Battle of Solo Jokowi-Prabowo

Jokowi Prabowo Solo
Jokowi dan Prabowo. (Foto: Antara Foto)
7 minute read

Solo, wilayah yang jauh dari ingar-bingar Jakarta justru tampak menjadi medan pertempuran bagi peserta Pilpres 2019, Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Keduanya tampak saling unjuk kekuatan untuk mengamankan suara dari wilayah ini.


Pinterpolitik.com

Kota Solo tampak jadi rebutan dalam Pilpres 2019. Kota yang terletak di provinsi Jawa Tengah ini seperti menjadi arena bagi pertunjukan massa dari Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto. Apalagi, aksi unjuk kekuatan massa dalam kampanye ini dilakukan dalam waktu yang amat berdekatan.

Jokowi jadi kandidat pertama yang menunjukkan kedigdayaannya di kota tersebut. Hal ini tergolong wajar, mengingat mantan Gubernur DKI Jakarta ini adalah putra daerah Solo. Tak hanya itu, ia juga sempat menjadi  wali kota dua periode di kota tersebut. Melalui rekam jejak tersebut, jelas Jokowi ingin menunjukkan pengaruhnya dengan menghadirkan massa sebanyak-banyaknya saat berkampanye.

Prabowo tampak tak mau kalah dari kandidat petahana tersebut. Mantan Danjen Kopassus ini seolah ingin merebut rumah Jokowi dengan menunjukkan bahwa ia juga bisa menarik massa dari kota yang kini dipimpin oleh FX Hadi Rudyatmo tersebut.

Terlihat bahwa seperti terjadi perang di antara Jokowi dan Prabowo untuk memperebutkan Kota Solo. Lalu, mengapa kota atau wilayah ini menjadi penting bagi kedua kubu? Apakah ini murni perkara elektoral atau ada persaingan dalam konteks lain?

Kota yang Diperebutkan

Secara elektoral, potensi suara dari Kota Solo dan wilayah eks Karesidenan Solo boleh jadi tak sebesar kota-kota besar lain di Indonesia.  Jumlah pemilih di wilayah ini tergolong kecil jika dibandingkan beberapa wilayah lain di Jawa Tengah.

Di Kota Surakarta, total pemilih tetapnya berjumlah 422 ribu orang. Jika seluruh wilayah di Karesidenan Solo yang berjumlah tujuh daerah digabung, total suaranya hanya 5,24 juta dari total 27,8 juta pemilih di Jawa Tengah.

Meski begitu, bukan berarti kota ini sama sekali tidak penting. Ada beberapa simbol penting yang ada di area ini. Salah satunya adalah keberadaan Keraton Surakarta yang memiliki akar historis cukup panjang di negeri ini.

Jika hasil Pemilu jadi acuannya, kota ini cenderung menjadi pemberi suara cukup besar bagi partai berhaluan nasionalis-sekuler. Pada Pemilu tahun 1955, PKI dan PNI menjadi partai yang meraup suara terbanyak di wilayah ini. Sementara itu, di era yang lebih modern, PDIP menjadi kampiun dalam gelaran Pemilu dua periode terakhir.

Dari sisi yang relatif berseberangan, Solo juga belakangan dianggap sebagai salah satu wilayah yang mengalami pertumbuhan pemahaman Islam berhaluan konservatif bahkan radikal di masyarakat. Keberadaan Pondok Pesantren Al Mu’min Ngruki yang salah satunya didirikan oleh Abu Bakar Ba’asyir menjadi salah satu indikasi bahwa wilayah ini memiliki kompleksitas tersendiri di dalam masyarakatnya.

Dalam catatan M. C. Ricklefs, Surakarta atau Solo memang menjadi rumah bagi beberapa kelompok masyarakat dari ragam ideologi dan agama. Polarisasi masyarakat di wilayah ini kemudian kerap menjadi sasaran politisasi tergambar dari berbagai organisasi sejarah dan kelompok masyarakat di dalamnya.

Kondisi-kondisi ini dapat menggambarkan bahwa kompleksitas Kota Solo membuatnya  tergolong dapat menjadi kota yang bisa diperebutkan oleh kandidat manapun yang berlaga di gelaran setingkat Pilpres. Oleh karena itu, meski dari segi jumlah pemilih tak sebanyak kota-kota lain, kota ini tetap bisa dianggap penting untuk diambil dukungannya.

Keuntungan Putra Daerah

Di atas kertas, Jokowi seharusnya bisa menang mudah di kota asalnya tersebut. Sebagai putra daerah tentu ia telah menguasai betul medan pertempuran di kota ini. Apalagi, ia sendiri memiliki modal elektoral cukup menjanjikan melalui kiprah politiknya di Solo.

Ia sempat mencicipi kemenangan dengan perolehan suara sebesar 36,62 persen dalam ikhtiar pertamanya menjadi orang nomor satu di Kota Solo pada Pilkada tahun 2005. Capaian fenomenal kemudian ia tunjukkan di Pilkada tahun 2010 dengan meraup suara sebesar 90,09 persen.

Pada Pilpres 2014, kedigdayaan dan dominasinya di kota asalnya ini kembali ia tunjukkan. Berpasangan dengan Jusuf Kalla, Jokowi kala itu berhasil mengamankan kota ini dengan mendapatkan perolehan suara sebesar 84 persen.

Merujuk pada kondisi tersebut, terlihat bahwa ada keuntungan dan keunggulan Jokowi  di kota atau daerah asalnya tersebut. Hal ini sejalan dengan riset Michael S. Lewis-Beck dan Tom W. Rice yang menyebut bahwa ada lokalisme yang memberikan keuntungan kepada kandidat tertentu.

