Di Balik Candaan Presiden Kertanegara

Di Balik Candaan Presiden Kertanegara
Karangan-karangan bunga ucapan selamat atas kemenangan Prabowo-Sandi dipasang di depan rumah Prabowo di Jalan Kertanegara. (Foto: Era)
7 minute read

Warganet baru saja diramaikan oleh kemunculan beberapa titik lokasi Google Maps di Jalan Kertanegara yang bertuliskan “Istana ‘Presiden’ Kertanegara” beberapa waktu lalu. Selain titik lokasi di Google Maps, meme-meme lain yang menyerang Prabowo juga sempat tersebar di media sosial.


PinterPolitik.com

“So I’m telling jokes to distract them while I jump over the back fence” – Martian, penyanyi rap asal Australia

Google Maps kini menjadi wadah untuk membuat candaan atas klaim kemenangan Prabowo Subianto sebagai presiden. Dalam aplikasi tersebut, sempat muncul beberapa titik lokasi baru di Jalan Kertanegara – alamat di mana rumah Prabowo berdiri. Beberapa keterangan yang muncul di antaranya berbunyi Istana “Presiden” Republik Kertanegara dan Istana Pleciden Kertanegara.

Selain kemunculan titik-titik lokasi tersebut di Google Maps, sindiran soal klaim kemenangan Prabowo-Sandiaga Uno juga sempat dilontarkan oleh beberapa anggota Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin. Sindiran tersebut tersebar dalam bentuk video yang berisikan ucapan “Siap, Presiden!” yang menirukan hal serupa yang dilakukan oleh beberapa purnawirawan TNI di hadapan Prabowo beberapa waktu sebelumnya.

Menanggapi ramainya perhatian publik terhadap video sindiran tersebut, Wakil Ketua TKN Jokowi-Ma’ruf, Johnny G. Plate, mengatakan hal tersebut wajar karena Jokowi sendiri merupakan Presiden Indonesia hingga kini. Berbeda dengan Johnny, anggota Dewan Pengarah Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Fadli Zon menyindir balik dengan mengatakan bahwa pemerintahan Jokowi dalam 4,5 tahun ini juga sebenarnya merupakan lelucon.


Berbagai sindiran terhadap Prabowo pun tidak hanya terbatas pada titik lokasi Google Maps dan video “Siap, Presiden!”. Warganet juga sempat diramaikan oleh meme-meme yang menunjukkan desain bendera dan paspor “Republik” Kertanegara.

Terlepas dari saling sindir dan ramainya candaan-candaan warganet, pertanyaan lain pun kemudian timbul. Mengapa candaan-candaan politik yang menyerang Prabowo bisa muncul? Lalu, apakah dampak dari tersebarnya candaan-candaan tersebut?

Candaan Politik

Bercanda dalam politik memang bukanlah hal baru dan telah hadir sejak zaman kuno, yaitu ketika Aristofanes menjadikan politisi-politisi Athena sebagai lelucon dalam tulisannya. Candaan-candaan yang menimbulkan tawa yang ditujukan pada politisi juga dapat menjadi bentuk protes masyarakat terhadap politisi tersebut.

Thomas E. Cronin dari Colorado College dalam tulisannya yang berjudul “Laughing at Leaders” menjelaskan bahwa candaan politik akan terus muncul selama pemimpin politik yang dianggap mengecewakan masih ada. Humor politik sendiri memang sering digunakan oleh masyarakat di tengah-tengah ketiadaan power guna melepaskan kehormatan dan otoritas politik dari para politisi.

Terkait penggunaan humor politik sebagai protes, Marjolein C. ‘t Hart memberikan contoh pekerja dan buruh garmen di Vietnam dalam tulisannya yang berjudul Humor and Social Protest. Dengan mengutip Nghiem Lien Huong, Hart menjelaskan bahwa humor mendasari resistansi kelompok buruh Vietnam terhadap pihak manajemen dengan meningkatkan solidaritas intra-kelompok di bawah kondisi yang represif.

