Di Balik TNI Gabung Indomalphi

Di Balik TNI Gabung Indomalphi
Hancurnya Kota Marawi Setelah dikuasai ISIS (Foto: Reuters)
6 minute read

Militer Indonesia, Malaysia dan Filipina menggelar latihan bersama “Indomalphi” di Tarakan, Kalimantan Utara. Latihan ini merupakan kelanjutan dari rencana pembentukan pasukan gabungan tiga negara yang terbentuk karena adanya permasalahan terorisme regional di Laut Sulawesi.


PinterPolitik.com

Kerja sama tiga negara (trilateral) ini sudah dimulai sejak tahun 2016 dengan latar belakang maraknya kasus perompakan dan penculikan terhadap kapal-kapal yang melintasi Laut Sulawesi.

Laut Sulawesi ini merujuk kepada kawasan perbatasan antara Filipina Selatan, Sabah, Kalimantan Utara dan Sulawesi bagian utara.

Peningkatan kerja sama dan perubahan fokus ancaman kemudian terjadi pada 2017 ketika Kota Marawi di Pulau Mindanao, Filipina, diduduki selama lima bulan oleh kelompok teroris Abu Sayyaf dan Maute yang berafiliasi dengan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).

Besarnya skala pertempuran di Marawi bahkan membuat Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, sempat meminta Indonesia meingirim TNI untuk membantu militer negaranya.


Semenjak peristiwa Marawi, ketiga negara memutuskan untuk meningkatkan kerja sama militernya.

Jika kerja sama militer awalnya hanya terbatas pada patroli udara dan laut terkoordinasi, kini ketiga negara terlihat cukup serius untuk mewujudkan wacana pembentukan pasukan gabungan.

Hal ini terlihat dengan dilaksanakannya latihan-latihan gabungan, khususnya oleh unsur kekuatan darat, dan berbagai pernyataan petinggi militer kedua negara.

Lalu, kenapa ketiga negara sampai harus membentuk pasukan gabungan? Apakah ada hal lain di balik pembentukan pasukan gabungan ini?

Duri Lama Bagi Kawasan

Laut Sulawesi yang dikelilingi oleh Filipina, Malaysia, dan Indonesia dikenal sebagai kawasan Terrorist Transit Triangle (3T). Sebutan 3T ini dberikan karena konflik yang terus terjadi atau pun bersumber di kawasan ini sejak tahun 1960-an.

Kawasan ini sering terlibat dalam aktivitas kriminal seperti perampokan, penculikan, penyelundupan senjata hingga serangan kelompok teroris yang terjadi di Indonesia, Malaysia maupun Filipina.

Sebagai contoh, pada tahun 2013, 100-300 orang bersenjata asal Kesultanan Sulu, Filipina, menyerbu Distrik Lahad Datu, di Sabah, Malaysia.

Kemudian selama 2016-2019, tercatat ada 29 kasus penculikan yang terjadi di Laut Sulawesi di mana sebagian besar penculik berasal dari Mindanao. Sementara yang menjadi korban kebanyakan adalah warga negara Malaysia dan Indonesia.

Baca juga :
Gaya “Lumba-lumba” Rini Soemarno

Masih di kawasan yang sama, sejak tahun 1990-an milisi-milisi asal Indonesia sering menggunakan Pulau Sebatik untuk menyebrang secara ilegal ke Filipina maupun Malaysia.

Kelompok teroris utama di Indonesia seperti Jamaah Islamiah (JI) dan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) juga menjadikan Filipina Selatan sebagai kamp pelatihan dan pembelian senjata.

Terakhir, pelaku bom bunuh diri terhadap Gereja di Pulau Jolo, Mindanao, merupakan pasangan suami istri asal Sulawesi Selatan yang masuk ke Filipina secara ilegal.

Fakta-fakta ini menunjukkan betapa sentralnya segitiga Laut Sulawesi sebagai sumber berbagai permasalahan kemanan sekaligus alasan mengapa ketiga negara harus bekerja sama.

Sekalipun Indonesia berhasil mengamankan secara penuh Sulawesi dan Kalimantan, ancaman akan tetap ada jika kelompok-kelompok bersenjata tetap berkeliaran bebas di Filipina Selatan maupun Sabah. Oleh karena itu, segitiga ini harus dipotong secara bersamaan.

Persoalan lintas negara inilah yang menjadi alasan utama  diperlukannya kerjasama trilateral melalui pembentukan pasukan gabungan.

Menurut mantan analis militer Amerika Serikat (AS), Charles Comer, lemahnya kontrol dan pengawasan perbatasan pemerintah ketiga negara menjadikan kawasan ini menjadi safe heaven bagi terorisme regional.

Hal ini memungkinkan kelompok-kelompok teroris bergerak secara bebas, berbaur dengan populasi lokal, ataupun membentuk jaringan.

Bukan hanya masalah keamanan, aktivitas ekonomi ketiga negara maupun global juga terganggu dengan aktivitas terorisme di kawasan ini.

Laut Sulawesi sangat sentral dan penting bagi perekonomian Indonesia karena merupakan ujung utara jalur pelayaran Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II.

Dari komoditas batu bara saja, nilai ekspor Indonesia ke Filipina yang melawati laut ini per-tahunnya sebesar US$700-800 juta atau sekitar Rp 9-11 triliun.

