FPI Percaya Ba’asyir?

pembebasan abu bakar baasyir
Abu Bakar Ba'asyir. (Foto: Tirto)
2 minute read

“Fanatisme dan terorisme tidak mendapat tempat dalam Islam.” ~Feisal Abdul Rauf


PinterPolitik.com

Keputusan pembebasan Abu Bakar Ba’asyir masih tarik-ulur hingga saat ini. Ya, nasibnya persis seperti hubungan aku dan kamu, tak jelas bagaimana ujungnya. Hufffttt…

Ehh, tapi kali ini eik lagi nggak mau bergalau-galau ria, biar Presiden Joko Widodo aja, galau menentukan arah kepentingan politiknya. Hiya, hiya, hiya.

Kalau dipikir-pikir, presiden kita ini memang suka aneh bin ajaib dalam menentukan keputusan. Kemarin bilang A, sekang bilang B. Sekarang setuju, besok belum tentu. Welehhh, begini amat sih Pakde.

Sekarang soal pembebasan Ba’asyir, pengacara TKN Jokowi-Ma’ruf Amin, Yusril Ihza Mahendra pernah bilang, kalau Ba’asyir tuh sebenarnya bisa saja bebas tanpa syarat. Namun, Jokowi tiba-tiba mengatakan, kalau Ba’asyir harus bebas dengan syarat berikrar setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sayangnya, Ba’asyir menolak. Pokoknya negara berideologi Islam udah yang paling bener menurutnya.


Gara-gara Jokowi bilang Ba’asyir harus berikrar dulu, perkembangan pembebasan bersyarat Ba’asyir menjadi abu-abu. Sedangkan Menkopolhukam Wiranto mengatakan kalau hingga kini pemerintah yang berkepentingan masih mengkaji ulang keputusan hukum untuk Ba’asyir. Masih dirembukkan.

Hukum nggak bisa dilandaskan dengan kepercayaan, tapi keadilan.... Click To Tweet

Sekretaris Umum DPP Front Pembela Islam (FPI) Munarman angkat bicara soal pembebasan Ba’asyir. Menurutnya, kalau pengajuan syarat pengucapan ikrar itu merupakan bentuk kalau pemerintah nggak percaya sama rakyatnya sendiri. Ba’asyir itu kan warga negara Indonesia juga.

Moon maap nih, mungkin pemerintah bukannya nggak percaya, hanya berhati-hati. Keinginan membebaskan sih pasti mau, apalagi bentar lagi pilpres kan ya, lumayan untuk mengambil peluang dapat suara dari umat Islam golongan Bang Munarman, pecinta ulama garis keras. Edededeh…

Tapi kalau Bang Munarman bilang, harusnya para elite penjual aset bangsa yang melakukan ikrar kesetiaan pada NKRI, eik setuju tuh.

Bener juga. Orang-orang macam itu juga perlu dipertanyakan kesetiaannya pada nusa dan bangsa ya. Ehh, tapi Ba’asyir juga harus. Kalau nggak gitu, nanti pengikutnya tetap beringasan menjadi teroris gimana? Bukankah hal tersebut juga nggak kalah menakutkan?

Terus yang harus Bang Munarman maklumi, ikrar setia pada NKRI untuk Ba’asyir itu bukan karena doi warga negara yang sedang melalui proses naturalisasi. Kayak pemain bola aja. Ba’asyir itu bukan hanya ulama, bukan cuma WNI, tapi juga teroris. Teroris! Please deh… (E36)