Bicara Politik Melalui Kaus

7 minute read

Apa langkah yang harus ditempuh supaya kaus warna-warni bertuliskan #2019GantiPresiden berhasil menemui asanya?


PinterPolitik.com

Walau tak lama, tagar #2019GantiPresiden sempat bertahan bahkan kini berkembang dalam bentuk berbagai medium, salah satunya kaus. Benar sekali, kaus warna-warni bertuliskan #2019GantiPresiden ramai menjadi perbincangan di dunia maya.

Keberadaan medium kaus tersebut di dunia maya, boleh saja disebut sepele. Tetapi, Presiden Jokowi tetap tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. Tengok saja pidatonya beberapa waktu lalu, di mana ia berucap, “Masa bisa kaus mengganti presiden? Kalau rakyat berkehendak, ya bisa. Tapi kalau rakyat tidak mau, ya tidak bisa,” tukas Jokowi.

Singgungan itu, dinilai oleh pengamat politik Ubaidillah Badrun sebagai sikap reaktif sekaligus khawatir, “Sebetulnya, kalimat itu menunjukan kekhawatiran. Semacam ekspresi agar gerakan itu tidak meluas,” jelasnya. Mestinya, seperti yang ditambahkan oleh Ubaidillah Badrun, keberadaan kaus berwarna-warni dengan tagar demikian dilihat sebagai fakta demokrasi saja, tak lebih.

Namun begitu, bila mengetahui bagaimana sebuah gerakan menggunakan medium kaus bisa berhasil menancapkan pengaruh dan kekuasaan, kekhawatiran dan sikap reaktif yang ditunjukkan Jokowi, tidaklah berlebihan sama sekali.

 

Di Thailand, sebuah gerakan menggunakan medium kaus berwarna merah berhasil mempopulerkan seorang figur hingga mampu menancap dengan kuat popularitas dan kekuasaannya selama bertahun-tahun. Jokowi sendiri pun bisa populer dan mendapat angka elektabilitas tinggi karena ikon busana kotak-kotaknya yang membuat ia mudah diingat oleh rakyat kebanyakan.

Lantas, strategi apa yang dilakukan di Thailand sana? Apakah gerakan kaus berwarna-warni bertuliskan #2019GantiPresiden punya peluang sebesar apa yang terjadi di Thailand?

Fashion dan Politik, Bergerak Selaras

Strategi yang dilancarkan di Thailand tentu tak bergerak semalam suntuk saja, tetapi sudah mengambil tempo jauh-jauh hari. Thaksin masuk ke dunia politik di tahun 1998 melalui partai yang dibangunnya sendiri, yakni Partai Thai Rak Thai (Rakyat Thai Mencintai Sesama Rakyat Thai).

Ia juga membangun basis massanya di daerah selatan dan berada di luar Bangkok. Massanya terdiri dari petani di daerah rural pedesaan, pengusaha, mahasiswa, hingga penduduk yang punya ideologi politik kiri. Selama bertahun-tahun, ia menjaga basisnya ini dan memberi ‘tanda’.

Warna merah dipilih sebagai ‘tanda’ karena melambangkan rakyat kebanyakan. Warna yang dipilihnya serta ideologi yang berada di belakangnya tersebut, akhirnya menjadi sebuah setting trend yang tak disadari, namun terus dimainkan oleh Thaksin.

Entah tanpa disadari atau tidak, Thaksin sudah menjalankan langkah pertama dalam hukum fashion politic, yaitu menciptakan sebuah vibe atau gelombang suasana yang terasosiasi dengan warna merah. Selanjutnya, permainan warna tersebut diperkuat lagi dengan bantuan figur dan tokoh-tokoh penting.

Strategi tersebut didukung dan dikembangkan oleh dua kelompok, yakni UDD (United for Democracy Againts Dictatorship) dan DAAD (Democratic Alliance Against Dictatorship). Gerakan kaus merah dikembangkan dan terus dipakai dalam berbagai kesempatan.

Kelompok pendukung Thaksin memang tak memiliki figur atau tokoh berpengaruh yang melebarkan gerakan kaus merah. Namun jumlah rakyat yang sangat banyak mendukung Thaksin, membuat catwalk strategy di ruang publik Bangkok dan sekitarnya, mengeluarkan dampak yang tak kecil. Kini, di Thailand, permainan warna merah sangatlah sensitif dan kontras, karena sudah terafiliasi dengan sosok Thaksin. Bila memakai kaus berwarna merah, maka itu berarti berbagai hal, yaitu sebagai identitas rakyat kebanyakan dan/atau pendukung Thaksin.

Di masa akhir tahun 1990-an tersebut pula, Thaksin Shinawatra masih berhubungan dekat dengan Shondi Limthongkul yang juga seorang pengusaha di bidang media (media mogul). Shondi saat itu baru mendirikan koran Manager Daily dan juga satelit ASTV. Dari media tersebut, selama dua tahun Shondi membantu Thaksin meluaskan personanya dengan warna merah lewat media yang digawanginya.

Basis massa Thaksin melakukan setting trend (sumber: Al Jazeera)

Empat langkah tersebut, yakni menciptakan tren atau vibe, mengasosiasikannya dengan kelompok masyarakat (setting trend), menggunakan sosok artis, maupun figur politik dalam tiap kesempatan (catwalk strategy), lantas disebarkan melalui media, berhasil membuat Thaksin Shinawatra secara psikologis sudah diterima dan familiar di mata masyarakat kebanyakan. Inilah batu loncatan Thaksin masuk ke dunia politik dan menjadi figur yang berpengaruh.

