Cak Imin Sindir Santri Dadakan

gus tommy soeharto
Cak Imin. (Foto: Kompasiana.com)
2 minute read

“Gelar itu dipersembahkan pada manusia oleh manusia, maka bukan tanpa alasan.” ~Pramoedya Ananta Toer


PinterPolitik.com

Cerdas, berwibawa, dan merakyat adalah tipe-tipe pemimpin idaman rakyat setanah air. Nah, kriteria-kriteria itu akan makin dahsyat, kalau ditambah sifat religius atau agamis. Wah, paripurna sekali itu mah. Tapi masalahnya, pemimpin-pemimpin kita itu hadir dari golongan-golongan politikus. Memangnya ada politikus idaman macam begitu?

Politisi dari Rusia, Nikita Khrushchev pernah mengatakan, politisi itu semua sama. Mereka berjanji membangun jembatan meskipun sebenarnya tidak ada sungai di sana. Demi nama baik dan menarik suara rakyat, politisi akan membangun banyak kebohongan. Termasuk soal identitas keimanan. Hmmm..

Di negeri ini, beberapa politisi rela saling melabeli diri sebagai santri dan pemuka ulama agar terlihat baik di mata rakyat. Padahal, pernah nyantri di pondok pesantren aja belum pernah. Terus gimana bisa dibilang santri? Santri pesantren kilat?

Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar juga ikutan menyindir pihak-pihak yang menjadikan agama sebagai komoditas politik di tahun politik. Ya, salah satunya yang mendadak menjadi santri atau dapat julukan ‘Gus’.

Para politisi mendadak punya gelar keagamaan, tapi yang ngasih teman-temannya sendiri. Hiya, hiya, hiya Click To Tweet

Kalau kata Cak Imin, sekarang kita punya Gus baru. Tahu arti istilah Gus nggak? Itu sebutan untuk putra ulama pemilik pesantren. Tapi tahu nggak siapa Gus baru kita? Dia adalah Gus Tommy Soeharto.

Wadaw, skidipapap, jadi sekarang anak mantan presiden bisa dipanggil Gus juga? Ternyata anak Presiden RI kedua tersebut mendapatkan panggilan itu dari Sekretaris Dewan Pembina Partai Berkarya KH Hasib Wahab Hasbullah, dan itu kayaknya cukup membuat Cak Imin risih. Ya, kalau nggak risih kenapa nyindir-nyindir? Hehehe.

Gara-gara gelar baru Tommy, soal Sandiaga Uno yang mendadak jadi santri post-islamisme jadi diungkit-ungkit lagi deh. Waktu itu Sandi diberikan gelar tersebut dari Presiden PKS Sohibul Iman. Tapi santri kok melangkahi kuburan, nggak modern blas.

Cak Imin memandang banyak bermunculan fenomena demikian karena simbol agama dekat dengan psikologis masyarakat. Masyarakat pun mudah mencerna simbol tersebut karena dengan kehidupan praktik beragama sehari-hari.

Melihat fenomena ini, Cak Imin meminta masyarakat harus bisa mencermati kedalaman ilmu agama tokoh yang mendadak islami.

Ya, memang kalau musim politik semuanya jadi mungkin. Jadi ya kalau ada santri atau bahkan gus dadakan ya, udah bukan yang aneh aja. Cuma ya, kasian aja sama santri-santri beneran, belajar lama-lama kok disamain sama politisi? (E36)