Cebong-Kampret, Binatang Politik Indonesia

Kebersamaan Jokowi dan Prabowo di acara Pemilu Damai. (Foto: VOA Indonesia)
7 minute read

Istilah cebong kampret tentu bukan barang baru, dia sudah mengeras semenjak polarisasi pendukung pada Pilpres 2014 lalu. Dengan semakin dekatnya pemilihan presiden 2019, istilah cebong-kampret menemukan aksentuasinya kembali, dia menjadi wadah politik, dia menjadi wacana politik, dalam label binatang tersebut terangkum seluruh olok-olok dan kegenitan berpolitik kita hari ini.


Pinterpolitik.com

Tak seperti pemilihan presiden di dekade sebelumnya, kali ini pilpres Indonesia diwarnai dengan munculnya dua spesies hewan yang turut berkompetisi, cebong dan kampret. Semua ini bermula ketika Kaesang, anak Presiden Joko Widodo memberikan cuitan gurauan kepada Bapaknya yang befoto di raja ampat, sang Presiden dituduh mencari kecebong.

Cuitan tersebut menjadi liar, dan akhirnya justru berbalik menyerang sang penyuit, dia menjadi bumerang, Jokowi dilabeli sebagai kelompok cebong. Diskusi di media sosial berlanjut, tidak lama sampai kemudian kelompok pro Jokowi menemukan satu istilah yang pas, yaitu kampret, awalnya hanya dipergunakan untuk melontarkan kekesalan, namun di kemudian hari berubah menjadi perwajahan binatangnya itu sendiri.

Dari sini kita mafhum bahwa cebong-kampret adalah dualisme yang merepresentasikan dua kelompok politik di negeri ini yang belum bisa akur hingga hari ini.

Olok-olok mempergunakan nama hewan tentu bukan barang baru di Indonesia, istilah nama nama binatang seperti babi, bangsat, jangkrik adalah hewan hewan yang tidak memiliki kelas keburukan di kehidupan, namun ketika namanya dibanalkan dan dikonsensi menjadi olok-olok, dia berubah. Itu pula yang terjadi dengan cebong kampret. 

Binatang di Politik Nusantara

Sejarah panjang nusantara sebenarnya menunjukkan adanya nama-nama binatang yang kerap dipergunakan sebagai satu patronase politik. Orang yang paling berjasa menyatukan nusantara lewat sumpah palapanya, Patih Gajah Mada adalah salah satunya, nama tersebut diambil demi menunjukkan kekuatan yang dia pegang, layaknya gajah yang besar dan perkasa, dia pun sama.

Baca juga :
Jokowi-Prabowo, Siapa Lebih Putih?

Raja paling terkenal dari kerajaan Majapahit, Hayam Wuruk, artinya ayam yang cerdas. Penyematan tersebut sesuai dengan nuansa zaman saat itu dimana di masa Hayam Wuruk, Majapahit mengalami masa kejayaannya, terlebih dalam bidang susastra, beberapa karya magnum opus muncul di masa Hayam Wuruk, diantaranya Sutasoma dan Negarakertagama.

Seorang master-mind, king maker dari kerajaan Majapahit, Aria Wiraraja, juga memiliki julukan, yaitu Banyak Wide. Banyak artinya angsa, sedang wide berasal dari kata widya yang artinya pengetahuan (kebijaksanaan). Banyak Wide memang terkenal sangat cerdas, dialah penasehat kerajaan Singhasari, yang kemudian turut meruntuhkan kerajaan Kadiri, dan membantu membangun kerajaan Majapahit, dia adalah tokoh besar 3 kerajaan di nusantara.

Dapat kita dapati dari 3 label nama tersebut, semuanya memiliki konotasi yang positif, yang menggambarkan kedigdayaan tokoh-tokoh tersebut.

Binatang politik Indonesia, cebong dan kampret bersatulah di TPS terdekat 17 April nanti Click To Tweet

Patahan Paradigma Binatang dalam Politik

Meski nama-nama binatang sempat digunakan untuk julukan yang baik, terjadi satu patahan besar dalam kosmologi epistemologis masyarakat Indonesia, dan hal tersebut sangat dipengaruhi oleh terbitnya fajar budi dari barat yang membawa angin rasionalitas, dan setumpuk corak epistemologisnya.

Hal tersebut ditandai dengan masuknya agama-agama samawi ke Indonesia. Agama agama tersebut cenderung menekankan rasionalitas dalam segala tindak tanduknya.

Hal ini berbeda dari Hindu dan Buddha yang besar di timur sehingga kental dengan konsepsi logis ala timur, di mana bangunan logika yang tersusun bukan keluaran atas logika dikotomi, sebab di peradaban timur, segala kontradiksi direkonsiliasi, dia lebur menjadi satu, tidak ada kekerasan klasifikasi dikotomis.

Corak klasifikasi binatang ala barat contohnya menggunakan kedekatan morfologi dan fisiologi, sehingga kita akan temui sebuah teori yang gigantik, teori evolusi, membeberkan bagaimana spesies berkembang dan klasifikasi di bawahnya, walhasil manusia sebagai produk evolusioner terbarukan dan paling adaptif menempati posisi psikologis paling tinggi, sedang binatang ada di bawahnya.

Baca juga :
Mahfud vs Amien, Ronde Pembuka

Binatang pun masih harus dipilah lagi, mereka yang cenderung kecil tidak akan dikonsiderasi tatkala akan dibunuh, mereka adalah kelompok hewan yang hidupnya tidak pernah diperhitungkan. Lebih mudah menginjak semut hingga mati dibandingkan dengan membunuh kucing, ada satu stratifikasi metafisik dalam kepala kita hari ini.

