Benarkah Prabowo Terpaksa Islami?

Benarkah Prabowo Terpaksa Islami?
Benarkah citra Islami Prabowo adalah sebuah keterpaksaan? (Foto: istimewa)
8 minute read

Kesalahan Prabowo mengucapkan shalawat saat memberikan sambutan pada acara Reuni 212 menuai reaksi beragam dari masyarakat. Kubu pendukung Jokowi menyebut Prabowo sedang “menelanjangi” dirinya di hadapan umat Islam dan menampilkan pertentangan dalam jiwanya. Dengan arah gerakan politik Islam yang disisipkan – terlihat pada kata-kata Rizieq Shihab dalam sambutannya yang ingin menggeser haluan negara – tentu pertanyaan terbesarnya adalah apakah benar citra Islami yang kini menempel dalam kampanye Prabowo adalah sesuatu yang tidak bisa ia tolak, sehingga terkesan “terpaksa” digunakan?


PinterPolitik.com

“In the end, I found out that all the smiles were just a front. They would say something to me and do another thing behind my back.”

:: Prabowo Subianto, tentang anak-anak Soeharto dalam wawancara dengan Asiaweek tahun 2000 ::

Pecahnya kongsi Julius Caesar dengan Pompey pada tahun 49 SM dianggap sebagai sesuatu peristiwa yang tak terhindarkaninevitable historic moment – oleh banyak sejarawan. Pasalnya, dua pemimpin di era kekuasaan Triumvirat Romawi itu memang dianggap berkoalisi hanya berdasarkan kepentingan kekuasaan semata.

Mereka tidak perlu saling suka, tidak perlu pula saling memahami. Yang terpenting adalah bersatu menghadapi musuh yang bersama.

Pertanyaan tentang konteks koalisi untuk menghadapi musuh bersama yang demikian, kini mencuat pasca kesalahan kandidat yang akan maju di Pilpres 2019 nanti, Prabowo Subianto, mengucapkan kalimat shalawat di hadapan peserta aksi Reuni 212 beberapa hari lalu.

Dari latar belakangnya, jelas sangat terlihat bahwa pandangan politik Prabowo lebih terbuka terhadap semua latar belakang – agama, suku, ras dan budaya - bertolakbelakang dengan gagasan eksklusi Rizieq Shihab. Click To Tweet

Setidaknya hal itulah yang tergambar dalam pernyataan politisi Partai Hanura, Inas Nasrullah Zubir yang menyebutkan bahwa insiden kesalahan pengucapan shalawat Nabi Muhammad SAW yang dilakukan oleh Prabowo itu adalah sebuah proses – yang ia sebut – “penelanjangan” di hadapan jutaan umat Islam yang hadir.

Menurutnya, peristiwa itu menggambarkan adanya “pemaksaan” citra Islami kepada Prabowo – hal yang oleh Inas dianggap justru bertentangan dengan jiwa sang jenderal.

Artinya, jika menggunakan logika koalisi Caesar-Pompey, konteks dukungan politik terhadap Prabowo dalam kacamata Inas memang sangat mungkin hanya berbasiskan kepentingan untuk menghadapi musuh bersama, yakni Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Sebelumnya, Prabowo memang disorot terkait kesalahan pengucapan shalawat yang seharusnya berbunyi “shallallahu alaihi wa sallam”, namun diucapkan “sallalla hulaihi wa sallam”.

Lebih lanjut, menurut Inas, salah menyebutkan shalawat menunjukkan bahwa Prabowo tidak mencintai Nabi Muhammad – bahkan tidak mencintai Islam. Pasalnya, shalawat adalah hal yang disunahkan kepada semua umat Islam untuk diucapkan ketika menyebut atau mendengar nama Nabi Muhammad.

Terkait pernyataan Inas tersebut, kubu Prabowo memberikan bantahan. Menurut jubir Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga Uno, Suhud Aliyudin, sangat mungkin kesalahan itu terjadi karena sang jenderal takjub dengan banyaknya massa yang hadir kala itu, sehingga terburu-buru mengucapkannya.

Suhud pun menyinggung peristiwa yang menimpa Presiden Jokowi ketika salah menyebutkan surat Al-Fatihah menjadi Al-Fatekah.

