Fadli: Demo Mahasiswa, Media Kemana?

fadli zon
Fadli Zon. (Foto: Radar Kontra)
2 minute read

“Namanya juga mahasiswa, ada saja akalnya.” ~Ninna Rosmina


PinterPolitik.com

Baru-baru ini aku dibikin tergelitik dengan perkataan Pramoedya Ananta Toer yang tertuang di bukunya yang berjudul ‘Rumah Kaca’. Pramoedya bilang, berbahagialah para mahasiswa bebal, karena kalian dibenarkan berbuat segala-galanya.

Hmm, kalian mungkin sering mendengar umpatan tentang mahasiswa masa kini. Mereka yang berdemo mengatasnamakan suara rakyat di jalan-jalan besar dan gedung-gedung pemerintahan, tapi malah dihujat rakyat.

Kalau jadi si pendemo aku pasti sedih. Wong udah dibela-belain malah menghujat. Eh, tapi selain itu aku jadi bertanya-tanya, kalau perlakuan rakyat seperti itu, sebenarnya yang mereka sampaikan ini beneran suara rakyat bukan? Kok kalau ada yang demo rakyat bukannya mendukung, malah sibuk mengeluh soal kemacetan. Jangan-jangan yang paling bikin rakyat resah bukan harga pangan, melainkan jalanan yang macet, eh ditambah ada demo, makin kesal deh. Ckckck.

Sekarang ini kenapa ya, demo mahasiswa serasa kurang gereget. Beda dengan zaman dulu yang konon bisa bikin gemetar. Sebagian masyarakat juga dirasa kurang menghargai keberanian mahasiswa dalam menyampaikan aspirasi.

Dengan kondisi negara yang seperti ini, mahasiswa masih perlu turun ke bawah untuk menyampaikan aspirasi nggak sih? Click To Tweet

Senin, 29 Oktober 2018 lalu, Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Seluruh Indonesia (SI) menggelar demonstrasi dengan menyampaikan 11 tuntutan terkait empat tahun pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Banyak yaaa.. Tapi kok nggak heboh?

Padahal, aliansi yang menilai Jokowi-JK gagal dalam merealisasikan janji-janji kampanyenya itu beranggotakan BEM dari 200 universitas loh. Buanyaaakkk, melimpah. Tapi yang di tv kebanyakan berita soal Lion Air. Apa nggak semenarik itu? Setidaknya hal tersebut juga terpikir di kepala Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon. Kira-kira kenapa tuh?

Di akun Twitter pribadi miliknya, Fadli berspekulasi, mungkin sebagian besar pers/ media mainstream sudah jadi pers/ media partisan yang berpihak pada petahana. Menurut dia, hanya sedikit media yang masih berperan sebagai pilar demokrasi.

Menurut Fadli, sekarang pers menjadi alat penguasa atau pengusaha pers. Jadi menurutnya, perlu citizen journalism untuk mengganti peran pers/ media yang telah terbeli. Bagaimana nih menurut kalian?

Ya, kalau aku sih cuma punya satu pesan untuk para mahasiswa brondong-brondongku tercinta. Mengkritisi pemerintah boleh aja, tapi semoga lantangnya orasi kalian, berbanding lurus dengan IPK ya. Belajar yang benar. Biar setelah lulus bisa memimpin negara lebih baik lagi. (E36)