Namun, humor politik tidak hanya digunakan sebatas sebagai bentuk protes. Dalam tulisan Cronin, disebutkan juga beberapa fungsi dari humor politik, yaitu untuk mempertanyakan penggunaan kekuasaan dan penyalahgunaannya, untuk mengkritik kemunafikan, menjelekkan politisi dan ideologi yang tidak disukai, untuk mengkritik kekurangan dan kesalahan personal politisi, dan untuk mengekspos ketidakadilan dan korupsi.

Terkait fungsinya sebagai kritik terhadap kekurangan politisi, hal ini terlihat dari bagaimana anggota delegasi berbagai negara dalam Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tertawa ketika Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berpidato. Seorang diplomat dari salah satu negara di Amerika Latin menjelaskan bahwa tawa tersebut merupakan reaksi naturalnya seiring dengan pernyataan Trump yang dianggapnya dibuat-buat dan tidak masuk akal.

Humor politik digunakan untuk menjelekkan politisi dan ideologi yang tidak disukai dan untuk mengkritik kekurangan dan kesalahan personal politisi. Click To Tweet

Tawa dan humor politik yang menjelekkan Trump tentunya tidak hanya datang dari delegasi-delegasi di PBB. Warganet AS juga sering kali membuat meme-meme politik yang menyindir presiden negara adidaya tersebut.

Salah satunya adalah sampul majalah Time yang menobatkan Trump sebagai person of the year pada tahun 2016 yang dimodifikasi. Dari sampul majalah yang menunjukkan tulisan “President of the Divided States of America”, diubah menjadi “memiliki tangan yang kecil dan tidak bisa membaca”.

Tentunya, candaan politik dalam bentuk meme di AS ini tidak hanya digunakan untuk menyerang Trump. Bahkan, Presiden AS itu sendiri juga menggunakan meme untuk menyerang lawan politiknya yang akan mencalonkan diri sebagai presiden pada tahun 2020, Joe Biden. Melalui unggahan video di akun Twitternya, Trump menyindir pengalaman masa lalu Joe Biden yang pernah menjabat sebagai wakil presiden yang dianggap melecehkan beberapa perempuan.

Jika melihat contoh-contoh di atas, humor politik yang awalnya merupakan bentuk protes, nyatanya juga memiliki fungsi lain sebagai kritik terhadap politisi yang dianggap memiliki kekurangan. Apakah humor politik di Indonesia juga memiliki fungsi yang sama?

Candaan-candaan politik yang menyerang Prabowo bisa jadi merupakan cara pendukung Jokowi untuk mengkritik lawan politik yang tidak disukainya dan yang dianggapnya berperilaku kurang sesuai – seperti klaim kemenangan sebagai presiden di luar hasil hitung cepat yang banyak memenangkan Jokowi-Ma’ruf. Dengan begitu, citra kehormatan dan otoritas Prabowo dapat dianggap terlepas darinya.

Alihkan Isu Kecurangan Pemilu?

Tentunya, humor politik juga memiliki dampak buruk terhadap politisi, penggunanya, dan masyarakat sendiri. Jika kita perhatikan contoh kasus humor yang terjadi di dalam kelompok buruh Vietnam sebelumnya, adanya penguatan solidaritas kelompok melalui humor menunjukkan bahwa humor memiliki fungsi lain, yaitu penguatan identitas kelompok.

Penguatan identitas kelompok ini bisa saja terjadi karena prasangka dan stereotip yang dihasilkan oleh candaan-candaan politik. Cronin menjelaskan bahwa humor politik dapat mendorong kehadiran prasangka, skeptisme, antagonisme, dan kebencian.

Munculnya skeptisme masyarakat melalui humor politik bisa saja merupakan tujuan utama dari humor politik itu sendiri. Hal ini bisa dilihat dari bagaimana komedian-komedian AS menggunakan pertunjukkan-pertunjukkan layar kacanya untuk memengaruhi pemilih di negara tersebut.