Sedang di timur merujuk pada aura yang dihadirkan pada setiap hewan yang ada, macan tidak dilihat kedekatannya dengan singa sebagai sesama kucing, namun dia adalah hewan dengan aura yang kejam, singa pun sama. Kupu-kupu juga demikian, dia tidak terklasifikasi sebagai unggas, namun hewan yang indah, dan seterusnya dan sebagainya.

Itulah alasan mengapa di masa pra-agama monoteis binatang adalah hewan yang diagung-agungkan, dia menjadi simbol kekuasaan. Patahan epistemologis ini terjadi ketika agama monoteis dengan corak epistemologis barat melihat manusia sebagai yang superior masuk ke bumi nusantara, bahkan yang berkaitan dengan segala kesurupan kekuatan jahat pastilah termanifestasi dalam bentuk binatang. Dari sinilah dasar mula-mula mengapa label binatang menjadi cara mengolok-olok manusia, dia label untuk merendahkan.

Label Binatang Politik Dunia Internasional 

Tak hanya di Indonesia, nama nama binatang juga kerap kali dipergunakan untuk memberikan status pada tokoh politik luar negeri.

Di Inggris contohnya, mantan Perdana Menterinya yang berasal dari partai konservatif, David Cameron kerap diasosiasikan dengan babi. Julukan ini bermula ketika dia masih menjadi mahasiswa baru di Oxford University, demi bisa masuk ke dalam satu lingkar elite pertemanan, Cameron harus diinisiasi dengan jalan bersetubuh dengan babi, dan kemudian terkuak menjadi rumor tatkala di masuk ke politik.

Julia Gillard juga mengalami hal yang sama, seorang perempuan pertama di Australia yang menjabat sebagai perdana menteri di negeri kanguru. Perempuan yang menjadi Perdana Menteri dari 24 Juni 2010 hingga 27 Juni 2013, tentu tidak mudah, terlebih dia berasal dari partai buruh yang terkenal dengan kentalnya nuansa maskulin. Hingga pada suatu saat dia diolok olok diibaratkan seperti ayam goreng, dengan nada sinis tersebut muncul di makan malam para anggota partai liberal.

Di Benua Afrika, negara seperti Zimbabwe menjuluki presidennya hari ini sebagai kadal. Emmerson Mnangagwa, seorang wakil presiden yang lama duduk di kursi tersebut bersebelahan dengan pendampingnya yang sudah 29 tahun memimpin negara tersebut, Robert Mugabe.

Setelah terjadi kudeta terhadap Mugabe, Zimbabwe memilih Mnangagwa sebagai presiden. Tentu catatan buruk mengitari mereka berdua, karena mereka adalah sosok yang sama sama lahir dan besar dari militer, cenderung untuk mengabaikan HAM di dalam negeri sendiri.

Mnangagwa adalah orang yang sudah sangat lama berada di politik, dan kesabarannya menunggu hingga ia mampu mengkudeta presidennya sendiri adalah sebuah taktik ala reptil, selain karena dia pernah memimpin masukan bernama tim buaya yang membumihanguskan seluruh pemilik lahan pertanian milik orang kulit putih di Zimbabwe.

Semenjak 1963 dan baru kemudian di tahun 2017 mengkudeta adalah proses yang panjang, tentu dengan perhitungan bahwa dia bisa melakukan kudeta beberapa saat sebelumnya, dialah sang kadal, yang mau sabar menunggu mangsa hingga tiba, lalu melahapnya.              

Aristoteles dan Binatang Politik

Wacana soal binatang politik tentu bukan barang baru, bahkan sekelas Aristoteles, seorang filsuf besar semenjak 3600 tahun yang lalu sudah menulis di bukunya soal binatang yang berpolitik. Aristoteles melihat manusia adalah binatang yang berpolitik, bukan sebagai pembeda di tingkat supra, tapi justru di level diferensiasi.

Sebab menurut Aristoteles beberapa jenis binatang yang memiliki ikatan sosial yang kuat juga mempraktikkan politik, dia mencontohkan lebah. Hari ini saintis mengklasifikasikan binatang yang mampu mempraktikkan politik sebagai superorganisme, di antaranya rayap, lebah, semut.

Di kemudian hari pernyataan tersebut dipelintir, dengan mengatakan bahwa manusia adalah satu satunya binatang yang berpolitik, yang zoon politicon eksklusif milik spesies manusia. Aristoteles memang memberikan satu identifikasi yang berbeda sebagai gurat politik manusia, bahwa manusia mempergunakan piranti rasionalitas dalam mengerjakan politik berbeda dari binatang yang cenderung determinis.

Dari sanalah kemudian terbit soal asumsi bahwa politik adalah khas manusia, dan berpolitik artinya bermain menggunakan alat tukar rasionalitas. Sebaliknya mereka yang binatang adalah yang tidak bisa menggunakan rasionalitas, seturut demikian tidak bisa bermain politik.

Maka di sinilah kita dapati satu gambaran mengapa cebong kampret muncul, dia dipergunakan sebagai alat olok-olok dalam berpolitik, dia menjadi alat olok-olok baru dalam skema politik Indonesia. Dia menjadi wacana yang beterbangan di sekitar kita. Dan dari sanalah terkandung asumsi akal sehat dan akal dungu muncul, wacana memanggil yang lain lebih inferior, lebih buruk dari kita, di sanalah mengapa label cebong kampret bergema di musim pemilu. (N45)

Facebook Comments