Di Balik “Caper” Amien Rais

Di Balik “Caper” Amien Rais
Istimewa
6 minute read

Kritikan Amien Rais pada Jokowi dalam Rakornas PA 212 dianggap berbagai pihak terlalu berlebihan. Apakah ini cara Amien dalam mencari perhatian?


PinterPolitik.com

“Sedikitnya perhatikan perkataan Anda, jangan sampai pernyataan itu merusak peruntungan Anda.” ~ William Shakespeare

Sebagai sastrawan legendaris asal Inggris yang telah menulis sekitar 38 sandiwara tragedi, nasihat Shakespeare untuk memperhatikan apa yang akan diucapkan di muka umum, sepertinya harus diingat baik-baik. Sebab hanya gara-gara gemar berbicara, Socrates harus mengalami kematian tragis dengan meminum racun.

“Tibalah kini saat kita berpisah, aku menjelang mati dan kalian menempuh hidup, mana yang lebih baik, hanya Tuhan mengetahui.” Begitulah pidato terakhir Socrates di hadapan para muridnya, sebelum denyut nadi filsuf aliran klasik tersebut berhenti secara perlahan. Kematian menyakitkan gurunya itu, kemudian diabadikan Plato dalam buku Apologia.

Buku yang mengisahkan epilog kehidupan Bapak Filosofi Barat ini, merupakan versi lain dari semangat dramaturgi kebudayaan Athena di kehidupan nyata. Namun setidaknya, dari buku itu para Socratics dapat belajar mempertahankan prinsip secara lugas, menghantam lawan tanpa takut, namun tetap tidak kehilangan kerendahan hati.


Kerendahan hati, mungkin elemen itu yang kurang dirangkum dalam pidato Amien Rais di Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Persaudaraan Alumni (PA) 212, di Cibubur, Jakarta, Selasa (29/5) lalu. Di hadapan para peserta demo Bela Islam berjilid tersebut, Amien secara tegas menyatakan kalau Jokowi akan dilengserkan oleh Allah SWT.

Ketua Majelis Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN) yang telah berusia 74 tahun ini, memang dikenal sangat vokal mengkritisi Jokowi, bahkan sebelum mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut menjabat sebagai presiden ketujuh. Sudah berkali-kali pula, mantan Ketua MPR ini yakin kalau Jokowi akan segera dilengserkan.

Meski begitu, pernyataannya kalau Jokowi akan dilengserkan Allah, akhirnya menuai kritikan tajam. Bahkan politikus Golkar Ali Muchtar Ngabalin yang kini berada di jajaran staf kepresidenan, mengingatkan Amien untuk menjaga lisannya dan tidak bertindak layaknya Allah dengan menentukan takdir seseorang seenaknya.

Baca juga :
Mahfud MD, Golden Ways KPK

Entah karena peringatan Ngabalin, atau Amien yang menyadari kalau pernyataannya sudah kelewat batas, belakangan muncul wacana untuk mempertemukan Ketua Dewan Penasihat PA 212 tersebut dengan Jokowi. Bahkan, Amien sendiri sudah membuka pintu rumahnya bila Jokowi ingin bertemu.

Perubahan sikap Amien ini, pada akhirnya menimbulkan pertanyaan, apakah Amien sebenarnya berusaha mencari perhatian (caper) pada Presiden selama ini? Ataukah ada maksud lain dari undangannya, sebab secara tegas Bapak Reformasi ini tidak mau bertemu di istana? Sebenarnya, ada apa di balik sikap capernya itu?

Manuver Komunikasi Sang Kancil

“Perkataan adalah cermin dari jiwa; saat seseorang berbicara, seperti itulah dirinya.” ~ Publilius Syrus

Walau bukan filsuf, namun nama Publilius Syrus sangat terkenal sebagai penulis hebat di era 83-45 SM. Bahkan konon, Brutus dan Julius Caesar saja begitu mengagumi karya-karyanya. Meski begitu, pengalamannya yang sempat dijual ke Romawi sebagai budak asal Suriah, membuat Syrus dikenal sebagai seseorang yang sangat rendah hati.

Contideam natur qui semper timet” atau yang secara bebas diterjemahkan menjadi “Yang setiap hari menuduh adalah yang selalu takut” merupakan adagium Syrus paling terkenal. Menurutnya, orang yang selalu curiga akan senantiasa melihat kekurangan pada orang lain dan lupa dengan kekurangannya sendiri.

Bila ditarik pada pernyataan Amien yang selalu menuding dan menjelek-jelekkan Jokowi, apakah itu juga dapat diartikan kalau ia tengah takut atau mencurigai sesuatu? Namun di sisi lain, Psikolog Behavioristik BF. Skinner memandang, bisa saja tudingan yang selalu dilontarkan Amien memang memiliki tujuan tertentu.

Bila dilihat dari acara yang dihadiri, yaitu Rakornas PA 212 yang notabene merupakan kelompok yang berseberangan dengan Pemerintah, pidato Amien memang dapat dikatakan berada di tempat yang tepat. Bisa jadi, Amien memang sengaja atau merencanakan untuk mengatakannya guna memberikan stimulus dan respons yang sama dari yang hadir.

