Duka dari Kampung Melayu

    (Foto: BBC Indonesia)
    4 minute read

    Kepolisian menyebutkan serangan bom ini adalah bagian dari aksi terorisme global yang sedang terjadi di berbagai lokasi di dunia.


    PinterPolitik.com 

    Dua ledakan besar bom terjadi pada Rabu (22/5) di Terminal Kampung Melayu pada pukul 21.00 WIB kemarin. Berdasarkan serpihan yang ditemukan di lokasi kejadian, bom ini diduga menggunakan bom panci, “Serpihan ini hampir sama dengan yang (ditemukan) di Bandung, jadi ini bom panci,” kata Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jendral Setyo Wasisto.

    Bom tersebut menelan korban tewas sebanyak lima orang. Dua orang tewas diduga sebagai pelaku, sedangkan tiga orang polisi gugur. Titik ledakan sendiri belum dijelaskan secara rinci lantaran olah TKP masih terus dilakukan hingga saat ini. Namun Setyo menyebutkan titik ledakan salah satunya berada di antara sebuah toilet dan lokasi parkir motor di terminal Kampung Melayu.

    Kaca pecah akibat ledakan (Foto: Istimewa)

    Selain mengadakan olah TKP, polisi juga meneliti rekaman kamera pengawas CCTV dari halte bus Transjakarta Kampung Melayu untuk mengetahui kronologi peristiwa ledakan bom dan mencari identitas pelaku bom bunuh diri. “CCTV dari halte bus sudah kita ambil dan akan diperiksa, selain itu dalam olah TKP, kita juga menemukan beberapa gotri, paku yang terpecah-pecah dalam beberapa potongan, alumunium,” jelas Martinus Sitompul, juru bicara Mabes Polri.

    Ia juga menjelaskan bila bom rakitan tersebut memiliki daya ledak rendah, dengan rentang waktu antar ledakan sekitar lima menit. “Ada dua ledakan, di halte dan toilet yang berjarak sekitar 5-12 meter,” tambahnya.

    Menjaga Aksi Pawai Obor

    Tiga polisi yang tewas dalam kejadian, yakni almarhum Bripda Taufan Tsunami, Bripda Ridho Setiawan, dan Bripda Imam Gilang Adinata dari Sabhara Polda Metro Jaya tengah berjaga di Kawasan Kampung Melayu. Saat itu, ketiga almarhum, beserta rekan-rekan polisi lainnya sedang mengamankan acara masyarakat Pawai Obor.

    Pawai Obor itu sendiri, merupakan acara yang dilakukan sekelompok masyakarat untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.

    Bom Kampung Melayu
    Polisi berjaga (Foto: BBC Indonesia)

    Presiden Jokowi juga telah menyampaikan rasa duka cita mendalam bagi para korban dan mengutuk pelaku pengeboman, “ini sudah keterlaluan! Korban ada yang tukang ojek, sopir angkot, pedagang kelontong serta polisi” ungkapnya. Presiden juga mengimbau seluruh masyarakat tetap tenang dan polisi tetap menjalankan tugas. Ia meminta bangsa Indonesia tetap menjaga persatuan dan ketenangan menjelang Ramadhan. “Karena hari-hari ini, kita umat muslim, sedang mempersiapkan diri untuk masuk ke bulan Ramadhan untuk menjalankan ibadah puasa,” ujarnya.

    Bagian Dari Aksi Terorisme Global

    Kepolisian menyebut serangan bom di Kampung Melayu adalah bagian dari aksi terorisme global yang sedang terjadi di berbagai lokasi di dunia. “Ada serangan di Manchester, Inggris, saat konser Ariana Grande. Kita juga mendengar di negara tetangga kita, Filipina, ISIS menyerang kota Marawi. Menurut saya, ini adalah bagian dari serangan global,” ungkap Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto.

    Setyo mengaku pihaknya sudah menduga akan terjadi serangan di Indonesia, tetapi ia tidak tahu kapan serangan dilancarkan. Ia menegaskan pula Polri ‘tidak kecolongan’ dalam mencegah aksi teror ini.

    Pengamat terorisme yang juga seorang Direktur Eksekutif Yayasan Prasasti Perdamaian, Taufik Andrie mengatakan, walau masih terlalu dini, serangan di Kampung Melayu bermotif balas dendam terhadap aparat keamanan. “Mengingat targetnya polisi sedang bertugas di dekat terminal bus. Dan kelompok yang aktif menyerang polisi Indonesia adalah kelompok gerakan Islamik di Indonesia,” tuturnya seperti yang dilansir BBC Indonesia.

    (Foto: Istimewa)

    Lebih jauh lagi, Taufik menyebut pula aksi ini merupakan balasan terhadap penangkapan dan penembakan pelaku tindak pidana terorisme yang dilakukan oleh kepolisian. Meskipun pelaku diduga terkait dengan kelompok yang menyebut diri mereka Negara Islam atau ISIS, ia menyebut pelaku kemungkinan besar tidak mendapat komando langsung dari ISIS di Suriah.

    “Karena kelompok terorisme di Indonesia dua-tiga tahun terakhir itu independen. Ditambah lagi komunikasi tidak berjalan baik antara jaringan teroris di Indonesia dengan yang berada di Suriah. Apalagi fatwa yang keluar tahun 2015 yang menyebut pentingnya bagi pendukung ISIS untuk melakukan serangan di tempat masing-masing,” pungkasnya.

    Bagaimana menurutmu? (Berbagai Sumber/A27)

    Share On

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here