DPR Terpilih ‘Puasa Bicara’

Kurang Waras Kok Masuk DPT?
2 minute read

Uang tidak pernah bisa bicara; tapi uang bisa bersumpah,” – Bob Dylan


PinterPolitik.com

Wakil rakyat, pemegang amanah rakyat, ehmmm, identitas yang disematkan begitu mulia karena menjadi penyambung lidah rakyat.

Namun, jangan terlalu banyak berharap, karena sering kali singkatan DPR bukan lagi Dewan Perwakilan Rakyat, tapi Duduk, Pulang, Rapat atau bisa juga Diam, Pura-Pura, Ronda, yeeeehhh, gak nyambung, hehehe sengaja, DPR sering banget kan gak nyambung begitu, weleeeh weleeeh.

Nah, sekarang masyarakat cenderung pesimis dengan anggota DPR bukan karena kemuliaan lembaganya, namun sosok para anggota yang tak seiring sejalan dengan perjuangan rakyat.


Wuuuu, udah ah, segitu aja seriusnya, lagian para wakil rakyat toh jarang banget serius, jadi ngapain kita seriusin, lebih baik kita ketawain aja walau kita sebenernya memahami makna ketawa kita itu tahu kalo mereka susah serius karena gak ada niat dan gak ada hasrat untuk serius.

Tuhkan malah serius lagi, heleeeehhh, okelah, sekarang begini, 575 anggota DPR terpilih sekarang melenggang ke Senayan.
Ehmmm, suasana akan begitu cair karena akan segera mencairkan, nahloh, maksudnya mencairkan anggaran, jangan yang aneh-aneh mikirnya, uhuukkk, katanya sih untuk rakyat, tapi you know laaaah, weleeeh weleeeeh.

Wuuuu, sekarang sebenernya siapa yang salah sih? DPR-nya sebagai wakil rakyat atau rakyatnya yang salah. Pasti kita bisa menjawab dengan cepat, ya jelas pasti rakyatnya lah.

Dih, kok gitu? Yaiyalah, salahnya masyarakat itu terlalu banyak berharap sama wakilnya yang seringkali gak bisa diharapkan, uhuuyy, itu sih lagu lama, hadeuuuhh.

Kalo DPR, ehmm, gimana yak, kalo kita salahin juga dia gak akan ngerasa salah, namanya juga politisi ingin selalu benar, enak, nyaman dan ahhhsyudahhlah.

Sekarang banyak berganti anggota DPR, ada yang masih bertahan dan banyak juga wajah baru.

Kembali lagi ke pertanyaan awal, apa kita mau membiarkan masyarakat melakukan kesalahannya lagi? Ehmmm, iya maksudnya untuk menaruh harapan besar kepada wakilnya yang ahhhsyudahlah, si kocak pokoknya, weleeeh weleeeh.
Heran kan, kayaknya sih cuma di negara +62, seorang wakil lebih kaya, lebih enak, lebih yahuudddd hidupnya dibandingkan pemberi mandatnya.

Atau bahasa sederhananya, si tuan lebih hapal kesengsaraan dibandingkan wakilnya, karena stock nyaman sudah dilibas semua. Yang hilang stock dari wakilnya itu cuma pita suara aja, ehmm, stocknya udah abis, hehehe, pantes rajin banget diemnya, heleeehhh.

Ehmmm, namanya juga wakil rakyat, ia sukses mewakili rakyat untuk menikmati kenyamanan dan kemewahan, walaupun sebenernya ia ‘baik’ dengan menyisakan kesengsaraan untuk tuannya, weleeeeh weleeeh. (Z19)