Caleg Milenial: Jauh Lebih Baik?

Caleg Milenial yang Diusung Partai Solidaritas Indonesia (foto: ivoox.id)
6 minute read

“What is just, then, is what is proportionate, and what is unjust is what is counter-proportionate.” – Aristoteles


Pinterpolitik.com

Regenerasi politik yang diharapkan beberapa orang tampaknya akan terlaksana pada tahun 2019 ini. Merujuk pada harian Kompas edisi 11 Maret 2019, generasi milenial memiliki peluang untuk mendapatkan kursi di parlemen. Jika melihat dari data caleg yang berjumlah 1.543 dari 7.968 caleg yang terdaftar pada Komisi Pemilihan Umum lahir setelah tahun 1980. Hal ini menunjukan secara tidak langsung bahwa partai-partai telah melakukan kaderisasi dengan sistematis.

Para caleg milenial ini memiliki latar belakang yang beragam seperti pengusaha, selebriti, mahasiswa tingkat akhir, bahkan ada beberapa dari mereka yang berasal dari keluarga elite politik seperti Alia Noorayu Laksono, Prananda Surya Paloh, dan Valencia Tanoesoedibjo.

Mereka memiliki berbagai alasan dalam keputusannya terjun ke dalam dunia politik, beberapa di antaranya adalah untuk mewadahi suara dan aspirasi anak muda di parlemen. Memang, ada beberapa hal yang idealnya disuarakan oleh generasi milenial sendiri karena mereka lah yang mengalaminya secara nyata.

Karena melekatnya generasi milenial dengan teknologi dan sosial media, para caleg milenial memilih untuk berkampanye udara melalui sosial media seperti Instagram, Youtube, Facebook, dan WhatsApp. Sedikit dari mereka yang berkampanye dengan cara konvensional seperti menggunakan spanduk, pamflet, dan baliho, meskipun mereka masih melakukan cara kampanye klasik, yaitu blusukan.


Selain menggunakan media sosial, caleg milenial melakukan beberapa cara kampanye unik dan sesuai dengan selera generasi milenial. Seperti yang dilakukan oleh Faldo Maldini, yang melakukan workshop pembuatan CV dan cara wawancara kerja. Selain itu, kampanye yang dilakukan oleh Tsamara Amany, yang sering melakukan kajian yang bernama “Muda Itu Kita” dan mengajak masyarakat untuk bersantai bersama di warung kopi.

Banyaknya anak muda yang terjun ke bidang politik juga menggambarkan bahwa masyarakat dari golongan milenial terlanjur jenuh dengan situasi politik yang sudah terjadi. Generasi tua dianggap belum cukup untuk menampung aspirasi generasi milenial.

Baca juga :
BIGO, Ancaman Pengawasan?

Kaum Milenial Menuju Parlemen

Semangat Tinggi Anak Muda

Secara umum, caleg milenial diharapkan akan membawa perubahan dan kesegaran dalam dunia politik di Indonesia. Situasi politik Indonesia yang membuat masyarakat generasi milenial merasa jenuh dan apatis dengan politik, membuat generasi milenial memiliki idealisme untuk memperbaharui sistem politik di Indonesia.

Imej anak muda dengan gagasan idealisme memang sering dikaitkan. Jika meninjau pada sejarah, anak muda memang memiliki peran dalam kehidupan politik. Kemerdekaan Indonesia, misalnya, terjadi atas desakan dari anak muda sebagai salah satu faktornya. Lalu Aksi Tiga Tuntutan Rakyat pada 1966 yang mengkritik pemerintahan Orde Lama. Kemudian, Reformasi yang berhasil melengserkan Soeharto dari 32 tahun kekuasaannya dengan aksi yang digawangi anak muda.

Namun, semangat anak muda generasi milenial yang terjadi pada tahun politik 2019 ini memiliki perbedaan dengan gerakan dan semangat anak muda yang terjadi di masa lalu. Sebelumnya, anak muda hanya terlibat pada aksi dan orasi seperti mengadakan demonstrasi. Mereka tidak mau terjun pada politik praktis, karena mereka merasa bahwa suara mereka tidak digubris oleh pemerintah.

Gagasan atau ide yang ditawarkan para caleg milenial pada umumnya berusaha untuk mewujudkan toleransi, kesejahteraan ekonomi kelas bawah, dan kesetaraan perempuan. Mereka memiliki semangat di bidang ekonomi, pendidikan, dan kesehatan, yang mana semangat di bidang-bidang tersebut memang dibutuhkan di Indonesia.

Dengan semangat dan kejenuhan dengan sistem politik yang ada, caleg muda menawarkan visi misi dengan idealisme yang dijunjung tinggi. Namun, karena para caleg milenial banyak yang masih hijau dalam dunia politik, tampaknya mereka berpotensi untuk terjebak ke dalam idealisme politik yang belum berfondasi.

