanjut Casey, terdiri dari empat bentuk, yaitu modal ekonomi, kultur, sosial, dan simbolis.

Lalu, modal politik seperti apa yang dimiliki oleh seorang Gatot Nurmantyo?

Secara garis besar, modal politik yang dimiliki oleh Gatot berasal dari karir dan statusnya sebagai mantan Panglima TNI.

Mengenai modal kultural, bagi sebuah parpol purnawirawan TNI dilihat sebagai sosok yang memiliki kemampuan dan karakter unik yang dapat digunakan untuk meraih suara ataupun mengatur organisasi partai.

Hal ini juga diungkapkan oleh peneliti politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Muhamad Haripin.

Menurut Haripin, purnawirawan TNI memiliki kemampuan untuk mendekati atau memobilisasi massa, memiliki disiplin tinggi, serta kemampuan berorganisasi yang baik.

Menurut Arie S. Soesilo, peneliti Sosiologi Universitas Indonesia, jabatan yang pernah diemban seorang purnawirawan menjadi jalur bagi purnawirawan tersebut untuk berhubungan secara intensif dengan berbagai aktor pemegang kekuasaan sewaktu ia berdinas.

Hubungan atau relasi ini akan semakin meningkat sesuai dengan semakin tingginya pangkat ataupun jabatan sang purnawirawan.  

Selama menduduki kursi Panglima TNI, Gatot tentunya banyak melakukan pertemuan dengan berbagai tokoh politik, masyarakat, ataupun bisnis di level pusat hingga daerah.

Gatot juga dinilai memiliki relasi kuat dengan kelompok Islam, di mana ia beberapa kali bertemu dengan tokoh-tokoh Islam, salah satunya para tokoh di balik Aksi 212.

Relasi inilah yang menjadi sumber modal sosial Gatot. Dengan relasi yang ada, Gatot ataupun PAN dapat memanfaatkannya untuk memperluas jaringan demi mengejar tujuan-tujuan politik.

Berlanjut ke modal selanjutnya, yaitu modal simbolis. Modal ini berbicara mengenai citra atau kehormatan yang membuat seseorang dilihat sebagai orang yang terlegitimasi atau “benar”.

Modal simbolis yang dimiliki Gatot berasal dari popularitas mantan institusinya. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Charta Politika, TNI adalah lembaga yang paling dipercayai oleh publik Indonesia.

Oleh sebab itu, dengan memiliki Gatot yang merupakan mantan pimpinan lembaga yang paling dipercaya masyarakat di dalam organisasinya, PAN dapat menggunakan popularitas TNI dan Gatot untuk menarik suara pemilih dan menjadikan Gatot sebagai “legitimasi” kegiatan politik partai.

Terakhir adalah modal ekonomi. Modal satu ini mungkin yang menjadi kelemahan atau mungkin belum terlihat dari sosok Gatot.

Modal ekonomi menjadi penting karena di Indonesia parpol membutuhkan dana operasional yang besar.

Untuk PAN sendiri misalnya, pada tahun 2010 membutuhkan anggaran operasional tahunan sebesar Rp 50 miliar sampai Rp 75 miliar. Jumlah yang kekinian memang dipastikan lebih besar, namun sulit diperoleh angka pastinya karena umumnya partai politik di Indonesia jarang mempublikasikan laporan keuangan tahunannya.

Terakhir ketika akan dilantik sebagai panglima, diketahui bahwa Gatot memiliki jumlah kekayaan sebesar Rp 7,2 miliar.

Ya, dana operasional partai memang tidak harus datang sendiri dari kantong seorang ketum, melainkan masih ada cara lain, salah satunya dengan mendekati barisan pengusaha.

Gatot sendiri memiliki kedekatan dengan beberapa pengusaha besar, salah satunya adalah Tomy Winata, hal yang pernah diakuinya secara terbuka.

Dalam bursa Ketua Umum PAN, modal ekonomi memang menjadi penting karena masih terbukanya kemungkinan partai tersebut untuk menjadi oposisi.

Potensi semakin sulitnya kemampuan finansial PAN juga dapat muncul dari sikap Sutrisno Bachir, pengusaha sekaligus mantan Ketum PAN.

Berbeda dengan PAN, pada pilpres lalu Sutrisno secara tebuka mendukung Jokowi-Ma’ruf Amin. Oleh karena itu, bisa saja untuk tahun-tahun ke depan Sutrisno mengurangi sumbangsihnya terhadap kebutuhan finansial PAN, katakanlah jika partai tersebut memutuskan untuk menjadi oposisi.

