Dramaturgi Kekalahan Gerindra

Dramaturgi Kekalahan Gerindra
Istimewa
6 minute read

Hasil hitung suara resmi KPU telah keluar, namun Gerindra dikabarkan akan menggugat KPU atas beberapa kekalahan yang dialaminya. Prabowo melakukan dramaturgi politik?


PinterPolitik.com

“Dalam demokrasi, seseorang yang gagal berkuasa dapat selalu menghibur dirinya dengan pemikiran akan adanya tidakadilan.” ~ Thucydides

Sebagai seorang sejarawan Yunani Kuno, Thucydides yang mendapat julukan sebagai “Bapak Sejarah Ilmiah” dikenal sebagai orang yang anti-demokrasi akibat pandangan-pandangan realistisnya. Penulis buku History of the Peloponnesian War ini juga sosok yang lebih percaya pada kekuatan, dibanding kebenaran.

Meski begitu, perkataan saksi mata Perang Sparta yang bersejarah di atas, faktanya masih tetap lekang selama berabad-abad. Sebab hampir di setiap kontestasi politik di berbagai negara, pasti akan ada pihak-pihak yang tidak dapat bersikap sportif menerima kekalahannya, tak terkecuali di tanah air.

Setelah menunggu sekitar dua minggu, akhirnya hasil penghitungan suara resmi (real count) Pilkada Serentak lalu diumumkan oleh KPU. Hasil tersebut memperlihatkan hasil yang tak jauh berbeda dengan hasil penghitungan cepat (quick count) dari sejumlah lembaga survei yang telah lebih dahulu beredar.

Termasuk penghitungan suara di Pilgub Jawa Barat yang mengukuhkan kemenangan pasangan Ridwan Kamil dan Uu Ruzhanul Ulum (Rindu) dengan perolehan 32,88 persen atas Sudrajat dan Syaikhu (Asyik) yang meraih 28,74 persen. Hasil ini juga diperkuat oleh hasil penghitungan internal PKS yang memperlihatkan selisih suara sebesar 4,14 persen.

Namun bila PKS akhirnya secara suportif mengakui kekalahan pihaknya, tidak begitu dengan Gerindra. Prabowo Subianto sebagai ketua umum, mengatakan kalau ia yakin Jabar dimenangkan oleh Pasangan Asyik. Menurutnya, kemenangan Rindu tak lain disebabkan oleh kecurangan yang ia ibaratkan sebagai “Tuyul pun ikut mencoblos”.

Tudingan Prabowo ini, tak hanya ia lontarkan atas kekalahan di Jabar saja, tapi juga di sejumlah wilayah lainnya, seperti di Jateng dan Jatim. Seperti yang banyak diberitakan, calon yang didukung Gerindra di Jateng yaitu Sudirman Said dan Ida Fauziah, serta Gus Ipul dan Puti Guntur Soekarno di Jatim, juga mengalami kekalahan.

Sikap tidak menerima kekalahan Prabowo ini, mengingatkan kembali pada sikapnya yang sama saat Pilpres 2014 lalu. Kala itu, Prabowo bersama Hatta Rajasa menggugat kemenangan Jokowi – Jusuf Kalla ke Mahkamah Konstitusi. Sayangnya, gugatan tersebut ditolak karena Gerindra tak mampu memberikan data dan bukti yang diperlukan.

Baca juga :  Andi Widjajanto ‘Kuncian’ Jokowi

Sikap Prabowo ini akhirnya menciptakan polarisasi besar antara pendukung Prabowo dan Jokowi, bahkan hingga kini. Sehingga tak heran, bila kekalahan Prabowo diibaratkan sebagai dramaturgi perpolitikan tanah air. Jadi, apakah sikap tidak menerima kekalahannya kali ini, juga merupakan upaya mempertahankan persepsi para pendukung?

Pertahankan Citra Melalui Penyangkalan

“Tetap dikatakan demokratis, ketika kekuatan masyarakat dipersatukan; dan sebagai oligarki saat terpilih dalam Pemilu.” ~ Aristoteles

Pernyataan salah satu “Bapak Demokrasi” di atas, diambil dari bukunya The Politics of Aristotle VI yang di dalamnya terangkum pemikiran-pemikirannya mengenai bagaimana demokrasi harus mampu melibatkan partisipasi aktif masyarakat. Salah satu bentuk partisipasi itu, tentu saja melalui pemilihan umum seperti Pilkada lalu.

Sebagai sebuah ajang kontestasi demokrasi, tentu harus ada yang menang dan juga kalah. Sayangnya dalam Pilkada lalu, kekalahan telak diraih oleh Gerindra. Dibanding partai-partai lainnya, Gerindra berada diurutan buncit karena hanya menang di 3 provinsi, yaitu Sumatera Utara, Kalimantan Timur, dan Maluku, dari 17 provinsi yang melakukan Pilgub.

Namun kekalahan di Jabar, Jateng, dan Jatim lah yang paling membuat Prabowo begitu terpukul. Sebagai pulau terpadat di Nusantara, Jawa dipercaya sebagai lumbung suara dan barometer kemenangan di Pilpres nanti. Sehingga kekalahan para cagub yang diusungnya di 3 wilayah tersebut, tentu menjadi awal buruk pencapresannya.

