Buwas ‘Permainkan’ Harga Beras

Buwas ‘Permainkan’ Harga Beras
Budi Waseso (Istimewa)
2 minute read

“Mungkin akan nyusul, saya buat beras renceng sachetan yang isinya 200 gram. Itu bisa dibeli oleh masyarakat minim dengan harga Rp 2.000, bisa makan dan beras akan tersedia di mana mana.” ~ Budi Waseso, Dirut Bulog


PinterPolitik.com

Dua hal sensasional akhirnya dipertemukan. Yang pertama ialah, beras yang diimpor dengan jumlah banyak sempat meramaikan pemberitaan sejagat raya.

Bukan tanpa alasan, tapi impor beras itu beriringan dengan panen raya. Dengan kata lain, itu bisa membunuh petani lokal dan menutup ruang pasar untuk beras lokal. Sudah puaskah Pemerintah?

Ehmm, makanya tak aneh kalau Menteri Perdagangan sempat dijuluki si tengkulak beras. Nah, beras yang sensasional itu akhirnya dilempar dan ditampung oleh Badan Urusan Logistik (Bulog).

Nah kalau yang kedua, masih ada kaitannya dengan beras. Berhubung ditampung di Bulog, ada sosok yang mengejutkan publik yang kini menjabat sebagai Direktur Utama Bulog. Ia adalah Budi Waseso.

Lah apa sensasionalnya sosok Budi Waseso? Mantan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) ini perasaan biasa – biasa aja deh.

Palingan pernyataannya tentang sipir yang diganti dengan buaya doang deh yang bikin menggelegar.

Weeeeitsss, nanti dulu dong. Kalau dicermati, Budi Waseso dari ngurus narkotika kini melompat jauh mengurusi urusan logistik. Pertanyaan dasarnya, apakah Budi Waseso bisa menanganinya? Stabilitas harga, persediaan? Bisa ga ya?

Baca juga :  Buasnya Buwas perangi narkoba

Tapi harusnya sih layak, kan Budi Waseso udah lolos seleksi yang langsung dipimpin Presiden Jokowi, weleeeh weleeeh.

Nah loh, kok masyarakat agak keanehan gitu ya mendengar Bulog di bawah kepemimpinan Budi Waseso mau mengeluarkan kebijakan.

Lah emang kebijakannya apaan? Kata Budi Waseso sih, ia akan mengeluarkan produk beras dalam bentuk kemasan 200 gram yang dijual Rp 2.000. Alasannya sih, supaya ga memberatkan masyarakat karena kenaikan harga.

Woailaaah, kalau kemasannya gimana kek ya sama aja. Namanya juga beras naik perkilogram, ya otomatis beras kemasan ala Budi Waseso juga sudah pasti naik, masa engga? Hadeuuuhh.

Intinya sih, kebijakan awal Budi Waseso itu terkesan lucu dan menggelikan. Ga ngebayangin kalau beras dijual sachetan, kalau mau beli sekilogram ribet dong nanti jadi ada berapa kemasan, ahhh syudahhlah.

Solusi Budi Waseso kayaknya kurang tepat, bikin ribet malahan, weleeeh weleeeeh. Tapi kalau sudah lolos seleksi dari Jokowi, masyarakat mau bilang apa?

Weeeittss, makanya kalau kata penulis dari Inggris, Gilbert Keith Chesterton, persoalan ini bukan dia tidak bisa menemukan solusi, tapi karena dia tak mampu memahami masalah.

Nah loh, kalau begitu mending Dirut Bulog pelajari dulu deh tugas, fungsi dan wewenang Bulog, supaya solusi yang ditawarkan bisa tepat. Sepakat? (Z19)

Share On

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here