ASYIK ‘Provokator’ Pilkada Jabar

ASYIK ‘Provokator’ Pilkada Jabar
Istimewa
3 minute read

“Kalau kami terpilih menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat, 2019 kita ganti Presiden,” ~ Calon Gubernur Jawa Barat, Sudrajat.


PinterPolitik.com

Partai Gerindra, PKS dan PAN sepertinya gak henti-hentinya mempromosikan gerakan #2019GantiPresiden. Sebagai pasangan Calon Gubernur Jawa Barat yang diusung oleh ketiga partai ini, Sudrajat dan Ahmad Syaikhu juga gak ketinggalan mempromosikan gerakan ini disetiap kesempatan. Bahkan slogan ini sempat didengungkan keduanya sebagai kalimat penutup saat debat Gubernur Jawa Barat di Balairung Universitas Indonesia tempo lalu.

Ibarat tayangan ditelevisi, seperti biasa akan ada iklan titipan sponsor. Begitulah rasanya saat pasangan ASYIK ini mendengungkan kalimat ‘2019 ganti Presiden’ di tengah suasana debat Pilkada Jawa Barat. Apa coba urusannya Pilkada dengan Pilpres? Eike rasa slogan ini gak relevan ah kalau dibawa ke Pilkada. Gaje!

Kalau dalam debat itu Paslon saling mengutarakan visi-misi, ya ok lah. Mengkritik visi-misi kandidat lain juga masih esensial. Lah kalau malah mengangkat slogan 2019 Ganti Presiden. Gak penting, unfaedah banget tau gak sih. Ini mah sama aja gak bisa menjual potensi diri kepada masyarakat pemilih. Norki ah.

Nah, gegara syahwat untuk mendengungkan slogan 2019 Ganti Presiden ini, suasana debat kian memanas. Yang memanas sih bukan sesama kandidat, tapi audiens yang menghadiri debat Pilkada Jawa barat itu sendiri. Nah, kan kalau udah kayak gitu salah siapa coba? Malah keliatan kayak ‘provokator’ yang memperkeruh suasana.

Sepertinya pasangan ASYIK ini memang mau mengidentifikasikan diri sebagai sosok calon pemimpin daerah yang juga mendukung gerakan ganti Presiden. Jadi diharapkan jika masyarakat yang memiliki pandangan sama nantinya akan termobilisasi untuk memilih Paslon nomor tiga ini. Sa ae lau ASYIK.

Sambil menyelam, minum air, begitulah kira-kira ya strategi kampanye Paslon ini. Tapi ketimbang sebuah strategi yang jitu, di sisi lain strategi ini juga terlihat picik karena keinginan menjabat dibarengi upaya merongrong posisi jabatan pihak lain. Kan jadinya malah gak etis secara politik. Hadeuh, aya aya wae ah.

Ya tapi untuk sebagian pemilih Jawa Barat pasti melihatnya biasa-biasa aja. Gak ada yang salah tuh kalau ada Paslon dalam Pilkada yang juga membawa semangat 2019 Ganti Presiden. Tapi kalau eike pikir-pikir lagi, tetap aja gak ada korelasinya gerakan ini dengan semangat 2018 ASYIK Menang.

Lucu gak sih kira-kira kalau kalian diminta membeli mie ayam di satu toko tertentu hanya karena si pemilik toko itu menyerukan bahwa makanan di restoran cepat saji tidak menyehatkan? Kalau eike sih beli mie ayam karena rasanya yang enak. Kalau gak enak, ya gak usah dibeli, beli pecel lele aja. Ngapain juga ngerempongin diri beli mie ayam tertentu hanya karena sama-sama gak menyukai makanan cepat saji? Situ sehat? (K16)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here