BPN Prabowo-Sandi Mulai Posesif?

kampanye prabowo sandi
Sandiaga Uno bersama Ketua PC Ansor Cirebon. (Foto: BingkaiWarta)
2 minute read

“Akal sehat adalah kumpulan prasangka yang didapat sejak usia 18 tahun.” ~Albert Einstein


PinterPolitik.com

Tidak ada yang lebih mengerikan dari rasa ketidakpercayaan. Bawaannya curiga mulu. Was-was. Hidup pun jadi tak nyaman. Ya, seperti yang sedang dialami Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno gitu deh.

Yoeh, perasaan mereka memiliki banyak prasangkan nggak baik terhadap penyelenggaraan Pilpres kali ini. Takut dicurangin. Kenapa, karena lawannya petahana ya? Hihihihi.

Ketua BPN Prabowo-Sandi, Jenderal (Purn.) Djoko Santoso bahkan sampai memberikan arahan untuk menandai rumah pendukung dengan pemasangan bendera loh. Katanya, biar lebih kelihatan di setiap daerah mana yang dukungannya lebih besar.

Saat peresmian posko relawan dan sarasehan pemenangan Prabowo-Sandi, Djoko menginstruksikan tim pemenangan agar memastikan bahwa di setiap rumah harus terpasang bendera Prabowo-Sandi.

Hmmm, tapi kenapa harus nandainnya setiap rumah? Nanti kalau ternyata dalam satu rumah ada perbedaan dukungan gimana? Nggak jadi berantem tuh seisi rumah? Wkwkwk.

Katanya posesif itu tanda cinta. Tapi dalam politik, posesif itu tanda gila kekuasaan? Bener nggak tuh? Click To Tweet

Kalau pemasangan benderanya untuk sekadar kampanye sih boleh aja. Itung-itung numpang ngiklan gratis gitu kan ya? Tapi kalau harapannya untuk menjadi penanda, bendera tuh kurang efektif deh. Bukannya nanti malah jadi mubazir? Kan atribut kampanye harus dicopot setelah masa kampanye selesai.

Menurut Djoko, pihaknya harus mengantisipasi hal tidak benar yang mungkin akan terjadi saat pemilihan. Antisipasi IT, saksi dan penyelenggaraan Pemilu. Dia juga heran, ada orang gila kok disuruh nyoblos? Dan katanya ada 31 juta DPT yang belum beres.

Lebih dari pada itu, Djoko juga meminta semua tim pemenangan dan relawan untuk nggak boleh lengah. Jangan sampai terlalu percaya diri hingga mengendorkan semangat untuk menyoblos. Terus juga habis nyoblos jangan pulang dulu. Harus dipantau perhitungan suaranya.

Wadaww, kalau saya mah abis nyoblos langsung ke emol Pak. Sebelum tinta bukti nyoblosnya keapus. Lumayan kan tuh banyak diskon hura-hura. Hehehehe.

Tapi bener-bener deh. Pak Djoko ini posesif juga ya. Tapi mending takut kehilangan dari pada benar-benar kehilangan. Eaaa… (E36)