Awas, Mau Dipukul Moeldoko

Awas, Mau Dipukul Moeldoko
Foto : Istimewa
3 minute read

“Ku telah terlampau lelah, berilah aku waktu sesaat. Untuk membasuh luka, untuk membasuh jiwa agar suci lagi. Meski hanya sehari.” ~ Navicula


PinterPolitik.com

Selain Polisi, Tentara Nasional Indonesia (TNI) juga patut diperhitungkan oleh para penjahat dan pelanggar hukum yang berada di Indonesia. Pasalnya lembaga ini memiliki ribuan anggota yang profesional dan terlatih gengs.

Seleksi perekrutan yang cukup ketat dan berat membuat anggota yang tergabung di dalamnya sangat terampil, cerdas dan kuat “sangar”.

Bagaimana tidak, TNI sudah melahirkan banyak prestasi di dalam negeri maupun luar negeri, dan sering kali disebut-sebut sebagai “manusia super” oleh tentara asing.

Contonya gengs, tentara Amerika Serikat yang sering berlatih dengan TNI selalu dibuat duduk terdiam dengan rahang yang terbuka lebar melihat kekuatan dan kemampuan TNI kita.

Kalo sudah tahu gitu, apa kalian masih meragukan kesangaran TNI? Berani kalian bikin perkara sama TNI? Ahaha mikir dua kali deh gengs.

Bukan hanya anggota aktif saja gengs yang bikin bulu kuduk berdiri, purnawirawan sekelas Moeldoko juga masih terlihat sangar, wow gengs. Wuuuu coba saja lihat komentar dia untuk Pilkada nanti.

Dengan nada yang santai, dia mengungkapkan: “Tapi janganlah isu SARA digunakan! Karena begitu memasuki area itu, sesungguhnya nanti pada akhirnya akan memukul dirinya sendiri.” Widih, ayo siapa yang mau mukul diri sendiri hehehe.

Jika lihat Pak Moeldoko marah tuh gengs, hati ini terasa bergetar seperti melihat anjing herder gonggong tepat di depan mata kalian, lalu ikatanya lepas, sementara pemiliknya lagi pergi entah ke mana. Nah gimana tuh rasanya? Ahahaha.

Eh, tapi sebenarnya enggak kok gengs. Moeldoko itu nggak seseram apa yang digambarkan di atas. Sosoknya memang keras tapi itu simbol dari ketegasan sebagai tokoh politik nasional. Hehehe becanda ya pak.

Baca juga :
Polisi Yang Ditukar TNI

Bukti ketegasan Moeldoko terlihat dari imbauan yang dikeluarkanya.  Dia sempat berpesan kepada masyarakat terutama partai dan simpatisannya, untuk tidak coba-coba mengangkat isu SARA yang memunculkan pertikaian dan konflik.

Politik di Indonesia sudah mendekati masa kampanye Pemilihan Umum Presiden di tahun 2019. Imbauan itu bertujuan menghindari kondisi politik seperti yang sempat terjadi pada Pilkada DKI Jakarta.

Kalau digambarkan, panasnya Pilkada saat itu seperti tengah hari di siang bolong sambil jajan cireng telor pakai sambal plus micin rasa-rasa, plus bumbu lada, plus pas lagi makan ada Kopaja oranye yang numpang lewat di sebelah persis, dan abang supirnya nggak sengaja ngegeber gas. Ditambah lagi, mantan kekasih lewat sambil dirangkul sama cowok barunya, dan pas mau bayar ternyata uangnya kurang.

Jleb, rasanya ingin berkata kasar gengs. Kasaaaarrr. Hahaha.

Hmmm, sudahlah, yang tepenting gengs, di tahun 2019, kita harus dewasa dan tidak termakan isu propaganda kelompok tertentu. Pilihlah pemimpin menurut hati nuranimu, seperti yang diungkapkan Soekarno: “Pemilihan umum jangan menjadi tempat pertempuran, perjuangan kepartaian yang dapat memecah persatuan bangsa Indonesia.” (G11)

Facebook Comments