Di Balik Jeratan Amien Rais

Di Balik Jeratan Amien Rais
Amien Rais, the empire-building person? (Foto: Liputan 6)
8 minute read

Pemeriksaan Amien Rais terkait kasus Ratna Sarumpaet memang menimbulkan tanda tanya. Di satu sisi ada yang menyebutnya sebagai aksi “penggembosan” kubu Prabowo. Namun, di sisi lain muncul dugaan bahwa inilah skenario yang sedang dimainkan oleh oposisi. Yang jelas, status empire-building person yang disandang Amien bukanlah istilah sembarangan, serta menjadi pertautan masterstroke dan oportunisme – yang awal adalah kejeniusan, yang terakhir adalah kelihaian.


Pinterpolitik.com

“Cowards say it can’t be done, critics say it shouldn’t have been done, creators say well done.”

:: Amit Kalantri, penulis asal India ::

Politik Indonesia tanpa Amien Rais mungkin tidak akan layak untuk disebut sebagai politik. Jika politik adalah pesta, maka there’s no party without Amien.

Pasalnya, mantan Ketua MPR itu menulis diktat tebal Politik Timur Tengah yang menjadi “kitab suci” mahasiswa Hubungan Internasional. Pemahaman tentang politik di kawasan yang berisi 18 negara itu jelas membuat Amien 18 tingkat di atas politisi-politisi yang hanya tahu 1 negara saja – alasan yang membuat gelar profesor layak untuk disandang pria 74 tahun itu.

Itulah Amien. Dijuluki sebagai “Bapak Reformasi”, kisah politiknya memang tidak semulus jalan tol yang dibangun Presiden Joko Widodo (Jokowi). Nama terakhir adalah sasaran kritik dan orasi sang profesor sejak maju di Pilkada DKI Jakarta 2012 – walau nyatanya Amien pernah berhasrat memasangkan Jokowi dengan Hatta Rajasa untuk Pilpres 2014.

Mungkin arah politik Amien yang “belok-belok” inilah yang menjadi alasan sekelompok orang meruwat atau mendoakan rumahnya dengan seabrek sesajen lengkap plus bulu ayam hitam pada 2014 lalu. Harapan mereka, Amien bisa menjadi “lurus” kembali dan Indonesia aman dari bencana kebangsaan.


Cap represif sangat mungkin akan ditimpakan pada Jokowi jika keras terhadap sang profesor, apalagi Amien punya massa yang tidak sedikit. Click To Tweet

Bukan tanpa alasan, banyak orang yang menyebut Amien sebagai Sengkuni – tokoh pewayangan, paman dari para Kurawa yang “menghasut” pecahnya perang Pandawa-Kurawa. Sosok Sengkuni memang cenderung dianggap negatif dalam budaya Jawa.

Jika bukan Sengkuni, maka mungkin ia setara dengan Gaius Cassius Longinus, ipar Marcus Brutus yang mendalangi pembunuhan Julius Caesar di era Romawi. Memang ekstrem, tapi setidaknya itu mirip dengan peran Amien dalam kejatuhan Presiden Soeharto pada 1998.

Tapi, apa benar demikian?

Mungkin, cara terbaik menjawab pertanyaan itu adalah melihat kasus pemanggilan pendiri PAN itu oleh kepolisian pasca berita bohong yang dilakukan oleh Ratna Sarumpaet – kolega Amien di koalisi Prabowo Subianto-Sandiaga Uno – beberapa waktu terakhir.

Amien yang juga menjabat sebagai Ketua Majelis Kehormatan PAN sekaligus anggota Dewan Penasihat Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga, rencananya akan dimintai keterangan terkait keterlibatannya dalam penyebaran hoaks penganiayaan Ratna bertajuk “bonyok-bonyok ternyata operasi plastik”.

Amien telah satu kali mangkir dari panggilan polisi, dan sedang dijadwalkan ulang untuk dimintai keterangan.Menariknya, dengan tajuk “dia adalah korban”, apa yang terjadi pada Amien Rais ini menampilkan sisi politik kasus Ratna yang multidimensional. (Baca: Firehose of Falsehood Prabowo, Jokowi Waspada!) 

Pasalnya, Amien sendiri misalnya, malah berkoar-koar akan membuka mulut terkait kasus-kasus korupsi yang ia sebut mengendap – hal yang tidak berhubungan dengan kasus yang menimpanya saat ini. Pernyataan ini menjadi semacam gertakan politik, mungkin dalam bahasa yang lebih sederhana: “Lu jual, gue beli!”