Jokowi dan kota Solo dalam konteks ini dapat dikatakan memiliki keunggulan layaknya  home-state advantage atau keunggulan negara bagian asal yang umum terjadi dalam Pilpres di Amerika Serikat (AS). Pada kondisi tersebut, mayoritas kandidat presiden negeri Paman Sam memang cenderung unggul di negara bagian tempat ia tinggal dan/atau dilahirkan.

Modal tersebut tentu wajar jika membuat Jokowi merasa di atas angin. Di depan pendukungnya yang memenuhi Lapangan Sriwedari, Jokowi meminta perolehan suara di kotanya ini bisa melebihi perolehannya di tahun 2014. Angka 90 persen dipatok jadi target Jokowi untuk mengamankan suara kota asalnya tersebut.

Mengusik Daerah Lawan

Di lain pihak, ada Prabowo yang belakangan tengah mengusik kenyamanan Jokowi di kota asalnya  sendiri. Meski tertinggal jauh pada Pilpres 2014, Prabowo dan tim suksesnya seperti ingin membuat Jokowi merasa malu dan gigit jari di kotanya sendiri dengan meraup suara dan memamerkan massa sebanyak-banyaknya.

Indikasi awal upaya melemahkan suara Jokowi di kotanya sendiri dapat terlihat pada gelaran Jalan Sehat #2019GantiPresiden pada lalu. Kala itu, massa yang digawangi kubu-kubu oposisi ini bahkan sempat berkumpul di depan gerai makanan miliki putra Jokowi, Gibran Rakabuming Raka.

Selain itu, belakangan BPN Prabowo-Sandi juga mendirikan posko pemenangan di kota tersebut. Pendirian posko ini, sedikit banyak dipengaruhi oleh Ketua BPN Prabowo-Sandi Djoko Santoso yang juga asal Solo.

https://www.instagram.com/p/BwEfQ0snjyR/

Langkah-langkah tersebut seperti menunjukkan bahwa Prabowo ingin menundukkan wilayah yang menjadi daerah kekuasaan lawan. Penaklukan kota Solo bagi Prabowo dapat menjadi simbol penting untuk mengirimkan pesan bahwa Jokowi sudah tak lagi didukung bahkan di kota asalnya sendiri. Hal ini terutama karena kontribusi suara wilayah ini memang tak sebesar banyak wilayah lain.

Prabowo boleh jadi mengambil strategi layaknya dalam sebuah perang. Dalam Medieval Warfare: Theory and Practice of War in Europe, 300-1500 milik Helen Nicholson, merebut wilayah lawan tak hanya soal merebut harta rampasan atau tawanan, tetapi untuk melemahkan posisi lawan. Pada titik ini, Prabowo boleh jadi tak hanya bermaksud mengambil suara kota Solo, tetapi melemahkan pandangan umum tentang Jokowi.

Secara visual, kampanye Prabowo di Solo jelas bisa membuat Jokowi dan tim pemenangannya lebih khawatir. Di atas kertas, sulit untuk membayangkan di kota asal Jokowi, bisa ada konsentrasi massa begitu banyak di acara kampanye Prabowo sebagai lawan Jokowi.

Solo boleh jadi adalah rumah bagi Jokowi. Tetapi, hal ini bukan berarti Prabowo tak punya peluang sama sekali untuk menaklukan kota ini. Click To Tweet

Meski sulit, penaklukan wilayah asal lawan ini sebenarnya masih mungkin terjadi. Pada Pilpres Amerika Serikat 2012 misalnya, Mitt Romney harus menanggung malu karena tak hanya kalah di negara bagian kelahirannya, tetapi juga di negara bagian tempat tinggalnya. Rasa malu Romney boleh jadi memuncak karena hal itu berkontribusi pada kekalahannya di Pilpres tersebut dari Barack Obama.

Merujuk pada hal tersebut, meski Jokowi dapat dianggap memiliki keunggulan dari segi lokalisme, Prabowo masih memiliki kemungkinan mengambil alih dukungan di Kota Solo. Pada titik ini, Solo dapat dianggap menjadi battleground yang penting bagi kedua kandidat. Ada Jokowi yang  ingin menang telak di kotanya sendiri, namun ada pula Prabowo yang ingin membuat Jokowi gigit jari di kotanya sendiri.

Jokowi boleh jadi unggul karena merupakan putra daerah Kota Solo. Ia bersama partai pendukung utamanya PDIP dapat menarik banyak pemilih dari golongan nasionalis-sekuler. Meski demikian, dengan kompleksitas masyarakat Solo, Prabowo bisa saja memanfaatkan hal itu untuk menggoyang kedigdayaan Jokowi.

Prabowo misalnya dapat mengambil celah kelompok yang lebih religius untuk mengambil alih dukungan Solo dari Jokowi. Momentum ini sendiri kini tengah ada pada Prabowo, tergambar dari Jalan Sehat #2019GantiPresiden dan pengajian Presidium Alumni (PA) 212 di Solo yang cenderung memberi dukungan kepada sang jenderal. Momentum lainnya tergambar dari kehadiran massa yang besar saat ia berkampanye di kota tersebut.

Lalu bagaimana pertarungan di Kota Solo akan berakhir? Apakah Jokowi sebagai putra daerah akan lebih unggul? Atau justru Prabowo bisa membuat malu Jokowi di kota asalnya sendiri? (H33)

Baca juga :
Pendidikan Indonesia Makin Intoleran?