Debat Capres Bikin Galau?

cek fakta debat capres
Istimewa
3 minute read

“Surat suara lebih kuat dari pada peluru.” ~Abraham Lincoln


PinterPolitik.com

Setelah nonton debat capres tanggal 17 Februari kemarin, kepalaku jadi cenat-cenut tiada henti. Galau gitu, siapa yang mesti ku pilih. Kedua calon ini cukup menjatuhkan ekspektasiku selama ini. Yang satu terlalu overclaim, yang satunya lagi cuma bisa banyak ngasih apresiasi karena kekurangan bahan debat. Ada yang mengalami hal yang sama? Ahhh, jangan-jangan, kita jodoh. Hehehe.

Menurutku ini benar-benar aneh loh, debat kandidat itu kan harusnya bisa dijadikan ajang untuk mengetahui kapasitas calon pemimpin, ajang untuk meyakinkan pemilih harus memilih siapa. Ehh, ini malah jadi galau melebihi ditinggal gebetan jalan sama pacar barunya.

Tapi ya, sekecewa-kecewanya kita dengan performa para calon pemimpin kita, golput tetap tidak boleh menjadi pilihan loh. Ehh, maksudnya lebih baik jangan golput. Nggak kebayang deh kalau banyak yang golput, bisa berantakan demokrasi kita.

Ingat kata pepatah, selalu ada yang terbaik di antara yang tidak baik. Tapi bukan berarti ku memandang para kandidat kita ini tidak baik loh ya, cuma belum meyakinkan saja. Ku harap masih ada harapan.

Sekarang mari kita coba menilai lebih objektif, kira-kira di antara kedua kandidat mana yang bisa merangkul semua golongan? Bangsa Indonesia itu kan macam-macam ya, jadi pemimpinnya juga harus yang bisa mengayomi semuanya. Jangan sampai ada yang merasa dianaktirikan.

Baca juga :
Ramalan Mahfud Jadi Kenyataan!

Tahu nggak sih, gara-gara kita terlalu fokus dengan politik identitas, kita jadi lupa melihat kinerja atau estimasi potensi kinerja para kandidat. Nah, mungkin yang selama ini bikin kita galau karena kita terlalu terfokus sama identitas. Maunya si anu karena satu suku, tapi kinerjanya diragukan. Mau calon lain, tapi beda suku. Yowis, akhirnya pilih golput. Gitu nggak?

Golput bukan jalan keluar yang baik untuk mengekspresikan kekecewaan... Click To Tweet

Kayaknya kita harus membuang pemikiran itu jauh-jauh deh. Lebih baik kita lihat kebijakan yang ingin mereka terapkan, kira-kira kebijakan mana yang lebih dibutuhkan untuk masa depan negara. Kalau kata Scott Berkun, tujuan demokrasi adalah untuk melakukan kebaikan terbesar dalam jangka panjang. Bukan buat agar bisa dipilih lagi dan lagi. Ups…

Terus kalau soal penampilan ya, banyak kok presiden hebat yang ternyata punya penampilan yang kurang menarik. Misalnya saja Thomas Jefferson, yang ternyata nggak pandai dalam berpidato. Meski begitu, siapa yang bisa mendustakan jasa-jasanya untuk negaranya?

Mungkin saat ini kita hanya perlu menutup mata dan mendengar setiap debat atau wawancara para kandidat. Nggak usah lihat dia ganteng atau ndeso, gagap atau pintar beretorika, tua atau muda, kita analisis aja tentang apa yang mereka katakan, baik atau nggak untuk kemajuan ibu pertiwi.

Gimana nih? Kalau masih galau, kayaknya kalian perlu baca beberapa tulisan In-Depth di Pinterpolitik.com. Misalnya saja artikel berjudul “Di Balik Keliru Data Jokowi” atau “Prabowo Dibayangi Oligarki Nasionalis?” Banyak membaca akan mempermudah kamu dalam menimbang-menimbang pilihan. Biar apa? Biar nggak golput.

Baca juga :
Pileg 2019

Pokoknya, jangan sampai golput deh. Coba lihat masyarakat di Norwegia, mereka rasanya aneh kalau nggak memilih, karena mereka sadar betapa pentingnya ikut memilih pemimpin. Hubungan antara masyarakat dan pemimpinnya juga baik. Pantas saja dinobatkan sebagai The Best Democracy in the world selama enam tahun berturut-turut versi the Economist Intelligence Unit. Kalau Indonesia kapan? (F41)

Facebook Comments