Entah kasus korupsi mana yang ingin dibuka Amien dan akankah gertakan kali ini bisa berhasil atau tidak, yang jelas sikapnya bersama Prabowo yang mengecam “penganiayaan” Ratna sebagai pelanggaran HAM, jelas menunjukkan bahwa Amien masih dianggap sebagai sosok sentral dalam kubu oposisi.

Sekalipun telah menginjak usia kepala tujuh dan kerap muncul dengan pernyataan-pernyataan nyentrik  tentang “dukungan dari langit”, Amien masih punya support yang besar di hadapan kelompok konservatif. Presidium Alumni (PA) 212 misalnya telah mengatakan akan mengawal kasus Amien agar menghindari proses yang mereka sebut “kriminalisasi”.

Tentu pertayaannya kali ini adalah apakah kasus tersebut sekedar menjadi upaya untuk “menggembosi” oposisi dan mencegah Amien “Longinus” melengserkan Jokowi, atau ini hanya “jebakan” politik jenius lain yang tengah dibangun, katakanlah untuk mengesankan bahwa rezim Jokowi represif?

Amien, the Empire-Building Person

Dalam salah satu kesempatan, aktivis angkatan 66, Arief Budiman pernah menyebut Amien Rais sebagai “empire-building person” – bisa diartikan sebagai “orang yang membangun kerajaan”. Mungkin kata-kata Arief itu yang membuat Amien lekat dengan predikat the kingmaker.

Arief memang tidak menjelaskan maksud kata-katanya. Namun, faktanya selain dimaknai secara harfiah sebagai aksi membangun kekuasaan kerajaan layaknya yang dilakukan Alexander Agung atau Julius Caesar, empire-building juga melibatkan proses perluasan otorisasi, peningkatan kekuasaan dan adanya subordinasi yang seringkali bertujuan hanya untuk mendapatkan self-aggrandizement atau kepuasan pribadi dan pengakuan bahwa diri sendiri adalah sosok yang sangat penting.

Dalam konteks bisnis dan pengelolaan perusahaan, istilah empire-building juga sering digunakan untuk menyebut sekelompok orang – biasanya manajer – yang mencoba memperluas otoritas, penguasaan sumber daya, termasuk juga staf, yang pada akhirnya menimbulkan kesan adanya “kekuasaan di dalam kekuasaan”.

Jika berkaca pada apa yang terjadi pada Amien Rais dan pemerintahan Abdurrahman Wahid (Gus Dur), sepertinya kata-kata Arief Budiman tersebut 100 persen tepat. Amien adalah “dengkul” – istilah yang digunakan Gus Dur – yang menjadikan sang kiai itu melenggang ke kursi presiden ke-4 republik ini. Posisi empire-builder terlihat saat Gus Dur memegang kekuasaan tertinggi negara yang menganut sistem presidensial ini, tetapi nyatanya Amien-lah yang menjadi otoritas sesungguhnya.

Jose Manuel Tesoro dalam tulisannya di Majalah Asiaweek pada 1999 menyebut walaupun Gus Dur adalah presiden, tetapi Amien-lah yang berperan memilih orang-orang di kabinetnya, terutama di pos finansial dan pendidikan. Tesoro menyebut nama seperti Bambang Sudibyo yang menjadi Menteri Keuangan adalah contoh perpanjangan tangan Amien tersebut.

Status empire-building itu juga yang pada akhirnya mengakhiri kekuasaan Gus Dur. Ketuk palu Amien melengserkan sang kiai dari puncak kekuasaan politik tertinggi yang pernah diraih seorang tokoh agama di republik ini. Amien yang memilih Gus Dur, Amien pula yang “menyakitinya” – secara politik tentunya. Maka ketika Gus Dur menyebut dirinya “dijebak” Amien Rais, itu bukanlah pepesan kosong.

Kesan empire-building pun terus tergambar selama kekuasaan Amien di MPR antara 1999-2004. Pasalnya di era itulah terjadi amandemen UUD 1945 hingga 4 kali, yang disebut menjebak Indonesia dalam liberalisme ekonomi – istilah yang sering diadopsi Prabowo lewat jargon: “Bocor, bocor, bocor, kekayaan negara kita bocor!” Herannya, Amien yang mengamandemen, kini Amien pula yang mendukung Prabowo – sosok yang ingin mengembalikan UUD 1945 ke versi aslinya.