Ahli komunikasi dari Loyola University di Maryland, Amy B. Becker, menjelaskan bahwa acara-acara televisi komedi, seperti Saturday Night Live, The Tonight Show Starring Jimmy Fallon, dan Last Week Tonight with John Oliver mencoba membuat para pemilih dalam Pemilu AS 2016 menjadi lebih skeptis terhadap Trump. Dengan sindiran-sindirannya terhadap politisi, pemilih pun semakin mempertimbangkan dan memperhatikan sifat dan karakter politisi yang dijadikan bahan lelucon.

Selain itu, humor politik juga menjadikan isu yang ada dianggap menjadi lebih sederhana oleh publik. Profesor Psikologi David Chan dari Singapore Management University (SMU) dalam tulisannya yang berjudul Jokes about Politics menjelaskan bahwa candaan politik membuat penyederhanaan isu ini juga lebih diterima oleh audiens, sehingga isu tersebut menjadi lebih digampangkan.

Chan menjelaskan bahwa penyederhanaan isu ini terjadi karena candaan politik membawa pesan-pesan sosio-politik spesifik. Inti dari pesan tersebut hanya berfokus pada satu aspek isu tertentu, meskipun sebenarnya isu tersebut memiliki banyak sisi.

Hal ini terlihat dari bagaimana perhatian masyarakat terhadap candaan politik membesar setelah komedi-komedi politik AS disiarkan. Pemberian nama Donald Drumpf oleh John Oliver misalnya, membuat warganet semakin penasaran dan membuat Donald Drumpf menjadi salah satu kata yang paling dicari dalam situs pencarian Google.

Candaan politik yang dilakukan Oliver tersebut memang lebih banyak berfokus pada kualitas dan pengalaman personal Trump. Dalam membahas hal tersebut, Oliver beberapa kali membandingkan Trump dengan hal-hal lainnya, seperti seekor lemur yang sedang menikmati buah pisang, seorang vegan yang cakap dalam karate, dan hadiah pernikahan.

Terkait pertunjukkan komedi Oliver tersebut, Becker pun menjelaskan bahwa hal tersebut membuat penonton lebih memikirkan karakter Trump yang dibanding-bandingkan dengan hal lain daripada isu-isu yang sebenarnya perlu didiskusikan terkait Pemilu AS 2016.

Dari berbagai penjelasan dan contoh tersebut, bisa disimpulkan bahwa humor politik dapat mengalihkan publik dari isu sebenarnya dan memunculkan pandangan skeptis terhadap politisi. Jika hal tersebut dapat terjadi di AS, bagaimana dengan humor politik di Indonesia?

Tentunya, humor politik yang menyerang Prabowo dapat juga memunculkan pandangan-pandangan skeptis terhadap mantan Danjen Kopassus tersebut. Masyarakat bisa saja semakin tidak percaya dengan klaim kemenangan Prabowo sebagai presiden dan isu dugaan kecurangan Pemilu 2019 yang digembar-gemborkan kubu Prabowo-Sandi.

Selain itu, humor politik “Presiden Kertanegara” ini juga dapat mengalihkan fokus masyarakat dari isu sebenarnya dalam Pemilu. Candaan politik tersebut bisa saja membuat publik lebih memperhatikan sifat-sifat Prabowo yang ditampilkan buruk oleh humor-humor politik dibandingkan dengan isu dugaan kecurangan dalam Pemilu 2019.

Jika benar seperti itu, lirik rapper Martian pun menjadi relevan, bahwasanya candaan-candaan memang digunakan untuk mengalihkan fokus karena memiliki kepentingan tertentu di belakangnya. Lagi pula, bercanda juga perlu ada batasnya, kan? (A43)

[related_posts_by_tax posts_per_page="7" taxonomies="category,post_tag" order="ASC"]