Dewi Fortuna Itu Bernama Gesits

Dewi Fortuna Itu Bernama Gesits
Foto : Twitter
7 minute read

Peluncuran Gesits adalah golden momentum bagi Jokowi dalam menciptakan counter-attack serangan-serangan oposisi terkait realisasi mobil Esemka


PinterPolitik.com

Nasib mobil Esemka boleh jadi hanya dianggap menjadi mimpi masa lalu Jokowi dan Ma’ruf Amin dalam kampanye politiknya beberapa waktu lalu. Namun pada kenyataannya, mimpi produksi kendaraan nasional nampaknya masih menjadi komoditas politik paling menjual dalam konteks menghadapi Pilpres 2019.

Kemarin, Jokowi kembali menghebohkan jagat maya maupun nyata selepas meresmikan dan melakukan uji coba terhadap Gesits, merek komersil untuk motor listrik nasional yang telah dikembangkan oleh Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) sejak 2015 lalu.

Bekerja sama dengan PT Gesits Technologies Indo dan PT Wika Industri dan Konstruksi, salah satu BUMN terkemuka milik Indonesia, rencananya motor listrik pertama buatan dalam negeri ini akan diproduksi secara massal pada Januari 2019 mendatang.

Lalu bagaimanakah sebenarnya peluang dan tantangan yang akan didapat Jokowi dengan momentum meluncurnya Gesits di pasar otomotif Indonesia? Mungkinkah Gesits akan bernasib sama dengan Esemka atau justru akan menjadi keberuntungan Jokowi 5 bulan jelang Pilpres 2019?

Dewi Fortuna Itu Bernama Gesits

Menjual Optimisme

Nasionalisme selalu menjadi topik penting menjelang pemilu. Dan kini, nasionalisme dan identitas kebangsaan bisa semakin dikuatkan melalui optimisme kendaraan nasional yang kembali digulirkan pemerintah melalui program motor listrik Gesits.

Dalam konteks bisnis, sebenarnya ambisi mobil nasional adalah dilema tersendiri bagi negara-negara berkembang. Hal ini menyangkut daya saing pasar dan ketergantungan yang telah terjadi pada produk-produk otomotif negara maju.

Kehadiran Gesits ini berpotensi semakin meningkatkan national pride dan national identity Indonesia Click To Tweet

Terlebih, pasar kendaraan bermotor negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia telah dikuasai oleh produk-produk Korea, Jepang, Amerika dan Eropa.

Meskipun demikian, hampir sebagian besar negara-negara berkembang di Asia Tenggara memiliki ambisi untuk membangun industri mobil nasional.

Malaysia misalnya, sudah memulai proyek mobil nasional sejak era Mahatir Mohammad. Proton adalah merek mobil nasional milik Malaysia yang bertahan akibat adanya upaya proteksionisme pemerintah Malaysia di awal perkembanganya. Dengan melakukan monopoli pasar, akhirnya mobil nasional ini mampu bertahan merajai pasar otomotif Malaysia.

Begitu juga Thailand yang memiliki mobil nasional bermerek Thairung. Selain itu, Vietnam juga merilis mobil nasional bermerek Vinfest pada event Paris Motor Show 2018.

Secara politik, optimisme kendaraan nasional memang penting. Kehadiran Gesits ini berpotensi semakin meningkatkan  national pride dan national identity Indonesia, terutama menyoal prestise di kancah internasional.

Hal ini sesuai dengan argumentasi Fiona Cunningham dalam jurnalnya yang berjudul The Stellar Status Symbol di mana ia mencontohkan dalam konteks  pengembangan pesawat luar angkasa Tiongkok, semangat national pride dan national identity inilah yang mendorong pemerintah Tiongkok mendukung proyek pesawat luar angkasa ini.

Pencarian status sebagai negara superpower ala Tiongkok tidak harus menggunakan cara-cara konvensional dengan membangun kekuatan militer atau semacamnya. Hal itu dapat  dilakukan hanya dengan legitimasi ilmu pengetahuan dan teknologi.

Cunningham  menambahkan bahwa motif mencari status sebagai negara mandiri dan berdaya dalam panggung internasional adalah salah satu keuntungan yang akan diperoleh Tiongkok dari program ini.

Dalam konteks Indonesia, membangun kendaraan nasional juga adalah sebagai pembuktian bahwa sebuah negara tidak hanya mampu dalam pengembangan industri tetapi juga ilmu pengetahuan dan teknologi.

Strategi semacam ini juga pernah diaplikasikan dalam strategi pembangunan ala Soeharto yang kala itu melalui proyek pesawat terbang dan mobil nasional, berhasil membangun identitas sebagai negara maju dan besar.

Dalam optimisme peluncuran Gesits, proyek yang melibatkan Pusat Unggulan Iptek Sistem dan Kontrol Otomotif  Institut Teknologi Sepuluh Nopember atau PUI SKO ITS, sebagai salah satu kampus teknologi terbaik di Indonesia ini, membuat kehadirannya menambah sumbangan teknologi ramah lingkungan bagi dunia.

