Cadar, Bukan Solusi Moral

(foto: Tribun)
3 minute read

Mau pakai cadar sampai menutup tubuh menyerupai ‘pocong’ pun, kalau laki-laki pikirannya ngeres, kerusakan moral akan tetap terjadi. 


 PinterPolitik.com

Beberapa hari ini, sebuah foto para siswi SMA bercadar di dalam kelas menghebohkan netizen. Iya, menghebohkan sebab tak ada sekolah yang memberlakukan cadar sebagai atribut wajib bagi pelajarnya. Setelah ditelusuri, ternyata siswi bercadar itu adalah murid-murid dari SMK Attholibiyah yang lokasinya di Tegal, Jawa Tengah.

Nah, karena heboh dan viral, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan langsung turun tangan. Mereka memberi peringatan dan mengeluarkan ‘jurus-jurus’ Peraturan Menteri Nomor 45 Tahun 2014. Intinya, cadar tak menjadi atribut seragam sekolah.

Merespon peringatan dari Dinas Pendidikan, para pengasuh SMK dan Pesantren, yang semuanya lelaki ini, berkata, “Kalau ditutupin kan nggak ketahuan mana yang cantik dan yang jelek. Dilihat dari matanya cantik, tapi ternyata pas dibuka jelek,” jelas Habib Soleh sambil terkekeh. Kemudian dirinya menjelaskan kalau itu adalah cara asuhnya supaya pacar-pacaran tak terjadi di sekolah tempat dia mengampu, apalagi kerusakan moral.

Waduh, peraturan Habib Soleh ini ‘lucu’, ya. Eh, tapi kalau peraturannya bisa bertahan sampai setahun lamanya, itu tak ‘lucu’ lagi, tetapi ngaco. Kenapa ngaco? Sebab mau pakai cadar paling canggih atau menutupi tubuh seperti ‘hantu-guling-lompat’, tetap tak mempan menghalau pacar-pacaran. Apalagi pelecehan.


Pakai Cadar, Bukan Solusi Moral
Para pengurus SMK dan Pesantren serta perwakilan Dinas Pendidikan (foto: Tribun)

Sebelum mewajibkan para siswinya memakai cadar, mestinya para pengasuh SMK dan pesantren yang mulia ini, mengaca dulu. Iya, berkaca dan bertekad pada diri sendiri tak akan melecehkan perempuan, apalagi melakukan kekerasan seksual. Bisa dimulai dari berhenti bertindak, berkata, dan mengeluarkan candaan yang merendahkan perempuan. Setelah itu, sampaikan dan ajari juga murid laki-laki hal yang sama.

Sumanto Al Qurtuby, seorang pengajar di King Fahd University of Petroleum and Mineral, Arab Saudi, pernah berkata kalau kerusakan sosial di masyarakat terjadi karena state of mind alias pikiran si empunya otak. Kalau laki-laki pikirannya bejat, kotor njetor bin ngeres, mau perempuan pakai cadar atau bahkan baju Zirah keluaran teknologi Jerman terbaru pun, pelecehan bahkan kekerasan tetap terjadi. Ingat, dosa hadir bukan karena ‘daging yang kotor’, tetapi karena otak, hati, dan ruh yang ternoda, Pak.

Mengajari diri sendiri serta para murid laki-laki untuk tak melecehkan perempuan memang sama sekali nggak ‘praktis’. Memang lebih mudah dan cepat pilihan cadar tadi, sih. Tapi, ya itulah tugas seorang guru, bukan? Tak ada jalan praktis nan nyaman menuju kehidupan yang lebih baik. Nabi Muhammad AS juga tak menempuh jalan praktis, nyaman, apalagi mudah dalam menyebarkan kebaikan, pasti para Habib tahu benar itu.

Nah, kalau itu sudah tunai dikerjakan, kita bisa bergandengan tangan (eh, iya bukan muhrim) mencari cara terbaik untuk membentuk sistem hukum yang kuat dan penegakkan norma-norma hukum yang konsisten, supaya kerusakan moral berupa pelecehan dan kekerasan seksual, bisa musnah dari sendi-sendi kehidupan bermasyarakat.

Ohya, kalau soal pacar-pacaran di kalangan anak SMK sederajat bagaimana? Nah, kalau itu coba saja dengarkan tembang klasik milik Kak Rhoma Irama berjudul ‘Memang Masa Berpacaran’. Niscaya, solusi dan pencerahan akan datang. (A27)