Australia Bikin Pemerintah Galau?

Kedubes Australia ke Yerussalem
Menlu Retno Marsudi. (Foto JoSS.co.id)
2 minute read

“Kenapa kita sedih? Mungkin karena hati kita adalah Palestina, jawab saya, pernah merasakan bagaimana diringkas, diringkus, dan dibungkam di dunia.” ~Goenawan Mohamad


PinterPolitik.com

Kabar Australia hendak memindahkan kedutaan besarnya dari Tel Aviv, Israel, ke Yerusalem, membakar gejolak jiwa pemerintah Indonesia. Kenapa?

Ya iya dong, wong bentar lagi mau bikin perjanjian ekonomi yang menguntungkan, eh Australia malah berwacana untuk membuat kebijakan internasional yang berlawanan dengan prinsip Indonesia. Duh, duh, duh…

Sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin, Hasto Kristiyanto, mengatakan kalau kubunya menolak rencana Australia dan menegaskan kalau Yerusalem masih bagian dari Palestina yang harus dibela oleh seluruh negara dunia.

Mantap! Lagian kalau setuju juga emang berani? Mau dijadiin rengginang sama rakyat? Hehehe.

Ya, kalau melihat sejarah, Indonesia dan Palestina seperti sahabat karib yang tak dapat dipisahkan. Palestina adalah negara pertama yang mengakui kedaulatan bangsa kita. Dan hingga kini pun, Indonesia selalu menggenggam tangan Palestina dalam meraih kemerdekaanya kembali.

Kemerdekaan Palestina harga mati! Click To Tweet

So sweet ya. Tapi harusnya, kalau sama bangsa lain aja kita bisa seromantis itu, apalagi dengan bangsa sendiri? Masa cuma karena beda pilihan politik sampai harus adu urat? Jangan ya. Takbir! Mantap!

Back to topic ya gaes. Jadi, saat mendengar wacana tersebut, Indonesia melalui Menlu Retno LP Marsudi langsung memanggil Duta Besar Australia, Gary Wuinlan ke kantornya. Panggilannya sampai dilakukan dua kali loh gaes, demi mendapatkan penjelasan dan kepastian yang sebenar-benarnya. Wow, wow, wow

Sebenarnya gaes, kita dan Australia tuh sedang ingin menjalin Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Australia (IA-CEPA). Dengan adanya wacana ini, apakah kerjasama itu bisa terwujud? Apakah Pakde bersedia membatalkan perjanjian kalau-kalau Australia tetap kukuh dengan sikapnya?

Keuntungan yang kita dapat dari perjanjian ini nggak main-main ternyata. Bayangin, kita boleh membanjiri produk kita di pasar Australia, udah gitu produk impor kita bakal dibebasin dari tarif apapun. Gurih kan?

Bagaimana pun, wacana rencana Australia tersebut bisa menjadi panggung untuk Jokowi. Bukan panggung dangdut ya gaes, tapi panggung untuk meraih simpati rakyat. Pasti Pakde bosen kan dibilang PKI dan anti-Islam? Hihihi. (E36)