Baca juga :
Menguak Kesaktian Interpol

Idealisme Milenial

Plato, seorang filsuf Yunani Kuno yang terkenal dengan pemikiiran idealismenya, memiliki pemikiran yang relevan dengan idealisme yang diusung oleh para politisi muda. Plato menganggap bahwa tujuan hidup manusia adalah mencapai kebahagiaan.

Untuk mencapai kebahagiaan itu, tidak dapat hanya mengandalkan kepuasan fisik yang dapat ditangkap oleh pengalaman dan pancaindera kita. Menurutnya, dibutuhkan suatu idealisme yang menjunjung tinggi kebijaksanaan.

Dalam bukunya yang berjudul The Republic, Plato mengatakan bahwa idealnya seorang pemimpin adalah seseorang yang telah mencapai kebijaksanaan tertinggi. Dalam memilih pemimpin, harus berdasarkan kebaikan, kearifan, dan tentunya intelektual.

Fenomena ini juga sejalan dengan pemikiran Artistoteles, filsuf Yunani Kuno yang merupakan murid dari Plato, dalam bukunya The Nichomachean Ethics mengenai keadilan yang terdistribusi. Konsep keadilan tersebut merupakan keadilan yang berkaitan dengan apa yang sepantasnya didapatkan manusia.

Jika kita menggunakan pemikiran Plato dan Aristoteles tersebut dalam konteks Pemilu 2019, yang dalam hal ini merujuk pada para caleg milenial, kiranya mereka secara tidak langsung telah melakukan semangat yang digagaskan Plato dan Aristoteles. Mereka memiliki tujuan untuk masuknya aspirasi anak muda di parlemen, yang mana suara generasi milenial belum tersalurkan dengan cukup.

Undang-undang yang berlaku dapat direvisi dan menjadi kontekstual dengan era masa kini jika para caleg milenial itu mendapatkan kursi di parlemen, yang dicita-citakan tersebut dapat memberikan keadilan dan kesejahteraan pada masyarakat generasi milenial.

Tetapi, gagasan ini kiranya tidak hanya berlaku untuk kesejahteraan generasi milenial, tetapi juga untuk kesejahteraan semua pihak. Hal itu disebabkan oleh era disrupsi di masa kini yang secara tidak langsung menyebabkan terjadinya perubahan gaya hidup. Generasi milenial tampaknya telah memiliki kepekaan yang cukup dengan fenomena dan permasalahan sosial di era disrupsi.

Baca juga :
Ekonomi Politik Smartphone Jepang vs Korsel

Memilih Caleg Milenial: Pilihan Terbaik?

Masyarakat sepatutnya memilih pemimpin, yang dalam konteks ini adalah caleg, yang tidak melulu berdasarkan kepentingan pragmatis. Kiranya, jika idealisme ini memang diimplementasikan secara serius, kesejahteraan dapat dicapai oleh seluruh lapisan masyarakat.

Masih dimungkinkan pada akhirnya para caleg milenial akan menghadapi situasi dilematis antara tetap berpegang teguh dengan idealisme yang dimiliki ataukah mau tidak mau terjun ke dalam kepentingan pragmatis. Maka dari itu, pemilih tetap harus melihat apa ideologi dari para caleg dan rekam jejak partai yang mengusungnya.

Hal itu disebabkan oleh banyaknya masyarakat di Indonesia yang memilih seorang pemimpin atau wakil rakyat dengan memandang sisi praktisnya. Misalnya saja, yang mendapatkan kursi di parlemen adalah para caleg yang memiliki cukup uang untuk biaya ongkos kampanye. Semakin besar biaya kampanyenya, semakin dekat caleg dengan masyarakat dan masyarakat memiliki rasa kepercayaan terhadap si caleg.

Caleg milenial juga mesti memikirkan ulang apakah idealisme yang dimiliki dapat dipertanggungjawabkan, yaitu dengan tetap memegang teguh visi misi dan cita-cita yang ingin dicapai. Jangan sampai, dengan memiliki idealisme dan telah masuk ke parlemen, namun karena suatu keterpaksaan atau situasi kembali terjebak ke dalam kepentingan pragmatis dan realisme politik, yaitu kecenderungan untuk menganggap segala sesuatu sebagaimana adanya.

Jika para caleg milenial dapat bertanggung jawab dengan itu, maka menjadi sesuatu yang baik dalam memilih mereka pada Pemilu 2019 nanti. Namun jika mereka terlihat belum memiliki integritas, sebaiknya kita memikirkan ulang untuk memilih mereka. (D44)