Brother Kills Brother?

Foto: Y14
7 minute read

pinterpolitik.com

<strong>Kematian Kim Jong-Nam di Kuala Lumpur, Senin, 3 Februari 2017, mencengangkan dunia politik internasional. Kim Jong-Nam adalah saudara tiri pemimpin tertinggi Korea Utara, Kim Jong-Un. Banyak pihak menuding pemimpin tertinggi Kim Jong-Un sebagai dalang di balik kematian saudara tirinya itu. Kalau benar, maka kisah Kim Jong-Un dan Kim Jong-Nam ini adalah bab lain dari kisah perseteruan antara sesama saudara. Kim Jong-Nam tewas dibunuh di bandara Malaysia saat sedang melakukan self check-in pesawat menuju Makau, tempat pengasingannya selama ini. Berdasarkan rekaman CCTV, ia dihampiri dan dicegat oleh seorang wanita. Lalu, datang wanita lain dengan setengah berlari mendekati Jong-Nam dari belakang. Wanita tersebut membekap wajah Jong-Nam lalu menyemprotkan cairan ke mukanya.

Kemudian, kedua wanita itu bergegas menjauhi Jong-Nam dengan berjalan cepat ke arah berlawanan dan bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Jong-Nam, yang terlihat kaget dan bingung, hanya berdiri terdiam. Kemudian dia melaporkan peristiwa yang dialaminya kepada staf bandara. Kemudian, staf bandara mengantarkan Jong-Nam ke petugas keamanan bandara, yang kemudian mengantarkannya ke klinik bandara. Kondisi Jong-Nam terlihat normal pada saat berjalan ke klinik. Tetapi, di klinik dia mulai mengerang kesakitan, lalu tergeletak tidak berdaya. Jong-Nam akhirnya meninggal dalam perjalaan menuju rumah sakit.

Kematian Kim Jong-Nam

Direktur Badan Intelijen Nasional Korea Selatan mengatakan, berdasarkan pengakuan seorang agen Korea Utara yang ditangkap di Korea Selatan, Pyongyang, menginginkan kematian Kim Jong-Un sejak lima tahun lalu. Tapi, dia dilindungi oleh Tiongkok. Ada berita yang menyebutkan, Tiongkok ingin membuat rezim baru di Korea Utara pada saat rezim Kim Jong-Un runtuh. Kim Jong-Nam adalah “kartu sakti” Tiongkok untuk membangun rezim tersebut.



Latar Belakang Hidup Kim Jong-Nam

Kim Jong-Nam adalah anak hasil hubungan rahasia antara mantan pemimpin tertinggi Korea, Kim Jong-Il dengan artis Korea Utara, Song Hye-Rim. Sejak kecil, Kim Jong-Nam hidup dalam pengasingan karena dia terlahir dari hubungan yang ditentang oleh Kim Il-Sung, ayah Kim Jong-Il. Kim Jong-Nam tidak pernah diperkenalkan kepada publik. Bahkan, sangat sedikit pemimpin Korea Utara yang mengetahui bahwa Kim Jong-Il mempunyai anak sebelum Kim Jong-Un.

Dalam pengasingan, Kim Jong-Un tetap diasuh oleh ayah dan keluarga ayahnya. Dia dikabarkan sangat dekat dengan saudara dari ayahnya. Terutama dengan saudara perempuan ayahnya, yang juga mengasuh dia bersama dengan suaminya, Jang Song-Taek.

Menurut bibinya, Kim Jong-Il sangat sayang kepada Kim Jong-Nam, tetapi karena Kim Il-Sung tetap menentang hubungan Kim Jong-Il dengan Song Hye-Rim, maka Kim Jong-Nam tidak pernah dipertemukan dengan Kim Il-Sung. Akhirnya, Kim Jong-Il memutuskan untuk mencari perempuan lain dan menikah.

