Erick Minta Politisi Contoh Dirinya

Erick Minta Politisi Contoh Dirinya
Foto : Istimewa
2 minute read

“Contohilah apa yang telah dilakukan para Nabi, bukan malah mencontoh manusia yang berlagak sok suci.”


PinterPolitik.com

Banyaknya janji-janji yang disampaikan capres dan cawapres serta juru kampanyenya menjadi perhatian Erick Thohir, Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin. Ia minta agar janji kampanye tidak terus menerus menyesatkan rakyat.

Bagi Erick saat ini banyak kampanye yang mengeluarkan janji-janji. Ini dinaikan, ini gratis. Sementara itu di lain pihak banyak kritik tentang utang negara, pendapatan negara, dan lain sebagainya. Erick yang mengaku bukan ahlinya bicara ekonomi, meminta para pengusul yang berkampanye itu coba berhitung dulu secara matematika.

Menurut Erick, mereka yang berkampanye pada Pilpres jangan sampai apa yang dijanjikan menyesatkan rakyat. Kasihan jika rakyat dijanjikan sesuatu, ternyata tidak bisa memberikan realisasi janji tersebut. Itu akan mengecewakan rakyat.Weleh-weleh.

Bener juga nih kata Erick, ayo dong para rakyat. Sadarlah kalau selama ini kita semua sedang dibohongi sama para elite politik yang ternyata kerjaannya ngintrik dan menebar janji basi! Tuh lihat Erick, meskipun ada di pucuk tim pemenangan Jokowi, dirinya tetap jujur kalau Jokowi juga sama aja kayak yang lainnya. Kerjaannya janji dan ngintrik. Uppss, eyke ngomong gini bener apa salah ya? Ahahaha.

Erick juga mengimbau para pimpinan untuk bijak. Seperti dirinya yang sehari lalu  bertemu dengan para pengusaha muda di Palembang, tidak menjanjikan apa-apa kepada mereka. Doi hanya mengharapkan semua yang hadir ini menjadi kreator, bukan konsumer. Anjay! Mantap, ini baru presiden kita! Loh, maaf gengs keceplosan. Jadi ketahuan kan, eyke ngefans sama Erick, bukan sama Jokowi. Ahahaha.

Pada akhirnya, Ketua TKN Jokowi-Ma’ruf Amin ini juga meminta para pemimpin untuk berhitung dengan bijak. Baginya, jangan sampai apa yang terjadi di Venezuela, terjadi juga di Indonesia. Di sana para politikus menjanjikan sesuatu, namun negaranya tidak kuat menanggung beban janji itu. Menurut Erick, lebih baik, kita memberikan yang terbaik untuk rakyat sesuai dengan kemampuan yang ada pada kekuatan negara kita. Weleh-weleh.

Kalau seperti ini terus, gimana ya masa depan negara kita? Apa mungkin kita dan anak cucu kita di setiap lima tahunnya hanya bisa menerima janji-janji manis yang nyatanya rasanya itu pahit? Huft! (G35)