“Berantem” Ala Jokowi

pilihan kata
Pidato Jokowi di depan relawannya menimbulkan polemik karena menggunakan kata "berantem". (Foto: Kompas)
6 minute read

“Jangan bangun permusuhan, jangan membangun ujaran kebencian, jangan membangun fitnah-fitnah, tidak usah suka mencela, tidak usah suka menjelekkan orang. Tapi kalau diajak berantem juga berani,” Jokowi


PinterPolitik.com

Bukan Joko Widodo (Jokowi) namanya jika tidak menjadi sasaran kritik warganet dan oposisi. Sekecil apapun kesalahan presiden petahana ini pasti jadi bulan-bulanan mereka. Teranyar, pidato sang presiden di depan relawannya jadi sasaran pergunjingan masyarakat.

Kelompok oposisi saat ini meributkan pilihan kata “berantem” yang digunakan Jokowi di pertemuannya bersama relawan-relawannya. Mereka menganggap Jokowi ingin memicu kekerasan dengan meminta relawannya untuk tidak takut berantem jika diajak.

Banyak orang menganggap pidato Jokowi tersebut diambil di luar konteks. Pidato tersebut dipotong sehingga ditafsirkan seolah-olah sang presiden menganjurkan  relawan-relawannya untuk melakukan kekerasan fisik kepada lawan-lawan politiknya. Hal ini membuat Jokowi sampai cepat-cepat melakukan klarifikasi untuk meluruskan isi pidato itu.

Terlepas dari sikap Jokowi yang buru-buru melakukan klarifikasi, pilihan kata Jokowi memang menarik. Hal ini terutama karena bukan kali ini saja pilihan kata tersebut mengundang perbincangan masyarakat. Mengapa Jokowi memilih kata berantem untuk berpidato di depan relawan-relawannya?

Pilihan Kata Krusial

Banyak pihak dari kalangan oposisi menyayangkan pilihan kata Jokowi saat berpidato di depan relawan-relawannya. Akibatnya, pidato yang seharusnya selesai di forum itu saja, ternyata berbuntut panjang dan dibahas selama beberapa waktu terakhir.

Tengok saja bagaimana Gerindra merespons pidato Jokowi. Partai yang dipimpin oleh Prabowo Subianto itu menilai pilihan kata berantem seperti mengesankan ajakan untuk beradu fisik. Menurut mereka, tidak etis orang sekelas presiden menggunakan diksi semacam itu.

Hal senada juga ditunjukkan oleh pentolan oposisi lain, yaitu PKS. Bagi partai dakwah ini, pilihan kata Jokowi di depan relawannya menggambarkan kualitas dirinya di depan publik.

pilihan kata

Diksi atau pilihan kata memang tidak bisa dianggap remeh dalam politik, terutama jika menjelang Pemilu. Pemilihan kata yang tepat bisa mengantarkan seorang kandidat ke jabatan yang dikejar. Di sisi lain, diksi yang tidak disukai masyarakat bisa berbuah petaka bagi kandidat yang tengah mengincar posisi tertentu.

Urgensi pilihan kata-kata yang tepat ini disoroti misalnya oleh Kristen Palana dari American University of Rome. Palana menyoroti bagaimana pilihan linguistik dapat mempengaruhi emosi pemilih dan dapat menarik perhatian masyarakat terkait dengan isu dan ideologi tertentu. Palana misalnya menggambarkan efek yang bisa dihasilkan jika seorang politisi menggunakan kata “kapitalisme” alih-alih “kebebasan ekonomi”.

Palana mengambil contoh Frank Luntz sebagai salah satu gambaran bagaimana pemilihan kata dapat memberikan pengaruh tertentu di dalam politik. Luntz dikenal sebagai orang yang bisa memilih dan merangkai kata yang tepat untuk menarik emosi pemilih dan menjual ideologi politik tertentu. Luntz selama ini dikenal sebagai koresponden Fox News yang sukses memoles pidato sejumlah pemimpin politik di dunia.

Pilihan kata Luntz untuk kliennya kerapkali kontroversial, akan tetapi kata-kata yang kontroversial ini dapat menjadi alat pemasaran yang efektif. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa penggunaan diksi bukanlah hal yang sembarangan dalam politik terutama jika dikaitkan dengan Pemilu.

Bisa Jadi Sensasi

Jangan pernah remehkan pilihan kata yang sekilas terdengar kontroversial atau bahkan dianggap tidak terlalu cerdas. Kata-kata seperti itu memang bisa berbuah petaka, akan tetapi kata-kata yang kontroversial dapat menimbulkan sensasi di masyarakat, sehingga menjadi pembicaraan selama berhari-hari.