Berdasarkan fakta ini pula, sangat wajar bila Prabowo mulai berpikir seperti yang dikatakan Thucydides sebelumnya, yaitu melakukan penyangkalan dengan menuding adanya kecurangan yang dilakukan oleh KPU. Penyangkalan (denial), menurut Pakar Psikoanalisis Sigmund Freud, wajar terjadi saat menghadapi kenyataan yang menyakitkan.

Menurut Freud, penyangkalan merupakan pernyataan atas informasi yang dirasakan tidak benar. Umumnya, sikap ini dilakukan sebagai mekanisme pertahanan psikologis saat seseorang menerima fakta yang tak mampu diterima atau ditolak. Sehingga, ia berkeras kalau fakta itu tidak benar, meskipun telah ada bukti-bukti pendukungnya.

Dalam politik, penyangkalan ini dikenal sebagai politics of denial dan sangat umum dilakukan di dalam negeri maupun seluruh dunia. Kenyataan ini didukung oleh Michael A. Milburn dan Sheree D. Conrad dalam buku Politics of Denial. Menurutnya, kehidupan politik suatu negara sering menunjukkan penolakan atas kenyataan yang menyakitkan.

Sementara menurut William Benoit, dalam buku Accounts, Excuse, An Apologies: A Theory of Image Restoration Strategies, penyangkalan juga kerap dilakukan untuk mempertahankan citra baik suatu partai sebab elemen ‘wajah parpol’ sama pentingnya dengan citra diri ‘sang pemimpin’.

Menurut Benoit, mempertahankan citra sebagai partai yang kuat dan bersih umumnya memang merupakan tujuan utama dari komunikasi politik yang dilakukan selama kontestasi politik. Oleh karena itu, untuk memulihkan citra dari label partai yang kalah, Gerindra mau tak mau harus proaktif menggunakan metode pemulihan citra.

Baca juga :  Prabowo Mencari Wejangan Pilpres

Dramaturgi Kekalahan Gerindra

“Pilih olehmu menjadi pihak yang kalah tapi benar. Dan janganlah sekali-sekali engkau menjadi pemenang tetapi zalim.” ~ Pythagoras

Selain dikenal sebagai “Bapak Bilangan”, Pythagoras dari Samos juga dikenang sebagai salah satu filsuf Yunani. Walau keahliannya di bidang matematika, pada suatu masa, ia juga sempat tertarik pada dunia politik. Saat itu, ia yakin kalau politik akan membantunya menyalurkan pemikiran tentang kebaikan, keadilan, dan kebijaksanaan.

Hanya saja, setelah mengikuti pertemuan dan perdebatan politik, Pythagoras memutuskan keluar – seiring dengan banyaknya filsuf yang dihukum mati akibat keterlibatannya di politik. Terlebih prinsip Pythagoras untuk menerima kekalahan selama berada di pihak yang benar, akan sulit dilakukan oleh para politikus.

Bahkan hingga sekarang pun, prinsip ideal dari Pakar Matematika tersebut masih banyak yang tidak mampu melakukannya. Terkait dengan masalah ini, tentu akan sulit bagi Gerindra untuk legowo dengan kekalahannya di Jawa, sebab pertaruhannya cukup besar, yaitu kemungkinan mengalami kekalahan di Pilpres tahun depan.

Sebagai partai oposisi yang menjadi penantang kuat petahana, sangat penting bagi Gerindra untuk membangun citra partai yang kuat. Oleh karena itu, citra sebagai partai yang bersih dan ditakuti pemerintah sangat penting dipertahankan untuk menciptakan keyakinan yang sama bagi para pemilihnya.

Berdasarkan teori citra yang diungkap Benoit sebelumnya, pada akhirnya Gerindra – dalam hal ini Prabowo, kembali menggunakan metode shifting the blame, yaitu menggeser kesalahan tersebut pada pihak lain, yaitu KPU. Apalagi secara undang-undang, upaya ini sangat dimungkinkan.

Sikap Prabowo yang enggan menerima kekalahan, dapat dikatakan konsisten dengan sikapnya saat menolak hasil Pilpres 2014, meskipun MK telah menyatakan kemenangan rivalnya. Sikap Prabowo yang selalu konfrontal terhadap kekalahannya dan menuding adanya kecurangan ini, disinyalir memang sengaja dilakukan demi menciptakan citra teraniaya atau terzalimi.

Upaya play victim Prabowo melalui sikapnya yang membesar-besarkan dugaan kecurangan atas kekalahan partainya tersebut, menurut Erving Goffman dapat disebut sebagai aksi dramaturgi. Prabowo secara sengaja mempertunjukkan dugaan tersebut, untuk mempertahankan keyakinan dan dukungan simpati dari para pendukungnya.

Berkaca dari pengalaman di Pilpres 2014 lalu, aksi dramaturgi Prabowo ini mampu menciptakan pendukung yang fanatik, bahkan menciptakan gerakan anti-Jokowi yang begitu masif di media sosial. Jadi, akankah upaya menjaring simpati dari dramaturgi kekalahan Gerindra di Pilkada ini, juga mampu memenangkannya tahun depan? (R24)

Share On