Dalam konteks tersebut, Gesits diklaim memiliki efisiensi energi yang lebih tinggi karena tidak menimbulkan emisi karbon dioksida yang selama ini menjadi momok bagi kerusakan lingkungan karena motor ini menggunakan bahan bakar berupa baterai yang memiliki kapasitas 5000 WH dan berjenis lithium ion.

Oleh karena itu, melalui Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), pemerintah mengintervensi dengan memberikan bantuan dana riset sebesar 5 miliar rupiah untuk mengembangkan motor listrik ini.

Sehingga, realisasi motor nasional ini pada akhirnya dapat diterjemahkan sebagai bagian dari keberhasilan pemerintahan Jokowi dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Sementara itu, dalam konteks ekonomi, secara demand motor ini cukup memiliki peminat yang besar. Bahkan, seperti dilansir CNN, sebelum peluncurannya dilakukan pada bulan ini, Gesits Technologies Indo (GTI), nama perusahaan yang menaungi produksi motor ini, sudah memprediksi bahwa produksi awal setidaknya menembus 25.000 unit. Angka itu didapat dari seluruh pesanan yang sudah terkonfirmasi ditambah pernyataan minat masyarakat yang sudah terkumpul.

Selama ini, jika mengacu pada dua hukum keunggulan absolut dan komparatif milik ekonom David Ricardo, membuat mobil nasional sebenarnya bukan pilihan rasional bagi negara-negara Asia Tenggara karena alasan skala produksi dan permintaan (supply and demand side) yang tak seimbang di mana keunggulan komparatif pasar otomotif telah dikuasai oleh Jepang, Korea, Amerika dan Eropa. Logikanya, kendaraan nasionalisme sudah kalah merek dengan produk-produk Honda, atau Yamaha misalnya.

Namun fakta besarnya permintaan motor Gesits di atas tentu sedikit banyak telah mematahkan argumen Ricardo. Jika produksi mobil Esemka selama ini tersendat karena kurangnya permintaan pasar, maka kehadiran Gesit bisa jadi membawa optimisme tersendiri bagi pasar nasional.

Jika dibandingkan dalam kasus Esemka, konsumen diprediksi akan berhitung ulang untuk membeli mobil berambang garuda ini, maka kali ini rasionalisme pasar bisa saja berubah.

Gesits, Dewi Fortuna Jokowi

Dewi Fortuna yang biasa digambarkan sebagai dewi keberuntungan memang sedang menghampiri petahana menjelang Pilpres 2019. Ditengah kegaduhan oposisi yang kencang menyerang petahana dengan isu mobil Esemka, kini kemunculan Gesits akhirnya bisa saja menjadi kartu truf bagi kubu petahana untuk menyerang balik oposisi.

Kemunculan Gesits ini adalah golden momentum bagi Jokowi dalam menciptakan counter-attack serangan-serangan oposisi terkait realisasi mobil Esemka. Menyoal timing peluncuran misalya, Jokowi termasuk pandai memperhitungkan secara politis.

Padahal, sebelumnya seperti di lansir Tempo, melalui Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), pada rencana awalnya Gesits akan diluncurkan bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan ke-73 Republik Indonesia yang berarti harusnya di launching 17 Agustus tahun ini.

Namun, seiring dengan kencangnya kritik oposisi terhadap mobil Esemka, dengan meluncurkanya pada saat ini, Jokowi kini dapat kembali menjadi playmaker dalam isu kendaraan nasional yang sebelumnya sempat dipermasalahkan.

Di samping itu, kehadiran Gesits kali ini bisa saja akan mengembalikan  unique selling point dari Jokowi yang sempat tenggelam bersama Esemka.

Sebelumnya, proyek Esemka memang membuat Jokowi menjadi politisi fenomenal sejak menjabat sebagai wali kota Solo dan membuat ia berbeda dari politisi lain.

Namun, produksi Esemka pada kenyataannya hanya berhenti sebagai jargon politik pasca ia menjadi Gubernur DKI Jakarta mengingat minimnya demand yang ada.

Oleh karena itu, setelah sukses membangun Esemka sebagai personal branding dalam langkahnya menuju kursi DKI 1, kini ia melakukan hal yang sama melalui Gesits menjelang Pilpres 2019.

Momentum tersebut sangat sesuai jika merujuk dalam teori personal selling. Dalam teori ini, terdapat kondisi “right set of circumstances”  di mana penekanan utamanya adalah bahwa dalam keadaan tertentu yang berlaku dalam situasi penjualan tertentu, memaksa sang penjual harus merespons kondisi tersebut dengan cara yang dapat diprediksi.

Dengan kata lain, teori ini adalah teori yang berorientasi pada penjual dan menekankan bahwa penjual harus mengendalikan situasi sedemikian rupa sehingga menghasilkan penjualan maksimal pada akhirnya.

Dalam kasus Gesits, proyek ini membuat Jokowi pada akhirnya mampu mengendalikan situasi politik dan akhirnya menjadi momentum yang cukup menguntungkan dan menjual.

Akhirnya, apabila Gesits kini mampu diwujudkan menjadi motor listrik nasional tahun depan, bukan tidak mungkin proyek ini akan menjadi proyek mercusuar Presiden Jokowi yang tentu saja akan menjadi barang mewah yang akan menjadi legacy bagi Jokowi dan mengantarkanya kembali meraih kursi kekuasaan pada 2019. (M39)