Fatamorgana Kebersamaan Gerindra-PDIP

Fatamorgana Kebersamaan Gerindra-PDIP
(Foto: Biro Setpres)
3 minute read

“Syukur Alhamdulillah sudah ada tiket kesepakatan. Tergantung pak Jokowi juga memilih siapa. Jangan-jangan kami nanti dengan PDIP, bisa juga loh.” ~ Ketua DPP Gerindra, Desmond J Mahesa.


PinterPolitik.com

Agan sekalian pada gemes gak sih sama sikap Prabowo Subianto yang gak kunjung mendeklarasikan diri sebagai Capres dari Partai Gerindra? Konon kabarnya, deklarasi ini akan terus diulur hingga bulan Agustus loh. Wadezig, ini namanya Prabowo lagi kena sindrom 6-G (Gamang, Galau, Gusar, Gundah, Gulana, Gelisah). Kayak milenial aja sih suka gitu, wedew.

Tapi kegundahan itu bukan tanpa alasan loh ya. Politisi pasti punya pertimbangan tersendiri untuk itu. Toh masih ada waktu sebelum pendaftaran Capres dan Cawapres di tutup. Dan rasanya pertimbangan realistisnya itu, di mana Prabowo masih bisa maju pada Pemilu 2019 mendatang. Ntah itu sebagai Capres atau Cawapres. Kelamaan keles geraknya.

Kalau tetap memaksakan maju sebagai Capres dan hanya berujung potensi kekalahan, mmm, rugi bandar itu mah. Jadi pertimbangan sebagai Cawapres menjadi kian menarik bagi Prabowo. Tentunya Cawapres yang dimaksud di sini adalah Cawapresnya Presiden Petahana Jokowi. Karena sejauh ini, beliau masih di atas angin tingkat elektabilitasnya.

Tapi apa keputusan ini dikarenakan adanya kabar kalau Prabowo ditawari mahar Rp 15 triliun oleh seorang pengusaha yang -isunya- diutus oleh Istana? Mahar ini, konon, merupakan upaya menjegal secara halus keinginan Prabowo agar tidak maju nyapres dan agarbersedia menjadi Cawapres Jokowi pada Pilpres 2019.


Tapi ya namanya juga baru isu, gak usah ditanggapin terlalu serius lah ya. Anggep aja angin lalu, sabodo teuing lah, hahaha. Tapi kalau koalisi ini benar-benar terjadi, mmm, artinya ini seperti mengulang nostalgia romantisme PDI-P dan Gerindra pada Pilpres 2009 silam dong. Cie Cie deketan lagi nih, Prikitiew!

Di luar isu tersebut, ada dugaan keinginan Gerindra merapat ke PDI-P berkenaan dengan posisi Prabowo yang kian terdesak oleh Gatot Nurmantyo yang semakin militan mempromosikan diri ke partai-partai sebagai Capres potensial. Udah deh, gercep aja kenapa sih, kalau ditikung duluan bisa nangis termehek-mehek loh nanti, buahahaha.

Andai kata hanya melawan Jokowi, maka kontestasi ini akan lebih mudah lah ya. Tinggal fight 100 persen aja buat menang, ya mirip Pilpres 2014 silam. Nah, berhubung ada Gatot dan potensi kelahiran Poros Ketiga, persaingan akan berat. Apalagi kalau justru Jokowi meminang Gatot sebagai Cawapres.

Dari internal Partai Gerindra sendiri, gak setuju loh kalau partai ini merapat ke Jokowi, walau ada juga ada yang pro. Misalnya aja Ketua DPP Gerindra Desmond J Mahesa yang menyatakan terbukanya kemungkinan tersebut. Tapi di sisi lain, Wakil Ketua Umum DPP Gerindra Ferry Juliantono malah mengatakan sebaliknya. Jiah, ini partai plintat-plintut amat sih. (K16)