Dari hubungan dengan istri sahnya, Kim Jong-Un lahir. Ia lahir pada saat Kim Jong-Nam berada di luar negeri untuk sekolah. Kim Jong-Nam tidak pernah bertemu dengan Kim Jong-Un. Sumber lain menyebutkan, istri sah Kim Jong-Il merasa bahwa anak pertama Kim Jong-Il adalah ancaman bagi hak waris kepemimpinan Kim Jong-Un. Oleh karena itu, keluarga pertama Kim Il-Sung harus dijauhkan dari keluarga sahnya.

Sekalipun berasal dari hubungan tidak sah antara dirinya dengan perempuan yang bukan istrinya, Kim Jong-Il pernah mempertimbangkan untuk mewariskan takhta kepemimpinan Korea Utara kepada Kim Jong-Nam. Hal ini didasarkan pada tradisi Korea Utara bahwa hak waris adalah hak anak pertama laki-laki. Niat itu kemudian diurungkan karena Kim Jong-Il sangat marah kepada Kim Jong-Nam, karena dia tertangkap menggunakan paspor palsu pada saat memasuki Jepang. Dia langsung dideportasi ke Makau. Berita ini disorot oleh dunia.

Kim Jong Il merasa dipermalukan oleh perbuatan Kim Jong-Nam. Lalu, dia mengusir Kim Jong-Nam dari Korea Utara. Akhirnya, Kim Jong-Nam berangkat ke Makau dan menetap disana. Sejak keluar dari Korea Utara, Kim Jong-Nam seringkali mengunjungi Tiongkok dan membangun hubungan dengan Pemerintah Tiongkok. Selama dalam pengasingan di Makau, Kim Jong-Nam mendapat biaya hidup dari Jang Song-Taek. Dia masih sering berhubungan dengan pamannya itu. Hal inilah yang membuat Tiongkok melindungi Kim Jong-Nam.

Permainan Geopolitik?

Sekalipun Kim Jong-Nam berkali-kali mengatakan bahwa dia tidak tertarik untuk menjadi penerus generasi ketiga dinasti pemerintahan Korea Utara, dia kerap mengkritik pemerintahan adik tirinya, Kim Jong-Un. Dia mengatakan bahwa Kim Jong-Un terlalu lemah untuk memerintah, sehingga dia diperalat oleh rezim pemimpin Korea. Dia semakin tajam mengkritik pemerintahan Korea dan secara terang-terangan mempertanyakan kebijakan-kebijakan paham Stalin dan suksesi kepemerintahan yang mulai dilakukan oleh kakeknya tahun 1948. Dalam kritik-kritiknya, Kim Jong-Nam mendukung ide reformasi pemerintahan Korea Utara. Dia menganjurkan Korea Utara untuk mencontoh Tiongkok, yang mereformasi pemerintahannya.

Banyak pendapat mengatakan bahwa Tiongkok ingin masuk ke Korea Utara untuk mengubah rezim pemerintahan negaraitu. Kim Jong-Nam adalah kartu sakti Tiongkok untuk melakukan rencana itu. Terlebih lagi, Kim Jong-Nam masih berhubungan baik dengan Pyongyang melalui Jang Song-Taek. Tampaknya, tidak berlebihan jika banyak pendapat yang menyebutkan bahwa Jang Song-Taek adalah perpanjangan tangan Tiongkok di Pyongyang. Sebenarnya, Tiongkok adalah sekutu Korea Utara, tetapi hubungan mereka menjadi tegang manakala Korea Utara kukuh terhadap program nuklirnya yang ditentang oleh dunia internasional, termasuk Tiongkok.

Tampaknya, Kim Jong-Un merasaposisi Kim Jong-Nam, sebagai anak lelaki pertama Kim Jong-Il dan hubungannya dengan Tiongkok yang terjalin sangat baik, serta kritik-kritik tajam terhadap pemerintahannya, sebagai ancaman terhadap kepemimpinannya. Oleh karena itu, dia merasa perlu bertindak untuk menyelamatkan kepemimpinannya. Maka, dia melakukan pembersihan terhadap orang-orang yang diduga berpotensi mengancam. Ini bukan pertama kalinya Kim Jong-Un mengeksekusi keluarganya sendiri.

