“Dalam waktu dekat akan banyak deklarasi baru. Tokoh-tokoh bangsa akan bergabung dengan Partai Perindo” – Hary Tanoesoedibjo, Ketua Umum Partai Perindo
Tidak selamanya logika marketing periklanan berhasil dalam dunia politik. Setidaknya ini terlihat pada kasus Partai Persatuan Indonesia (Perindo) yang gagal lolos ke DPR pada Pemilu 2019, meski sudah mengeluarkan dana besar untuk iklan televisi.
Berdasarkan data PT Sigi Kaca Pariwara, Perindo merupakan partai politik (parpol) yang belanja iklan terbesar, yaitu Rp82,73 miliar dari total Rp602,98 miliar belanja iklan parpol di 13 stasiun televisi yang ikut terlibat pada Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019.
Tentu belanja iklan ini bukanlah sesuatu yang sulit bagi Ketua Umum Perindo Hary Tanoesoedibjo, yang juga merupakan pemilik MNC Corporation. Perusahaan yang mengendalikan berbagai media mulai dari radio, cetak, media online, dan televisi.
Tidak lolosnya Perindo ke DPR, seolah mengindikasikan bahwa belanja iklan di televisi bukan penentu utama kemenangan. Kampanye melalui iklan meski terkesan modern dan mudah diukur, rupanya tidak mempengaruhi perilaku pemilih.
Nah, mungkin kondisi semacam ini yang membuat Hary Tanoe mencoba memformulasikan strategi baru yang akan digunakan untuk menghadapi Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 mendatang. Hal ini dapat dilihat dari hadirnya Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi menjadi Ketua Harian Nasional Perindo.
Hary Tanoe, meski tidak secara detail, menyebut bahwa akan ada sejumlah tokoh yang nantinya mengikuti jejak TGB untuk bergabung dengan Perindo.
Partai ini membutuhkan sentuhan tokoh yang mumpuni untuk mendongkrak suara pemilih. Inilah bukti bahwa realitas politik Indonesia masih menjadikan tokoh sebagai variabel utama, sedangkan instrumen di luar itu masih saja menjadi variable supporting.
Mungkin saja, Perindo masih percaya dengan fenomena efek ekor jas. Dengan memiliki tokoh yang punya popularitas, harapan Perindo tentu saja adalah limpahan suara pemilih tokoh tersebut juga berimbas bagi partai.
Anyway, soal bergabungnya TGB dan sejumlah tokoh yang dijanjikan Hary Tanoe, kok terkesan Perindo seperti belanja pemain ya? Jadi kalau sebelumnya banyak belanja iklan, sekarang sudah beralih nih ke belanja pemain? Mirip klub bola aja nih Perindo. Hehehe.
Hmm, bicara soal klub bola yang suka belanja pemain, jadi ingat Manchester City nih. Klub asal Inggris ini dikenal paling rajin belanja pemain setelah dibeli oleh Sheikh Mansour lewat Abu Dhabi United Group pada Agustus 2008 silam.
Perlu di catat loh, meski The Citizens sudah menghabiskan €1,04 miliar atau setara Rp17,5 triliun buat belanja pemain, tapi prestasi klub rival sekota Manchester United ini belum memberikan hasil yang spektakuler dibanding klub-klub besar lainnya.
Oleh sebab itulah, banyak pihak melempar kritik ke Manchester City yang disebut boros belanja tapi minim prestasi. Mungkin sepakbola dan politik punya sedikit kemiripan di sini, yakni keduanya memiliki variabel-variabel yang tidak terbeli oleh uang.
Nah, pengalaman Manchester City ini mungkin dapat menjadi pelajaran yang penting. Ketimbang belanja pemain politik, lebih baik Perindo mencetak pemain politiknya. Btw, Pindahnya TGB ada biaya transfer gak ya? Uppss. Hehehe. (I76)