Baca juga :
RUU KKS: Dilema Jokowi-BSSN

Sebagai tokoh yang terkenal agamis, Amien juga sangat mungkin membawa-bawa nama Tuhan dalam upaya memperkuat argumentasinya. Terlepas dari etis atau tidak, bagi sebagian umat, pidatonya bisa jadi menggetarkan. Keahlian ini, menurut Psikolog Kognitif Noam Chomsky, biasanya memang merupakan bakat yang dibawa sejak lahir.

Praduga Chomsky ini, ternyata dibenarkan oleh Sri Bintang Pamungkas yang mengatakan kalau Amien Rais memang sejak dulu sudah pandai bicara. Sosok yang sempat dijuluki “si kancil” berkat kecerdikannya bermain kata-kata dengan Soeharto di masa pergolakan reformasi lalu, memang diakui kepandaiannya bersilat lidah saat berorasi.

Elaborasi Pemikiran Pendekar Chicago

“Semua ucapan sia-sia dan kosong, kecuali jika disertai dengan tindakan.” ~ Demosthenes

Orator legendaris dari Athena, Demosthenes, sudah membuktikan sendiri bahwa kata-kata saja tak cukup tanpa disertai tindakan. Akibat gagap yang dideritanya, ketika kecil Demosthenes bukan saja ditertawakan semua orang di muka umum, tapi juga harus kehilangan warisan kekayaan orangtuanya yang telah meninggal.

Namun dengan kemauan dan tekad yang kuat, Demosthenes mampu mengalahkan kekurangannya tersebut. Ia bukan saja berkembang menjadi orator profesional yang begitu dikagumi kata-katanya dan menjadi pemimpin penting dalam politik Athena, tapi juga berhasil merebut kembali warisan orangtua dari dompet walinya yang serakah.

Walau tidak memiliki masa kecil kelam seperti Demosthenes, namun Amien Rais juga dikenal sebagai orator dan pemimpin politik di tanah air. Mantan Ketua MPR yang pernah dituding sebagai sosok yang paling bertanggung jawab mengusik kesucian UUD 1945 melalui empat kali amandemen ini, latar belakangnya juga tidak sembarang.

Sepak terjang Amien sebagai alumnus Chicago University, tentu tak bisa lepas dari jaringan koneksi almamaternya yang konon disebut sebagai Chicago Connection. Sehingga belum tentu kritikan yang Amien lontarkan pada Pemerintah, hanya sekedar ungkapan emosional dirinya semata.

Sebagai politisi andal, Amien yang dijuluki sebagai “pendekar Chicago” oleh Gus Dur ini, tentu juga menyadari efek dari pernyataannya tersebut. Berdasarkan teori relativitas linguistik, setidaknya ada tiga dampak yang menjadi tujuan sebuah pernyataan, yaitu membuat pendengarnya berpikir, mempengaruhi persepsi, dan mengubah pola pikirnya.

Baca juga :
Kutukan Kumis Menpora

Sehingga, kalau ditilik dari ucapan Amien yang membawa nama Tuhan, bisa jadi Amien berusaha untuk menguatkan stigma buruk kepemimpinan Jokowi dengan mengaitkannya pada agama. Di sisi lain, gencarnya kritikan Amien pada Jokowi sangat dimungkinkan karena ia memiliki informasi yang masyarakat, atau bahkan Jokowi sendiri, tidak tahu.

Dalam sejarah, Amien telah membuktikan kalau tujuannya dalam memperjuangkan demokrasi, membuat dirinya menjadi salah satu orang yang paling bertanggung jawab dalam menumbangkan pemimpin negeri ini. Bukan hanya Soeharto, tapi juga Ketua PBNU dan presiden keempat Indonesia, Gus Dur.

Jadi bila ingin mengelaborasi atau mengasumsikan apa yang sebenarnya ingin disampaikan mantan ketua umum PAN ini, berdasarkan Teori Elaborasi atau Elaboration Likelihood Theory (ELT), ada baiknya untuk memproses pernyataan Amien tersebut dengan lebih mendalam, hati-hati, dan kritis.

Pertama, apakah pernyataan Amien ini termasuk argumen yang kuat (strong arguments) berupa peringatan kalau Jokowi sebentar lagi akan segera dilengserkan? Siapa kekuatan itu? Berkaca dari kebijakan proteksionis Jokowi dan kedekatannya dengan Tiongkok serta Rusia, sangat mungkin Jokowi memiliki musuh dari pihak asing.

Kedua, mungkinkah pernyataan Amien ini hanyalah sekedar “menyenangkan” dan mengobarkan semangat anggota PA 212 untuk tidak memilih lagi Jokowi di Pilpres 2019 nanti? Sehingga pernyataannya tersebut dapat dianggap sebagai pepesan kosong (neutral arguments) atau malah membuat pendengarnya kecewa (weak arguments)?

Sejauh ini, pidato Amien Rais masih terkesan argumentasi netral dan cenderung lemah, mengingat banyak pihak yang menyayangkan pernyataan tersebut. Namun, undangan Amien agar Jokowi bertandang ke rumahnya, tentu juga menimbulkan asumsi tersendiri. Mungkinkah di saat pertemuan itu, sang pendekar akan mengeluarkan senjata pamungkasnya? Menarik untuk ditunggu. (R24)