Dirut Bulog, Buwas ‘Kesusahan’?

Dirut Bulog, Buwas 'Kesusahan'?
Dirut Bulog, Budi Waseso. (Istimewa)
2 minute read

“Kalau saya gaduh, malah rusak semua. Sekarang saya lagi belajar tidak membuat gaduh karena berbeda permasalahannya. Tidak ada operasi. Jangan kita semacam pemadam kebakaran. Begitu ada masalah, baru bingung.” ~ Budi Waseso


PinterPolitik.com

Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso masih beradaptasi dengan jabatan yang baru diembannya. Masih magang ya? Ehmmm weleeeh weleeeh.

Lebih khususnya, ia kini berkomitmen untuk tak mau membuat gaduh negeri hanya karena tingkahnya yang kontroversial.

Lah emang kenapa? Ehmm, coba saja ingat sebelum pensiun sebagai anggota Polri, gimana tingkah Budi Waseso saat memegang dua jabatan yang membuat dirinya jadi sorotan banyak orang.

Sebutlah saat menjabat Kabareskrim Polri, ehmm, masih ingatkan baru beberapa hari menjabat Buwas langsung menetapkan mantan Ketua KPK Abraham Samad dan mantan Wakil Ketua KPK, Bambang Widjajanto sebagai tersangka.

Wedeew, langsung gempar ya, ehmm, belum lagi saat bertukar posisi dengan Anang Iskandar sebagai Kepala BNN.

Buwas mengatakan bahwa dirinya lebih kejam daripada Duterte. Ah apa iya? Weleeeh weleeeh. Apalagi katanya, Buwas sempat mengusulkan sipir yang diganti dengan buaya.

Hadeuh, selalu kontroversial ya, nah tapi walaupun rekam jejaknya begitu, kini Buwas ingin menyudahi kebiasaannya yang sensasional.

Sebagai Dirut Bulog, Buwas kini menahan diri untuk tidak membuat gaduh apakah itu dari pernyataan ataupun kebijakan.

Walau sempat mengatakan begitu, Buwas tak bisa menahan diri. Akhirnya, Buwas lagi dan lagi mengeluarkan kebijakan kontroversial.

Baca juga :  BNN Pasca Buwas Melempem?

Diantaranya, Buwas tak mau ada operasi pasar untuk memantau persediaan dan stabilitas harga. Katanya udah kayak pemadam kebakaran aja, lebih baik pastikan persediaan cukup.

Ehmm, Buwas masih ingat tugas pokok Bulog? Masa ga mau cek harga sama persediaan? Weleeh weleeh.

Selain itu, Buwas mau menjual beras dalam kemasan renceng per 200 gram. Katanya, kalau harga beras naik beras kemasan renceng ini ga terpengaruh, ahh masa sih? Naik sih pasti ikut naik, nambah ribet malahan, hadeuuuh.

Weeeittss, apalagi yang ini nih, kocak banget deh, Buwas ingin persediaan beras diganti dengan gabah, karena ehh karena ini berdasarkan pengalaman kakek Buwas yang dahulunya lebih senang menyimpan gabah dibandingkan beras.

Ga salah sih, tapi masa kebijakan Bulog itu didasarkan pada kebiasaan kakek dari Dirut Bulog sih, ga ada alasan lain? Kajian kek atau riset kek? Becanda mulu nih. Ehmm, katanya ga mau gaduh lagi, weleeeh weleeeh.

Kayankya Buwas harus memaknai apa yang menjadi prinsip Tri Rismaharini, kalau jabatan itu cuma titipan. Kalau tidak mampu, ya tidak bisa dipaksakan.

Kalau Buwas susah beradaptasi, tak usah dilanjutkan, weleeh weleeeh. (Z19)

Share On

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here