“Pokoknya, Dewan Kolonel ini adalah satu-satunya dengan tujuan mendukung Mbak Puan di 2024. Itu sekali lagi, tentu kami masih menunggu keputusan Bu Megawati siapa yang akan ditunjuk,” – Johan Budi, anggota DPR RI Fraksi PDIP
Baru-baru ini, kemunculan kelompok baru bernama “Dewan Kolonel” mendapat atensi banyak pihak. Mereka berasal dari sekumpulan kader PDIP yang mendukung Ketua DPR Puan Maharani untuk maju sebagai calon presiden (capres) 2024.
Anggota DPR dari Fraksi PDIP Johan Budi terang-terangan mengakui bahwa ia yang mengusulkan dibentuknya Dewan Kolonel.
Mantan Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu mengungkapkan, hingga kini anggota Dewan Kolonel berjumlah dua belas orang. Awalnya, hanya berisikan enam orang, tetapi berkembang seiring waktu berjalan.
Layaknya kelompok kepentingan promosional, Dewan Kolonel ini bertugas untuk meningkatkan citra positif Puan untuk menghadapi Pilpres 2024. Hal ini juga menegaskan bahwa anggota fraksi PDIP mempunyai loyalitas yang besar terhadap Puan.
Haniah Hanafie dalam bukunya Kekuatan-kekuatan Politik, menjelaskan bahwa kemunculan kelompok kepentingan promosional biasanya tersistemasi dan punya corak kerja yang berbeda-beda. Ada yang muncul dari bawah ke atas, dan ada juga yang muncul dari atas ke bawah.
Dewan Kolonel kemungkinan menggunakan corak dari atas ke bawah atau top–down. Mereka menggunakan privilege–nya untuk mensosialisasikan Puan ke daerah pemilihan (dapil) mereka masing-masing.
Ini sekiranya berbeda dengan konsep relawan yang bercorak bottom-up. Relawan umumnya muncul dari akar rumput untuk mendukung salah satu kandidat.
Menariknya, istilah Dewan Kolonel ini menjadi perbincangan berbagai pihak. Ada yang menebak kalau istilah itu terinspirasi dari Dewan Jenderal yang pernah booming di era Presiden Soekarno dulu.
Jika benar demikian, bisa dikatakan kalau penggunaan istilah Dewan Kolonel berarti turun kasta dong? Bukankah Kolonel secara hierarki militer masih berada di bawah Jenderal?
Anyway, dari sudut pandang yang berbeda, relasi Jenderal dan Kolonel dapat dimaknai dalam konteks kedekatan dengan prajurit atau akar rumput. Secara simbolik, Kolonel merupakan pangkat yang dekat dengan kelompok kecil. Kalau meminjam istilah PDIP, ini bisa dibilang Wong Cilik kali ya.
Narasi Dewan Kolonel juga dikaitkan dengan pangkat tiga bunga melati dalam TNI, yang dimaknai kalau dewan ini ingin juga menghantarkan PDIP meraih kemenangan ketiga dalam Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 mendatang.
Hmm, yang lebih spektakuler di atas semua itu, narasi Dewan Kolonel ini dikaitkan dengan upaya untuk menduetkan Ketua Umum (Ketum) Partai Gerindra Prabowo Subianto dengan Puan Maharani. Jika Prabowo merupakan “Jenderal”, maka Puan adalah “Kolonel”.
Entah kebetulan atau tidak, Prabowo pensiun di TNI dengan tiga bintang di pundaknya. Sementara Puan, Dewan Jenderal-nya memiliki tiga bunga melati. Waduh, sama-sama tiga dong. Hehehe.
Jadi kepikiran, kalau Johan Budi rupanya cerdik juga ya. Di tengah manuver politik para kandidat yang semakin tereskalasi, Johan mampu membuat kelompok yang mungkin dianggap lelucon oleh sebagian pihak, tapi juga punya makna tersendiri bagi pihak lain.
So, pertanyaan penutupnya, benarkah Dewan Kolonel ini merupakan gimmick politik untuk menduetkan Puan dengan Prabowo? Patut kita tunggu cerita selanjutnya. Hehehe. (I76)