Keluarga pertama yang dia eksekusi mati adalah pamannya sendiri, Jang Song-Taek yang dituduh merencanakan kudeta terhadap pemerintahan Kim Jong-Un. Menurut media Tempo, Jang Song-Taek dibunuh bersama dengan asisten-asisten terdekatnya denga cara yang sangat keji. Dia dilemparkan ke kandang anjing yang kelaparan. Keluarga Jang Song-Taek juga ikut dieksekusi. Istri dan anak-anaknya termasuk anak-anaknya yang masih kecil. Keluarga dekat Jang Song-Taek juga tidak luput dari eksekusi. Eksekusi ini menjadi pesan Kim Jong-Un kepada Korea Utara bahwa pengkhianatan terhadap pemerintahannya merupakan tindakan yang tidak bisa dimaafkan dan harus dieksekusi. Hal ini disampaikannya dalam pesan tahun baru kepada rakyat Korea Utara.

Malaysia dan Korea Utara

Dalam kasus pembunuhan Jong-Nam, Pemerintah Malaysia adalah pihak yang berwenang untuk melakukan penyelidikan dan penyidikan, karena locus delicti (tempat kejadian perkara) di wilayah yurisdiksi Malaysia. Sampai saat ini, Pemerintah Malaysia masih melakukan visum post mortem pada jenazah Kim Jong-Nam untuk mengetahui penyebab kematiannya.

Pemerintah Malaysia masih menyelidiki kasus kematian Jong-Nam. Malaysia sudah membenarkan kabar bahwa yang terbunuh adalah Kim Jong-Nam. Setelah mendengar kematian itu, Korea Utara mengirimkan utusan untuk mengambil jenazah Kim Jong-Nam. Tetapi, Pemerintah Malaysia menolaknya dengan alasan kasus ini masih dalam penyidikan.

Duta Besar Korea Utara untuk Malaysia mengatakan, negaranya berhak untuk mengambil bagian dalam penyidikan kasus ini. Tetapi, ditolak oleh pemerintah Malaysia. Kemudian, Kedubes Korea Utara memberikan pernyataan bahwa identitas jenazah yang terbunuh itu masih dipertanyakan, karena nama yang tertera pada paspornya bukan Kim Jong-Nam.

Duta Besar Korea Utara mempersalahkan otoritas Malaysia, karena telah membenarkan jenazah tersebut adalah Kim Jong-Nam. Dia mencurigai Pemerintah Malaysia bersekongkol dengan musuh-musuh Korea dalam penanganan kasus ini. Media internasional mengabarkan perselisihan ini telah membuat hubungan Malaysia dan Korea Utara  tegang.

Emmanuel Levinas (1906-1995), seorang filsuf, mengatakan, pembunuhan saudara sendiri mencerminkan karakter asli manusia yang tidak peduli terhadap sesamanya. Manusia tidak merasa bertanggung jawab terhadap keberadaan manusia lainnya. Bagi manusia, keberadaan dirinya jauh lebih penting dari keberadaan manusia lainnya. Bahkan, Thomas Hobbes (1588–1679) berpendapat bahwa manusia adalah serigala bagi manusia lainnya. Artinya, manusia bisa mencelakai orang lain kalau sudah berhubungan dengan kepentingan pribadinya.

Kim Jong-Un merasa keberadaan Kim Jong-Nam mengganggu kepentingannya. Dalam hal ini, Kim Jong-Un merasa posisi Kim Jong-Nam sebagai anak tertua dan hubungannya yang baik dengan Tiongkok merupakan sebuah ancaman terhadap kekuasaannya. Lagipula, sebagai pemimpin tertinggi Korea Utara, dia adalah orang paling hebat yang tidak pernah bersalah. Apa yang dia perkatakan menjadi hukum. Hal ini juga mungkin menjadi alasan bagi Kim Jong-Un tega membunuh saudara tirinya, bahkan pamannya dan saudara-saudaranya yang lain.

Sampai saat ini, otoritas Malaysia masih belum memberikan kesimpulan yang jelas tentang kasus pembunuhan Kim Jong-Nam dengan alasan masih menyelidikinya. Kita pun masih menunggu hasil resmi penyelidikan. (E25)