Kemudian, saat tak lagi punya jabatan publik apa pun – mungkin karena oleh banyak pihak dianggap semakin “belok” – empire-building Amien seolah tidak ia tinggalkan. Kritik-kritik politiknya terhadap hampir semua pemerintahan yang berkuasa seolah hanya ingin mengatakan: “I’m still important” – bahasa sederhana untuk self-aggrandizement tersebut. Hal inilah yang masih ia tunjukkan hingga sekarang.

Jerat Amien, Hati-hati Jokowi!

Lalu, apa yang bisa diambil dari elaborasi di atas? Tentu saja predikat empire-building person Amien ini tidak bisa dianggap sepele. Dalam konteks bisnis, banyak yang menilai status tersebut buruk untuk perusahaan. Jika tidak buruk, tidak mungkin Investopedia menyertakan kata “unhealthy” dalam penjelasannya.

Sementara dalam konteks kekuasaan negara, empire-building person adalah “bahaya” untuk rezim yang memerintah. Dengan kemampuannya memperluas otorisasi dan sumber daya, bukan tidak mungkin konteks tersebut akan berdampak buruk bagi kelanggengan kekuasaan. Cassius Longinus adalah contoh akhir dari kejayaan Caesar, sementara Sengkuni adalah chaos untuk dunia perwayangan.

Artinya, jika Jokowi sebagai presiden – dengan status pemimpin tertinggi untuk semua otoritas penegak hukum (Polri, TNI, KPK, Kejaksaan) – mengambil langkah yang salah atau gegabah dalam kasus yang ditimpakan pada Amien, bukan tidak mungkin hal ini justru merugikan mantan Wali Kota Solo itu, terutama dalam ambisinya untuk terpilih lagi di 2019.

Cap represif sangat mungkin akan ditimpakan pada Jokowi jika keras terhadap sang profesor, apalagi Amien punya massa yang tidak sedikit.

Selain itu, bukan tanpa alasan Tesoro menyebut kata “masterstroke” untuk menggambarkan beberapa manuver politik Amien. Istilah tersebut digambarkan sebagai langkah politik yang lihai, cerdas dan oportunis.

Faktanya, kata terakhir dengan paham besarnya oportunisme, seringkali punya pemaknaan yang negatif karena “membuang” moral dari politik dan linear dengan garis pemikiran kaum Machiavellian. Apakah Amien demikian? Mungkin hal ini bisa ditanyakan pada para pendukung Gus Dur.

Kemampuan inilah yang harus diwaspadai oleh Jokowi. Longinus dan Sengkuni seringkali disebut sebagai instigator – istilah kaum Londo untuk “penghasut”. Faktanya, pemimpin tertinggi Britania Raya, Ratu Elizabeth I pernah menginstruksikan untuk membunuh orang-orang yang disebut instigator tersebut karena dianggap berbahaya bagi negara dan tentu saja berbahaya bagi kekuasaannya.

Jokowi tentu saja tidak mungkin bersikap seekstrem Elizabeth I. Tapi, setidaknya jika ingin kekuasaannya aman, maka ia perlu berpikir matang-matang saat menghadapi sosok seperti Amien. Orang yang kita bicarakan ini adalah lulusan University of Chicago – universitas yang disebut-sebut punya peran di balik aksi 1998 – dan membuat Amien juga lekat dengan Chicago connection.

Dalam segala pengaruh politik, kematangan, status profesornya, orasi-orasinya, dan cerdik-pandainya, selalu ada peluang strategi politik Amien tiga sampai empat langkah di depan politisi lain. Orang menyebutnya nyentrik, aneh, bahkan mungkin tidak masuk akal, tapi boleh jadi itu adalah cara Amien untuk membuat kita berpikir demikian tentang dirinya.

Pada akhirnya, semuanya akan kembali pada apa yang akan terjadi pada Amien dalam kasus ini. Yang jelas, seperti kata Amit Kalantri di awal tulisan, semuanya tergantung pada sudut pandang. Dan jika Amien adalah sang creator, maka Jokowi sebaiknya waspada! (S13)

[related_posts_by_tax posts_per_page="7" taxonomies="category,post_tag" order="ASC"]