Dalam tulisan Gary Nunn di The Guardian, dibedah pilihan kata Presiden AS Donald Trump yang mengantarkannya menjadi orang nomor satu di negeri itu. Meski bukan faktor utama terpilihnya Trump, pilihan katanya memang menjadi salah satu faktor pembeda Trump dengan pesaingnya.

Pada tulisan tersebut dijelaskan bagaimana pilihan kata-kata Trump berusaha untuk memainkan unsur emosional pemilih, dan ia berhasil. Sekilas, ia memang terlihat tidak terlalu pandai, tetapi bisa saja ia telah mengamankan kursi melalui kata-katanya.

Pilihan kata yang menarik tidak hanya berlaku pada Trump saja. Jokowi juga punya riwayat tersendiri mengenai diksi-diksi yang mampu menimbulkan pembicaraan masyarakat. Salah satu yang fenomenal adalah pidatonya yang membahas racun kalajengking di depan hadirin Musrenbangnas.

Serupa dengan pidato racun kalajengking tersebut, pidato berantem ini berhasil membuat Jokowi menjadi bahan pembicaraan masyarakat. Hal ini membuat Jokowi kembali menjadi tajuk utama di berbagai situs-situs berita dan menjadi tren di media sosial.

Jokowi bukanlah seorang presiden dengan kemampuan bahasa ucap sekelas misalnya Presiden Soekarno. Bagi orang seperti Jokowi, sulit untuk sepenuhnya berharap pada retorika dan pidato menggelegar ala Soekarno untuk menarik perhatian massa. Oleh karena itu, ia harus menempuh jalan lain agar perhatian masyarakat terkonsentrasi padanya.

Banyak orang menilai Jokowi seharusnya meniru Soekarno dalam melakukan pidato. Meski demikian, Jokowi memang tidak memiliki kharisma serupa presiden pertama tersebut saat berhadapan dengan mikrofon. Apalagi, saat ini kondisi masyarakat juga berbeda di mana media sosial tengah merajalela.

Diksi berantem yang digunakan Jokowi membuatnya menjadi buah bibir masyarakat secara instan. Ia tidak harus repot-repot berpidato seperti Soekarno untuk menjadi pembicaraan masyarakat. Masyarakat di media sosial memang cenderung lebih menangkap hal-hal sensasional seperti pidato di depan relawan tersebut sehingga, sengaja atau tidak, Jokowi telah menjadi sensasi di mata masyarakat.

Siap Berantem?

Sejauh ini, pilihan kata Jokowi dalam pidato tersebut telah berhasil menyentuh capaian khusus, yaitu menjadi pembicaraan masyarakat. Di sisi lain, pidato tersebut bisa dianggap memiliki maksud lain terutama jika melihat konteks tempat ia berpidato.

Kubu-kubu pendukung Jokowi menganggap bahwa pidato tersebut tidak lain hanya dimaksudkan untuk membakar semangat para relawannya. Oleh karena itu, sangat wajar diksi berantem digunakan Jokowi karena tergolong bisa dengan mudah membakar militansi.

Sebagaimana disebut di atas, Trump berhasil memainkan emosi pemilih melalui pilihan kata-katanya. Jokowi tampaknya memiliki langkah serupa dengan menggunakan kata berantem di depan relawan-relawannya. Kata seperti itu memang tergolong mudah untuk menyentuh sisi emosional para pendukungnya.

Di luar itu, hal ini bisa menjadi penanda bahwa Jokowi sudah menganggap serius gelaran Pilpres mendatang. Pilpres atau Pemilu secara umum memang dapat disetarakan dengan perang. Dalam konteks ini, Jokowi bisa saja menjalankan sebuah kutipan lama yaitu si vis pacem para bellum yang berarti ‘siapapun yang menginginkan perdamaian, maka ia harus mau berperang’.

Jika diperhatikan secara utuh, pada awalnya Jokowi menyebut bahwa para relawan jangan mencari musuh, tetapi jika ada yang mengajak, mereka harus siap bertarung. Ini seperti mengirim sinyal bahwa mereka tidak akan lari jika lawan memang menginginkan pertarungan.

Jokowi bisa saja sudah mulai gerah dengan berbagai serangan kampanye negatif yang terus-menerus dialamatkan kepada kubunya. Pernyataan siap berantem kepada relawan bisa menjadi sebuah sinyal kepada lawan bahwa mereka tidak lagi bisa diremehkan. Mereka siap berperang jika kubu lawan terus-menerus memancing dan mengajak bertarung.

Oleh karena itu, lawan-lawan Jokowi mungkin sudah seharusnya mulai berhati-hati. Jokowi kini sudah mulai menganggap serius pertarungan bahkan tidak segan untuk berperang. Salah perhitungan, serangan balik ala pasifis dari kubu Jokowi bisa berbuah petaka bagi mereka. (H33)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here