Di level internasional, Laut Sulawesi juga menjadi jalur pelayaran penting bagi perdagangan global. Setiap tahunnya diperkirakan ada 100.000 kapal melewati kawasan ini dengan nilai total komodias yang lewat sebesar US$40 miliar atau sekitar Rp 561 triliun.

Kepentingan ekonomi global ini menambah alasan ketiga negara untuk bertindak.

Reputasi dan kepercayaan dunia internasional terhadap ketiganya bisa turun jika dinilai tidak mampu bertanggung jawab atas wilayah lautnya sendiri dan tidak maksimal dalam melindungi jalur pelayaran internasional.

Baca juga :
Pamitnya Nyi Susi Pudjiastuti

Akankah Efektif?

Sejauh ini, berdasarkan pemilihan materi dan lokasi latihan gabungan, Indomalphi memang terlihat diarahkan sesuai dengan prediksi musuh dan karakter pertempuran yang akan dihadapi, khususnya berdasarkan pengalaman Filipina di Kota Marawi.

Menurut analisa Alex Barnes dan Gavin Greenwood di Janes’s Intelligence Review, dalam pertempuran kota (urban warfare) di Marawi ada dua taktik yang digunakan ISIS di Marawi: penggunaan penembak runduk (sniper) dan alat peledak improviasi (IED) dalam jumlah yang banyak.

Dua taktik inilah yang menjadi hambatan utama sekaligus sumber jatuhnya korban militer maupun polisi Filipina. Berkaca pada hal tersebut, materi latihan Indomalphi-pun disesuaikan.

Pada Indomalphi 2018, latihan difokuskan kepada peningkatkan kemampuan penembak runduk dan pertempuran kota ketiga negara.

Sementara pada Indomalphi yang saat ini berlangsung, materi latihan juga mencakup penjinakan bahan peledak dan pertempuran jarak dekat yang merupakan karakter pertempuran di Marawi.

Lokasi latihan juga sebagian besar berlangsung di kawasan Laut Sulawesi yaitu di Tarakan dan Zamboanga.

Peningkatan kerjasama trilateral dengan ditambahkannya unsur kekuatan darat juga tepat. Meskipun kawasan Laut Sulawesi di dominasi oleh Laut, sumber permasalahannya tetap ada di darat, yaitu di Mindanao.

Tapi, apakah peran menjaga kawasan 3T ini cukup dibebankan kepada tiga negara ini saja?

Belajar pada kasus Marawi, pasukan Filipina mendapat bantuan secara langsung dari pasukan khusus AS dan angkatan udara Australia.

Selain karena keterbatasan yang dimiliki oleh angkatan bersenjata Filipina dan kelebihan AS-Australia dalam hal pertempuran kota dan pengintaian udara modern, ada hal lain yang menyebabkan kedua negara ini mau menaruh perhatian khusus pada kawasan ini.

Kawasan Laut Sulawesi merupakan jalur pelayaran ini juga penting bagi Australia dan AS.

Jalur laut ini menghubungan Australia, melalui Indonesia, dengan Asia Timur, khususnya Laut China Selatan (LCS).

Sama seperti Australia, bagi AS Laut Sulawesi merupakan jalur penting yang menghubungkan LCS dengan pangkalan militernya Australia.

Baca juga :
Misteri Operasi Gagalkan Pelantikan Jokowi

Hal ini lebih berkaitan dengan kondisi Geopolitik kawasan Indo-Pasifik di mana AS sedang bersitegang dengan Tiongkok di LCS. Jika konflik pecah, Laut Sulawesi merupakan jalur tercepat bagi kapal-kapal perang AS di Australia untuk mencapai LCS.

Meningkatnya ancaman terhadap keselamatan pelayaran Laut Sulawesi akan memaksa kapal-kapal AS ataupun Australia untuk mencari jalur pelayaran lain yang lebih memakan waktu dan biaya.

Melihat keunggulan militer dan kepentingan keduanya, dua stakeholders ini mungkin perlu dilibatkan jika nanti Indomalphi diterjunkan ke Filipina Selatan.

Terlebih lagi Indonesia dan Malaysia juga cenderung masih memiliki keterbatasan pengalaman dalam aspek pertempuran kota dan pengintaian udara modern.

Sejauh ini rencana pembentukan pasukan gabungan pemerintah Indonesia terlihat serius dengan “masterplan” pasukan gabungan.

Selain latihan gabungan yang terus berjalan, keseriusan juga terlihat dari Menhan Ryamizard Ryacudu yang turun langsung dalam beberapa pertemuan trilateral.

Di forum internasional, dalam Shangri-La Dialogue Juni 2019, Ryamizard juga menegaskan kembali rencana pembentukan pasukan gabungan antara Indonesia, Malaysia dan Filipina.

Kerawanan kawasan Laut Sulawesi memang nyata. Deretan kasus terorisme memperlihatkan sentralitas kawasan ini dan pentingnya kerja sama ketiga negara.

Sejauh ini kerja sama trilateral telah membuahkan hasil. Patroli laut dan udara bersama yang dijalankan ketiga negara sejak 2016 berkontribusi pada menurunnya jumlah serangan terhadap kapal-kapal yang melintas di Laut Sulawesi.

Indomalphi mengindikasikan bahwa saat ini Indonesia, Malaysia, dan Filipina sedang bersiap-siap menghadapi gelombang terorisme baru yang terlihat dari meningkatnya aktivitas terorisme di kawasan Asia Tenggara beberapa tahun kebelakang. (F51)

Mau tulisanmu terbit di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.