Terlepas siapa yang benar di antara Inas maupun Suhud, yang jelas, pertanyaan terbesarnya tentu saja adalah tentang citra Islami Prabowo. Benarkah ada konteks keterpaksaan tersebut?

Citra Islami, “Paksaan” Politik untuk Prabowo?

Seberapa kuat citra dan pemahaman Islami Prabowo dan seberapa besar pengaruh ide-ide tersebut terhadap pandangan politik sang jenderal?

Jawaban untuk pertanyaan tersebut mungkin bisa dilihat dari sambutan Prabowo saat menghadiri Ijtima Ulama pada Juli 2018 lalu. Kala itu, Prabowo mengaku grogi berbicara di depan para ulama yang hadir karena ia jarang berbicara dengan ulama.

“Saya agak grogi hari ini karena jarang saya bicara dengan ulama, biasanya saya bicara (sebagai) TNI purnawirawan, agak grogi juga. Karena memang saya akui, saya tidak berasal dari pesantren, mungkin agama Islam saya kurang bagus,” demikian kata Prabowo kala itu.

Kata-kata itu secara tidak langsung bisa dijadikan patokan untuk menilai ukuran seberapa Islami Prabowo. Artinya, ia mengakui bahwa pemahamannya tentang agama memang kurang bagus. Prabowo bahkan menyebut dirinya jarang bicara dengan ulama – konteks yang tentu saja punya dimensi sejalan dengan pengetahuannya tentang agama.

Hal ini menjadi masuk akal jika memperhatikan pidato-pidato politik Prabowo yang cukup jarang mengutip ayat-ayat Alquran, atau membicarakan hal tertentu dan menghubungkannya dengan pemahaman tentang agama.

Konteks latar belakang Prabowo ini pernah ditulis oleh Harold Crouch, salah satu peneliti terkemuka asal Australia yang karya-karyanya banyak membahas tentang politik Indonesia. Dalam bukunya yang berjudul Political Reform in Indonesia After Soeharto, Crouch menyebutkan bahwa saat masih aktif di militer, Prabowo memang ada di kubu “hijau” – sebutan untuk kubu Islam di dalam militer.

Walaupun demikian, latar belakang keluarga Prabowo tidaklah Islami. Crouch menggunakan istilah post-colonial Dutch-educated urban elite – elite urban pasca kolonial yang mendapatkan pendidikan Belanda – untuk menggambarkan keluarga Prabowo. Konteks tersebut cenderung membuat pendidikan dalam keluarga Prabowo menjadi sangat liberal dan membebaskan pilihan-pilihan.

Hal ini juga sempat ditegaskan Hashim Djojohadikusumo – adik Prabowo – dalam sebuah kesempatan di 2014 lalu. Kala itu, Hashim menyebut ibu mereka, Dora Sigar adalah seorang Kristen sama seperti dirinya. Sementara, Prabowo adalah seorang muslim sama seperti sang ayah Sumitro Djojohadikusumo, sedang kakak Prabowo ada yang beragama Katolik. Bahkan ada sepupu Prabowo yang menikah dengan seorang Yahudi.

Konteks latar belakang yang demikian tentu saja membuat citra Islami sedikit banyak “kurang” terlihat dari Prabowo. Keluarga Prabowo sangat pluralis dan liberal serta membebaskan pilihan-pilihan agama.

Hal ini tentu saja akan sangat mempengaruhi pandangan-pandangan politik Prabowo saat ini terhadap Islam, pluralisme dan perbedaan-perbedaan, mengingat banyak penelitian ilmiah yang menyebutkan bahwa apa yang seseorang alami saat masih kecil di keluarganya punya pengaruh besar terhadap persepsinya ketika dewasa.

Latar belakang keluarga yang pluralis dan dididik ala Barat, tentu saja membuat persepsi politik Prabowo terhadap konteks keberagaman dan perbedaan tidak bisa dipisahkan dari pribadinya. Maka, akan sangat sulit membayangkan Prabowo “terjebak” dalam paham ekstrem – katakanlah – yang ingin mengubah dasar negara, anti terhadap pluralisme dan yang sejenisnya.

Terkait hal tersebut, Hashim dalam sebuah kesempatan berpidato di hadapan kelompok Kristen dan Tionghoa jelang Pilpres 2014 lalu, sempat menyebutkan bahwa tidak benar jika muncul pandangan Prabowo menjadi ekstrem dan radikal karena dikelilingi kelompok-kelompok garis keras.

