Aristoteles Versus Amien Rais

Aristoteles Versus Amien Rais
Istimewa
6 minute read

Mantan Ketua Umum PAN Amien Rais menyatakan dirinya sebagai calon presiden yang akan menantang Jokowi di Pilpres 2019. Membawa nama Allah, Amien di atas angin?


PinterPolitik.com

“Demokrasi muncul dari pemikiran manusia bahwa jika mereka setara dalam hal apapun, mereka mutlak sama.”

Dalam satu sesi pelajaran, Filsuf klasik Aristoteles meminta siswanya untuk memperpendek garis yang ia buat. “Wahai muridku, siapa yang bisa memperpendek garis yang aku buat ini?” Seorang murid kemudian maju dan menghapus garis yang dibuat gurunya tersebut.

Walau sang murid membuat garis tersebut menjadi lebih pendek, namun ternyata jawaban tersebut tidak dibenarkan oleh Aristoteles. Lalu majulah murid yang lain, dia adalah Iskandar Dzulqarnain atau yang dikenal sebagai The Great Alexander, Kaisar yang mampu menakhlukan tiga benua, Eropa, Afrika, dan Asia: Makedonia.

Berbeda dengan murid sebelumnya, Dzulqarnain tidak menghapus garis yang dibuat gurunya. Namun ia membuat garis baru yang ukurannya jauh lebih panjang dari garis yang dibuat Aristoteles sebelumnya. Melihat jawaban muridnya tersebut, Ahli Matematika itu pun tersenyum dan membenarkan jawabannya.

Melalui garis tersebut, Aristoteles mengajarkan pada muridnya bahwa untuk mengatasi persoalan, akan jauh lebih bermanfaat bila dilakukan tanpa merusak atau menyalahkan apa yang telah ada. Ibarat menghapus setengah garis yang dibuat Aristoteles, tindakan itu sama saja menyakiti orang yang telah membuatnya.

Berdasarkan pelajaran dari Aristoteles di atas, keputusan Amien Rais untuk menantang Jokowi di Pilpres 2019 mendatang patut diapresiasi. Seperti diketahui, sejak Jokowi berhasil menduduki kursi Gubernur DKI Jakarta hingga Presiden, mantan Ketua MPR tersebut seakan tak pernah berhenti mengkritik bahkan mencela kepemimpinannya.

Dengan bertarung secara “jantan” di Pilpres nanti, setidaknya akan menjadi pembuktian apakah segala kritik dan ajakan tokoh reformasi ini akan menjadi kenyataan. Apalagi belakangan, Pendiri Partai Amanat Nasional (PAN) ini juga sepertinya yakin kalau Allah merestui dirinya untuk menjatuhkan pamor mantan Walikota Solo tersebut.

Pernyataan Amien mengenai Jokowi yang menurut berbagai pihak mulai kelewat batas, juga dikhawatirkan mampu menimbulkan gejolak di masyarakat. Dengan menggunakan dalih agama dan nama besar Tuhan, Amien disinyalir sengaja menciptakan polarisasi dan perpecahan yang semakin dalam di masyarakat.

Walau keputusan Amien untuk maju sebagai capres disambut baik banyak pihak, namun tak sedikit pula yang menyayangkan keputusan tersebut. Selain usianya yang sudah senja, PAN juga tidak cukup punya suara untuk mengusung capresnya sendiri. Apalagi koalisi oposisi yang mendukung Prabowo pun, berharap suara PAN dapat memperkuat oposisi.

Ambisi Lama Belum Usai?

“Kebaikan terbesar merupakan kebaikan yang sangat berguna bagi orang lain.”

Hampir setiap hari, pagi-pagi sekali Aristoteles selalu keluar rumah untuk menolong orang-orang yang membutuhkan. Hampir setiap hari itu pula, ia mendapatkan omelan dari istrinya yang antisosial, bernama Pythias. Walau begitu, omelannya itu tidak pernah menyurutkan langkah murid Plato tersebut untuk melakukan kegiatan sosial.

Suatu hari, Aristoteles keluar dengan langkah tak bersemangat dan loyo tidak seperti biasanya. Kemuramannya ini membuat para sahabat bertanya-tanya, “Wahai Aristoteles, mengapa engkau bermuram durja?” Dengan tatapan lesu, ia menjawab kalau istrinya tengah sakit, sehingga ia tidak mendapat omelan seperti biasanya.

Mendengar itu, para sahabatnya tertawa geli. Bukankah keuntungan bagi Aristoteles karena tidak diomeli lagi? Namun jawaban itu ternyata malah membuatnya semakin sedih. Menurutnya, omelan istrinya selama bertahun-tahun, merupakan kesempatannya melatih kesabaran. Itulah yang membuatnya sedih, guru kesabarannya tengah sakit!

Omelan atau kekalahan, bagi Aristoteles, merupakan guru untuk mengasah kesabaran. Namun tak semua orang memiliki kesabaran sebesar Aristoteles. Kekalahan bukan dipandang sebagai sebuah pelajaran, sebaliknya malah menciptakan ketidakpuasan dan dendam yang berkepanjangan.

