Disemprot Yenny, NU Lupa Janji

Disemprot Yenny, NU Lupa Janji
(Foto: CNN Indonesia)
2 minute read

“NU sesuai khitah NU tidak boleh berpolitik praktis.” – Yenny Wahid, Direktur Wahid Foundation


PinterPolitik.com

Ketika binatang-binatang di Peternakan Mayor sudah merdeka dari manusia, mereka membuat tujuh aturan dasar yang disebut sebagai Binatangisme. Prinsip dasar Binatangisme pun menjadi landasan kehidupan mereka dalam peternakan.

Sayangnya, pesona dari kursi kekuasaan yang begitu kuat dan mematikan membuat seekor babi bernama Napoleon menjadi haus untuk berkuasa atas hewan-hewan lain sehingga ia mulai mengabaikan kesepakatan Binatangisme.

Sebagian dari kalian pasti pernah mendengar kisah tersebut. Soalnya cerita di atas itu diambil dari novel legendaris Animal Farm. Hehehe.

Saat sebuah aturan yang telah disepakati bersama dilanggar oleh beberapa orang dalam sebuah kelompok, mau nggak mau hal itu pasti akan menimbulkan kekacauan dalam kelompok itu.

Muncul wacana Nobel Perdamaian untuk NU dan Muhammadiyah. Simak infografis kami lainnya di Pinterpolitik.com

Posted by Pinter Politik on Tuesday, July 9, 2019

Tampaknya pola haus akan kekuasaan politik juga sedang terjadi di internal Nahdlatul Ulama (NU) juga nih. Hehehe.

Makanya Yenny Wahid sampai mengimbau supaya petinggi-petinggi NU tuh nggak melupakan Khittah NU tahun 1926. Katanya sih di Khittah NU itu ada aturan tentang sejauh mana NU terlibat dengan politik loh.

Mungkin Yenny Wahid nggak mau internal NU kacau lagi karena masuk ke politik praktis kali ya. Katanya kan pas NU terjun ke parpol tahun 1950-an tuh malah menimbulkan banyak masalah.

Soalnya partai-partai sekarang kan lagi pada heboh nge-tag-in jatah kursi menteri ya. Ada yang tag 10 lah, ada yang tag 11 lah, padahal total menteri aja cuma 34 ya. Hehehe.

Nah, mungkin gara-gara itu beberapa petinggi di NU jadi ada yang insecure dan takut kecolongan juga, terus mau ikutan nge-tag deh.

Baca juga :
Makna Senyum Jokowi di KTT G-20

Apalagi kan ada yang bilang kalau NU tuh berjasa banget dalam memenangkan pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin. Harusnya sih wajar dong ya kalau NU juga ikutan tag kursi menteri. Hehehe.

Tapi, kalau melihat ke tujuan dibentuknya NU, ada benernya juga ya Yenny Wahid. Kalau nggak salah kan NU itu didirikan bukan untuk berpolitik ya, tapi sebagai wadah mempertahankan identitas Islam tradisional di Indonesia.

Semoga hausnya beberapa petinggi NU saat ini nggak sampe bikin internal mereka terpecah karena melupakan Khittah NU deh. Upss. (R50)

Panduan Tulisan

Facebook Comments