Menurut Hashim, alasan Prabowo menjadi dekat dengan kelompok-kelompok garis keras adalah karena saudaranya itu tidak mungkin menutup diri dari pihak-pihak yang ingin mendukung pencalonannya.

Kata-kata Hashim ini tentu saja menjadi pembenaran bahwa sangat mungkin koalisi Prabowo dan kelompok Islam – seperti yang ia tampilkan di Reuni 212 – hanya berbasis kepentingan dan bertujuan untuk melawan musuh bersama saja.

Constructed Identity, Tabrakan Jiwa Prabowo?

Jika latar belakang Prabowo tidak begitu Islami – bahkan dari keluarga yang punya latar non-muslim dan dididik secara liberal – mengapa justru ia yang dipandang sebagai pemimpin yang cocok untuk memimpin umat?

Jawabannya bisa ditemukan dalam petikan wawancara Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang pada 2014 lalu menjadi juru bicara tim sukses Jokowi. Kala itu Anies menyebutkan bahwa konteks identitas pemimpin umat baru disematkan ke Prabowo setelah ia menjalin koalisi dengan partai-partai Islam.

Saat itu ada PKS, PAN, PBB dan PPP yang adalah 4 partai Islam dalam koalisi Prabowo. Konteks tersebut yang kemudian membuat konstruksi identitas pemimpin yang didukung partai Islam dimodifikasi menjadi “pemimpin umat” untuk mendapatkan dukungan yang lebih luas dari 88 persen penduduk Indonesia yang adalah umat muslim. Sementara, hal yang sebaliknya terjadi pada Jokowi yang mendapatkan cap pemimpin anti-Islam. (Baca: Jokowi Terjebak Ma’ruf Amin) 

Pada titik ini, konteks identitas Prabowo yang Islami adalah sebuah constructed identity atau identitas yang dikonstruksi untuk kepentingan politik. Hal ini sesuai dengan pemikiran Karen A. Cerulo dari Rutgers University, New Jersey yang menyebutkan bahwa identitas sering kali dipandang sebagai sumber untuk memobilisasi massa, ketimbang produk dari mobilisasi itu sendiri.

Artinya, identitas Islami Prabowo memang hasil konstruksi untuk kepentingan mobilisasi dukungan politik. Pertanyaannya kemudian adalah apakah benar kata-kata Inas di awal bahwa ada pertentangan dalam diri Prabowo yang terjadi dalam konteks ini?

Jawabannya bisa saja benar. Dari latar belakangnya, jelas sangat terlihat bahwa pandangan politik Prabowo lebih terbuka terhadap semua latar belakang – agama, suku, ras dan budaya. Apalagi, jika konteks ke-Islamannya memang hanya pada tataran praktis semata.

Pada titik ini, tentu saja ada kontradiksi yang mungkin terjadi dalam diri Prabowo, mengingat konsepsi yang digulirkan oleh Rizieq Shihab misalnya, adalah sebuah eksklusi yang bertujuan untuk menggeser haluan negara ke arah kepentingan satu kelompok saja. (Baca: Rizieq: Ayat Suci di Atas Konstitusi)

Maka, boleh jadi kata-kata Inas tentang pertentangan dalam jiwa Prabowo tersebut benar adanya. Boleh jadi koalisi Prabowo dan kelompok Islam hanyalah berbasis kepentingan kekuasaan semata, yakni untuk mencegah Jokowi terpilih lagi.

Sementara pada saat yang sama, masing-masing punya agendanya tersendiri. Prabowo memang mengincar kekuasaan, sementara kelompok Islam menginginkan eksklusi – mungkin juga sebuah negara Islam.

Yang jelas, mungkin Prabowo akan kembali mengalami apa yang terjadi antara dirinya dengan anak-anak Soeharto – seperti dikutip di awal tulisan. Suatu saat, sangat mungkin ia dan – katakanlah – Rizieq serta kelompok-kelompok Islam tersebut, sampai pada tingkatan hubungan yang “tersenyum di depan, mengatakan sesuatu kepada saya, namun melakukan hal lain di belakang”.

Jika hal tersebut yang terjadi, maka kisah Caesar dan Pompey sangat mungkin akan terulang suatu waktu di masa depan dalam diri Prabowo. Menarik untuk ditunggu. (S13)