Sejarah Masa Lalu dan Persaingan

Sejauh ini belum ada komentar langsung dari Gatot mengenai isu pencalonannya sebagai calon Ketum PAN. Namun, jika melihat track record Gatot, rasanya cukup jelas bahwa pria kelahiran Tegal ini memiliki ketertarikan terhadap dunia politik.

Selama menjadi Panglima TNI, Gatot membuat banyak pernyataan kontroversial yang dilihat sebagai sesuatu yang negatif oleh sebagian pihak, namun bisa pula dianggap cenderung politis.

Beberapa kontroversi yang ditimbulkan Gatot misalnya terkait instruksinya kepada seluruh Kodim untuk menayangkan film G 30S/PKI, pelibatan TNI dalam penanganan terorisme, hingga pernyataannya yang mengancam akan menyerbu Polri.

Kontroversi ini membuat beberapa pihak menilai Gatot memiliki agenda politik pribadi yang seharusnya tidak ia jalankan ketika masih menjabat sebagai TNI aktif, apalagi sebagai panglima.

Agenda politik ini juga yang nampaknya menjadi alasan Jokowi pada akhir 2017 menggantinya dengan Marsekal Hadi Tjahjanto, meskipun Gatot kala itu belum memasuki umur pensiun.

Manuver politik ini terus berlanjut ketika ia sudah keluar dari TNI.

Pada tahun 2018 misalnya, Gatot pernah secara optimis mengatakan bahwa dirinya akan mengikuti Pilpres 2019.

Ia juga masuk dalam daftar tokoh yang berpeluang menjadi cawapres Jokowi dan dukungannya juga diperebutkan suaranya oleh partai pendukung Jokowi-Ma’ruf Amin dan Prabowo-Sandiaga Uno.

Dalam beberapa kesempatan Gatot juga secara terbuka mengkritik kebijakan pemerintah, khususnya mengenai kondisi pertahanan dan TNI.

Gatot pernah menyalahkan pemerintah atas anggaran pertahanan yang menurutnya sangat minim. Ia juga membanding-bandingkan anggaran pertahanan dengan anggaran institusi lain, termasuk Polri. 

Kritik ini kemudian dibantah secara tegas oleh Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu yang mengatakan bahwa justru anggaran pertahanan selalu ditambah oleh pemerintah.

Dengan sikap Gatot yang sering berseberangan dengan pemerintah, bisa jadi jika ia terpilih menjadi Ketum PAN, partai tersebut akan benar-benar menjadi oposisi untuk 2019-2024.

Ganjalan terbesar Gatot akan nerasal dari dua nama lain yang juga disebut-sebut masuk kedalam bursa ketum, yaitu Anies Baswedan dan Sandiaga Uno.

Baik Anies dan Sandi nampanya memiliki modal politik yang lebih besar, terutama dalam hal modal ekonomi dan popularitas.

Keduanya terus aktif dan muncul di berbagai pemberitaan dibanding Gatot yang beberapa bulan ke belakang, bisa dibilang menghilang dari radar wartawan.

Khusus untuk modal ekonomi, Sandi sepertinya akan menjadi calon terkuat di antara ketiganya.

Sandi memang diakui sebagai pebisnis sukses dan menduduki posisi ke-85 sebagai orang terkaya di Indonesia dengan total kekayaan sebesar Rp 4,3 triliun.

Hambatan lain yang mungkin dihadapi Gatot adalah kebiasaan PAN yang – dibanding partai lain seperti Gerindra, Golkar, dan PDIP – hampir tidak pernah memiliki purnawirawan TNI di posisi strategis.

Sepanjang sejarah partai hanya ada satu orang purnawirawan TNI yang pernah memegang posisi strategis, yaitu mantan Pangdam Jaya dan Wakil Irjen Mabes TNI Slamet Kirbiantoro yang masuk dalam DPP PAN periode 2005-2010.

Peluang Gatot belum benar-benar tertutup. Jika dirinya memang ingin maju dalam bursa Ketum PAN, Gatot masih punya waktu, mengingat Kongres PAN baru akan diadakan tahun depan.

Kita lihat saja apakah dengan waktu yang tersisa sang jenderal dapat meningkatkan modal politiknya untuk benar-benar bangkit, atau jangan-jangan harus kembali menerima kekalahan seperti dalam Pilpres 2019. (F51)

Mau tulisanmu terbit di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.