“Kenapa nama Spartan? Kita pakai karena kata Spartan lebih bertenaga daripada relawan, tak kenal henti pada loyalitas pada kesetiaan, yakin penuh percaya diri,” – Guntur Romli, Politikus PSI
Gerakan relawan memang tidak ada habisnya. Baru-baru ini, muncul gerakan yang menamakan diri Ganjarian Spartan. Mereka menggelar deklarasi dukungan kepada Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo sebagai calon presiden pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024.
Kelompok ini diisi oleh sejumlah pegiat media sosial (medsos) – seperti Ade Armando, Politikus PSI Guntur Romli, Eko Kuntadhi, hingga Denny Siregar.
Sedikit memberikan konteks, nama-nama di atas sudah tidak asing karena mereka populer di media sosial (medsos). Sering kali, mereka menjadi barisan terdepan membela kebijakan pemerintah di bawah Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Kini, mereka membentuk kelompok relawan dan mengatasnamakan diri sebagai para Spartan. Kebetulan, nama Spartan ini juga pernah digunakan Presiden Jokowi ketika masih menjadi Gubernur DKI Jakarta pada tahun 2012.
Jokowi saat itu mengatakan dirinya sebagai spartan, atau sebagai orang yang gila bekerja dan tak mengenal waktu.
Anyway, semua pasti tidak asing kan dengan pasukan Spartan? Istilah itu merujuk pada orang-orang yang tinggal di kota Sparta, Yunani Kuno, sekitar tahun 400 SM.
Para Spartan mengabdikan diri untuk berperang. Mereka mempunyai semboyan yang dipegang teguh, yaitu, “datang kembali dengan perisai,” yang kira-kira bermakna bahwa pasukan Spartan tidak dibolehkan kembali kecuali dengan kemenangan.
Lantas, bagaimana jadinya jika Spartan yang merupakan “pasukan khusus” Ganjar ini merupakan para pegiat medsos? Tentu, masyarakat akan menilai ini tidak lain adalah “pasukan buzzer”.
Dalam konteks politik praktis, buzzer punya tempat yang signifikan sebagai pendengung sebuah wacana atau isu politik karena platform media populer seperti Twitter, Facebook, TikTok, dan Instagram dibanjiri oleh ribuan perbincangan politik.
Akun-akun yang aktif menyebarkan informasi seperti ini kemudian kita kenal dengan istilah ‘buzzer’, yang dimaknai sebagai pendengung isu. Biasanya, mereka mulai mendapat sorotan ketika musim kampanye tiba.
Ini kemudian dibuktikan oleh hasil riset dari Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) yang mewawancarai 78 orang buzzer pada awal Oktober 2022.
Riset tersebut membenarkan bahwa buzzer memang menjadi alat bagi para elite politik dan elite ekonomi di Indonesia untuk memanipulasi opini publik di media sosial. Bahkan, Ward Berenschot, peneliti KITLV yang terlibat dalam riset tersebut, mengatakan bahwa ada orang dari circle pemerintah yang menggunakan jasa buzzer.
Di sinilah celah kritisnya. Ketika buzzer sudah terang-terangan mengklaim dirinya sebagai relawan politik. Tentu, hal ini kontras dengan raison d’etre dari visi besar relawan politik.
Sebagai contoh, kita lihat, di Amerika Serikat (AS), aktivitas relawan sudah berlangsung begitu lama. Sampai-sampai, gerakan mereka ini diistilahkan dengan Political Action Committee (PAC).
Michael Levy dalam tulisannya Political Action Committee (PAC) menguraikan kalau PAC sejatinya bertujuan untuk memobilisasi pengumpulan dana kampanye seorang kandidat yang sedang bertarung dalam pemilihan umum (pemilu) untuk meraih sebuah jabatan politik.
Umumnya, PAC ini dibentuk untuk menyalurkan kontribusi sukarela yang mereka kumpulkan untuk mendukung seorang kandidat.
Persoalannya, apa jadinya jika relawan itu adalah seorang penyedia jasa buzzer seperti yang telah di jelaskan di atas? Apakah masih murni menjadi relawan?
By the way, “tingkah” relawan semacam ini pernah loh diramalkan oleh Meggy Z melalui lagunya yang berjudul “Sakit Gigi” seperti syairnya sebagai berikut:
Putus lagi cintaku
Putus lagi jalinan kasih
Sayangku dengannya
Cuma karena rupiah
Lalu engkau berpaling muka
Tak mau menatap lagi
…
Daripada sakit hati
Lebih baik sakit gigi ini
Biar, tak mengapa
Rela, rela, rela, aku relakan
Rela, rela, rela, aku rela
Hmm, Bang Meggy Z aja bilang, “cuma karena rupiah, lalu engkau berpaling muka.” Jadi, benar nih persoalan “rupiah” begitu sensitif. Oh, iya, pada syair terakhir, malah lebih jelas kalau ini lagu “rela, rela, rela, aku rela(wan)”. Upppsss. Hehehe. (I76)