Saking berpengaruhnya, ia menjabat sampai dua periode dan mendapat pembelaan keras dari massa ‘merah’-nya saat mengalami kudeta dari pihak militer. Tak lupa, Thaksin juga tetap dibela habis-habisan saat kelompok kaus kuning, yang menasbihkan sebagai pihak oposisi dan dipimpin oleh Shondi Limthongkul, mencoba mengkudetanya. Hingga akhirnya, kekuasaan Thaksin harus lengser di tangan militer Thailand di tahun 2006.

Walau demikian, Thaksin hingga saat ini masih dianggap menjadi sosok pemimpin berkharisma. Lebih tepatnya, persona pemimpin yang dibenci sekaligus dicinta, melekat pada diri Thaksin dalam kacamatan rakyat Thailand hingga kini.

Strategi menggunakan pakaian dan warna tertentu sebetulnya pernah pula diterapkan di Indonesia. Siapa yang lupa dengan pakaian kotak-kotak ala Jokowi dan Ahok yang populer pada Pilkada DKI Jakarta 2012? Sama halnya dengan Thaksin, pakaian dengan motif kotak-kotak juga memiliki strategi dan pola bergerak yang sama.

Jokowi pernah berkata bahwa motif kotak-kotak dipilih karena menyimbolkan pluralitas dan kerja keras. Motif tersebut di-setting dalam suasana Pilkada DKI Jakarta 2012. Lalu, pakaian kotak-kotak tersebut pun ikut di-endorse oleh figur atau tokoh terkenal. Sebagai contoh, saat itu banyak artis Ibukota berbondong-bondong memakai pakaian motif kotak-kotak dalam berbagai kesempatan untuk menyatakan dukungan kepada Jokowi. Mereka adalah Sophia Latjuba, Cinta Laura, hingga Luna Maya. Dari sana, pakaian motif kotak-kotak Jokowi sudah berubah menjadi sebuah pernyataan politik bagi pemakainya dan bertambah moncer pula popularitasnya.

Jokowi dan Ahok dengan pakaian kotak-kotak legendarisnya (sumber: istimewa)

Dengan bantuan media, popularitas pakaian kotak-kotak semakin luas dan menjadi sebuah brand tersendiri bagi pasangan Jokowi – Ahok kala itu. Hasilnya apa? Selain menjadi trendsetter fashion, Jokowi dan Ahok sebagai pasangan Pilgub saat itu  keluar sebagai orang nomor satu di DKI Jakarta. Dalam langkah panjangnya, Jokowi malah makin bersinar menjadi Presiden RI ke-7. Dengan demikian, politik fashion yang dijalankan Jokowi dan Thaksin, tak main-main dampaknya bila sungguh-sungguh dilancarkan.

Nah, bila kembali menghubungkan dengan gerakan ingin-ganti-presiden-tahun-2019 melalui kaus beraneka ragam yang sempat viral di sosial media, apa yang patut dicontoh dan dilakukan supaya bisa menemui asanya? Mampukah mereka menghasilkan dampak signifikan seperti halnya Thaksin dan Jokowi dengan medium busana?

Mampu Terwujud?

Hal yang bisa disepakati dari politik dan fashion yang sudah dijabarkan di atas adalah, persepsi politik ternyata bisa ditangkap melalui penampilan. Dari sana, keberadaan busana (fashion) menjadi poin penting dan efektif sebagai bahan pertimbangan mendukung kelompok atau tokoh politik.

Seperti yang disebutkan dalam buku The Politics of Dress in Asia and The America’s, busana menjadi perwakilan simbol, identitas, dan pernyataan politik pemakainya. Disadari atau tidak, para tokoh politik atau figur tertentu memang menggunakan pakaiannya sebagai sarana kampanye dan pernyataan politik.

Nah, kelompok yang menyuarakan #2019GantiPresiden pun sudah jelas memiliki pernyataan politiknya, mereka tak ingin Jokowi kembali naik menjadi presiden di tahun 2019. Namun, asa yang diimpikan oleh kelompok tersebut, sepertinya masih sangat jauh panggang dari api. Apa sebab?

Waktu Pilpres 2019 hanya tinggal setahun lagi, tentu saja ini masih belum cukup membangun familiaritas sehingga masyarakat kebanyakan bisa menerima ‘pernyataan politik’ mereka secara psikologis. Selain itu, bila menengok busana Thaksin dan Jokowi, busana yang mereka gunakan hanya berbasis motif dan warna.

Mereka tidak menyertakan jargon atau slogan apapun dalam kaus atau pakaiannya. Inilah hal yang terlewat oleh pendukung gerakan #2019GantiPresiden. Alih-alih fokus pada identitas warna atau motif, sehingga dapat dihubungkan pada ideologi tertentu, sebuah tagar ‘sangar’ nan ‘keras’ malah mencuat besar.

Dengan adanya slogan tersebut, akan sulit menjaring tokoh atau figur untuk ikut meng-endorse atau mendukungnya. Boleh dikatakan, slogan yang ada bukannya memperkuat pernyataan, malah merusak intensi yang ada. Dengan demikian, kaus bertagar #2019GantiPresiden tidak mengikuti theory of fashion and politic yang dijalankan Thaksin maupun Jokowi sama sekali. Bisa dipastikan, gerakan ini akan segera tenggelam dan hanya berakhir menjadi gimmick yang menghiasi pemberitaan saja.

Padahal bila mengutip pernyataan Umberto Eco, penulis buku masyhur In the Name of Rose yang mengatakan, “Aku berbicara melalui pakaianku”, kaus ini sudah bicara banyak. Tetapi, apa daya, slogan kaus tersebut hanya menjadi kebisingan yang tak sudi didengar siapa pun karena tidak mengikuti alur fashion theory  yang tepat. (A27)  

Share On

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here