‘Bani Sorban’ Pendukung Prabowo

‘Bani Sorban’ Pendukung Prabowo
Istimewa
2 minute read

“Prabowo mau enggak komitmen tegakkan hukum Islam? Kalau mau, Persaudaraan Alumni 212 siap dukung. Karena komitmen kami untuk menuju Indonesia bertaqwa dan sejahtera.” ~ Anggota Penasihat Persaudaraan Alumni (PA) 212 Eggi Sudjana.


PinterPolitik.com

Sejak preseden buruk Pemilihan Gubernur DKI Jakarta tempo lalu, yang diwarnai oleh beragam isu SARA, nama Persaudaraan Alumni 212 kian menjadi daya tarik tersendiri menjelang Pilpres 2019 mendatang. Bahkan Anggota Penasihat Persaudaraan Alumni (PA) 212, Eggi Sudjana mengaku pihaknya akan memberikan dukungan kepada calon Presiden yang akan menegakkan hukum Islam. Wuidih, jos gandos.

Tapi pasti ketebak lah ya, siapa sosok Capres yang dimaksud. Anggaplah sekarang sudah mengkrucut jadi dua nama, Jokowi dan Prabowo. Masa iya Jokowi sih yang akan dituju sama Bang Eggi? Jokowi kan udah sering diterpa isu anti Islam dengan berbagai tetek bengeknya itu. Jadi dengan kata lain, Prabowo lah yang cucok sebagai sosok pembawa hukum Islam tegak di Indonesia. Suwer, mi apa nih?

Berbicara politik praktis, ya memang seperti ini, di mana ada kesempatan, di situ para politisi akan berlabuh. Umat Muslim sekali lagi akan dijadikan komoditi dalam mencapai tujuan politis dari agenda partai politik. Kalau warga Jakarta yang konon terkenal memiliki tingkat intelektual tinggi saja bisa terhanyut dengan penggiringan politik isu SARA, ya apalagi daerah pelosok di Indonesia? Hadeuh.

Cara mainnya sederhana aja kok. Prabowo menjanjikan dan meniupkan angin surga mengenai kebangkitan Islam di bawah pimpinanannya kelak. Lalu PA 212 akan menjadi trigger bagi pergerakan umat Muslim se-Indonesia. Bumbunya? Ya isu SARA. Targetnya siapa? Ya lawan politiknya dungs. Siapa lagi? Jokowi lah. Dan bisa ditebak kalau Jokowi nanti akan diterpa berbagai isu sumir seputar politik identitas.

Jadi apa artinya? Bisa dikatakan kalau strategi politik seperti ini adalah salah satu bentuk pemanfaatan Islam itu sendiri. Ya bisa iya, bisa juga gak sih, tergantung kita ngeliatnya. Kalau dari kacamata Buni Yani dan Jonru, wokeh aja mah. Tapi kalau di mata Ustad Janda al Boliwudi, ya pasti bakal dibilang “Jangan mau dibohongi pakai agama!” Itu mengapa ‘Cebong’ dan ‘Kampret’ gak akan bisa menyatu, buahahaha.

Tapi asal tau aja nih ya, politik itu gak bersih sebersih kemeja yang baru kalian beli dari gerai pakaian. Gak ada jaminan Prabowo setelah menang pemilu akibat dukungan PA 212 ini, nantinya akan menegakkan hukum Islam. Tanya kenapa coba? Ya karena politik itu adalah alat untuk menuju kekuasaan. Setelah menjabat, bagi-bagi kekuasaan, amankan posisi, terus bobo cantik lah. Kok ngeselin ya politisi yang kayak gini, cape deh. (K16)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here