Diplomasi Fulus Ala Jokowi

Diplomasi Fulus Ala Jokowi
3 minute read

Dihadapan para diplomat muda, Jokowi membeberkan peran diplomat zaman now yang harus bisa menghasilkan fulus, daripada menghabiskan fulus.


PinterPolitik.com

“Diplomat Indonesia harus aktif bertindak, pendekatan baru harus terus disesuaikan. Diplomasi bukan buang uang tetapi harus menghasilkan uang. Diplomasi juga harus berpihak terhadap perlindungan warga negara Indonesia dan membela kedaulatan negara.” ~ Presiden Joko Widodo

Di zaman old, menjadi seorang diplomat itu sebuah kebanggaan luar biasa. Gimana enggak, kan tugasnya selalu ke luar negeri. Kemana-mana naik pesawat terbang, sarapan di Milan, makan siang di Amsterdam, dan makan malamnya di Kuningan. Pokoknya sibuk luar biasa lah.

Gaulnya juga bukan dengan orang sembarang, karena kongkownya dengan para pejabat, ngopinya dengan bule luar negeri, walau di rumah makannya masih suka disuapi. Ya begitulah, profesi super keren dan mentereng. Jadi wajar saja kalau diplomat itu adalah ujung tombak Indonesia di manca negara.

Diplomat adalah wajahnya negara di dunia internasional, melalui merekalah Indonesia menggantungkan nama baiknya. Jadi enggak heran kalau Jokowi pun menyempatkan mampir dan memberikan wejangan di Rapat Kerja (Raker) Para Diplomat Muda yang dikasih tajuk “Diplomat Zaman Now”, Senin (12/2) kemarin.

Tapi, ternyata menjadi diplomat zaman now itu enggak bisa enak-enakan lho. Iya, kalau dulu kan kelilingan ke luar negerinya dibayari pemerintah dan enggak ada target apapun. Jadi ada aja yang kerjaannya cuma terbang, ngobrol sana sini, jalan-jalan, belanja-belanji, udah itu pulang. Di zaman now,  enggak bisa tuh begitu lagi.

Baca juga :  PKS, ‘Obat Penenang’ Jokowi

Menurut Jokowi, diplomat zaman now itu harus bisa menghasilkan fulus, bukannya hanya ngabisin fulus. Waduh, diplomat gimana cara nyari duitnya? Ya, tentu dengan memperbanyak kerjasama yang menguntungkan negara, salah satunya dengan mencari peluang ekspor dan investasi. Hmm, bener juga sih.

Di sisi lain, walau sama-sama menghasilkan fulus, namun Jokowi juga bilang kalau pantang bagi diplomat kita untuk minta-minta bantuan. Hmmm, emangnya selama ini selalu minta bantuan ya, Pak? Eh!

Menurut Jokowi, saat ini perekonomian Indonesia terbesar ketiga di negara-negara G20, ya jadi bolehlah sombong dikit ngasih-ngasih bantuan ke luar negeri. Bukan sebaliknya.

Hmmm, kalo masih ada yang kelaparan di dalam negeri masa kita sok-sokan kirim bantuan ke luar negeri? Apa segitu pentingnya kah prestasi di luar negeri, sementara masih ada yang kekurangan di negeri sendiri?

Priiit, sstt, jangan galak-galak ah sama presiden sendiri. Semoga aja deh, para diplomat muda itu benar-benar mampu menjalani diplomasi fulus ala Jokowi. (R24)

Share On