Fahri Paksa Penguasa ‘Pensiun’

Fahri Paksa Penguasa ‘Pensiun’
Fahri Hamzah. (Detik.com)
2 minute read

“Pemerintah jangan takut diganti. Jadi rakyat biasa enak juga kok. Sambutlah masa pensiun dari politik dengan sukacita.” ~ kicau Fahri Hamzah


PinterPolitik.com

Belakangan ini, seantero negeri sedang ramai – ramainya membicarakan tentang siapa pemimpin negeri selanjutnya.

Namun, hal ini diwarnai dengan tontoan adu drama antara yang mendukung atau menolak penguasa untuk mencalonkan kembali.

Tapi model tontonan ini ternyata cukup kreatif, karena pertarungannya itu bukan tentang gaung Revolusi Mental atau Indonesia Bubar 2030, tapi hanya diakibatkan oleh tagar.

Satu tagar, bikin seantero negeri ramai, ehmmm, ternyata berpengaruh juga ya, weleeeh weleeeh. Tentunya ramainya itu ada yang mencibir, ada juga yang terus mengkampanyekan tagar itu.

Makanya, istilahnya kini sedang ramai perang tagar diantara pihak yang berlawanan, hadeuuuhh, awalnya muncul #2019GantiPresiden yang diperdebatkan apakah melanggar konstitusi atau tidak.

Weiiiittsss, ternyata #2019GantiPresiden sah dan konstitusional. Akhirnya, mau tak mau pihak lawannya mengeluarkan tagar tandingan #2019TetapJokowi dan #DiaSibukKerja, uhuuyyy, ramai juga ya.

Lumayan kreatiflah untuk kedua belah pihak ini untuk membuat manajemen wacana publiknya, ehmmm, tapi wacana ini untungnya tak mengandung SARA atau politik identitas, jadi masih aman untuk dipakai masyarakat awam sekalipun.

Tapi kalau mau melihat kesuksesan agenda setting tagar itu, Fahri Hamzah coba mengupas bagaimana kekuatan tagar itu.

Baca juga :  Fahri Jago ‘Komat - Kamit’

Kalau kata Fahri, tagar #2019GantiPresiden itu sukses karena penguasa kebakaran jenggot takut diganti. Buktinya apa?

Lah buktinya, muncul tagar tandingan, weleeeh weleeeh, blunder niyeee. Makanya, Fahri dengan gaya nyinyirnya mengatakan lebih baik penguasa sekarang ini menjadi rakyat aja, karena enak juga kok jadi rakyat, bebas tanpa beban, uhuuyyyy.

Weeiittss, jangan lupa, Fahri juga mengupas makna dari tagar #2019GantiPresiden, yang artinya penguasa harus menyambut dengan suka cita masa akhir periodenya yang langsung diiringi dengan pensiun politik.

Nah loh, kalau sudah begini berarti makna lain dari tagar #2019GantiPresiden itu artinya menyuruh penguasa untuk pensiun? Weleeh weleeh.

Hmm, makanya denger kata filantropis dari Amerika Serikat, Bernard Baruch yang mengatakan kalau jangan sesekali menjawab kritik, kecuali memang kritik itu benar.

Kalau ada tagar tandingan dan malah blunder, artinya pihak lawan mengamini #2019GantiPresiden dong? Weleeeh weleeeh. (Z19)

Share On