Keputusan Amien Rais untuk maju sebagai capres, memang kerap ia gambarkan layaknya Mahathir Mohammad yang kembali menjabat sebagai Perdana Menteri (PM) Malaysia di usia 90-an. Meski begitu, Amien bukanlah Mahathir yang memiliki legacy 22 tahun menjabat sebagai PM sebelumnya.

Di sisi lain, kembalinya Mahathir ke bursa politik lebih dikarenakan adanya urgency kepemimpinan demi menyelamatkan negaranya. Lalu bagaimana dengan Amien? Walau di 1999, gagal diangkat sebagai presiden, namun ia berhasil menduduki kursi Ketua MPR setelah membidani koalisi poros tengah di DPR.

Saat Pemilihan Presiden Langsung pertama digelar pada 2004, Amien pernah mencoba peruntungannya dengan menggandeng Siswono Yudo Husono. Melalui PAN, Amien saat itu bertarung melawan empat pasangan lain, yaitu SBY-JK, Megawati-Hasyim Muzadi, Wiranto-Gus Sholah, serta Hamzah Haz-Agum Gumelar.

Popularitas SBY yang saat itu tengah melejit, membuat tak hanya Amien, tapi juga Megawati gigit jari. Sejak kekalahan itu, Amien memposisikan dirinya sebagai sosok yang selalu mengkritik pemerintah. Tak heran bila SBY maupun JK ikut bereaksi ketika kritikan Amien terhadap Jokowi sudah dianggap kelewat batas kesopanan.

Amien dan Ajaran Aristoteles

“Dalam arena kehidupan manusia, penghormatan dan penghargaan jatuh kepada orang-orang yang menunjukkan sifat-sifat baiknya dalam tindakan.”

Saat masih menjabat sebagai Presiden Keempat, Almarhum Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pernah bercerita tentang kitab etika Aristoteles yang ia lihat saat berkunjung ke Maroko di tahun 1979. Ketika itu, ia mengaku menangis terharu saat melihat kitab yang disimpan dalam kotak kaca kedab udara.

Kitab Aristoteles yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab tersebut, menurutnya berisi materi etika dan akhlak dan telah ada sejak zaman permulaan Islam. Sehingga saat Imam masjid bertanya mengapa ia menangis, Gus Dur mengatakan kalau bukan karena kitab itu, saat ini ia tidak akan menjadi Muslim.

Menurut Gus Dur, walaupun Aristoteles lahir 1200 tahun sebelum Islam, namun nilai-nilai dan etika yang ia anut sesuai dengan akhlak yang diajarkan oleh Islam, yaitu mewujudkan kebaikan bersama dan keadilan di tengah masyarakat atau yang dalam Islam disebut sebagai rahmatan lil’alamin.

Karena itulah semasa hidupnya, Gus Dur tidak setuju dan sangat menyayangkan kalau Islam dipolitisasi demi mendapatkan kekuasaan. Entah apa yang akan dikatakan Gus Dur, bila ia masih hidup dan mendengar Amien melibatkan asma Allah dalam setiap agitasinya untuk menjatuhkan pemerintahan Jokowi.

Menurut Ekonom Politik dan Sosiolog Jerman Maximillian Weber, penggunaan simbol tradisional seperti agama, memang merupakan salah satu alat untuk mendapatkan legitimasi kekuasaan. Umumnya, pemimpin yang menggunakan model ini di sebabkan akibat kurang memiliki kekuatan kharismatik dan legal rasional.

Politisasi agama, menurut Politikus Jerman dari Universitas Hamburg Bassam Tibi,  juga kerap digunakan oleh para pemimpin yang memiliki karakter fundamentalis. Keberadaan fundamentalis ini, merupakan gejala ideologis yang muncul sebagai respon atas problem globalisasi, fragmentasi, dan benturan peradaban.

Tibi menilai, para fundamentalis ini berusaha membuat kekacauan dengan melakukan berbagai agitasi di masyarakat. Manuver Amien membawa legitimasi Allah dalam setiap serangannya, juga dilihat Analis politik dari Exposit Strategic Arif Susanto sebagai agitasi yang dapat menimbulkan dukungan dan kebencian yang dapat menimbulkan perpecahan.

Sementara itu, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD saat di wawancara Gatra (2007) mengakui, kalau saat ini banyak politikus Indonesia yang berubah rupa dari seorang agitator menjadi demagog, yaitu agitator yang seakan memperjuangkan rakyat, padahal semua itu ia lakukan demi kekuasaan atau kedudukan semata.

Para demagog, menurut anggota Dewan Pengarah BPIP ini, memiliki ciri suka mencari kambing hitam demi menumbuhkan kebencian identitas, ad-hoinem atau senang menyerang pribadi, dan kerap menyederhanakan gagasan atau pemikiran agar memiliki efektibitas sosial sehingga menjadi opini dan keyakinan.

Kesemua ciri tersebut, pada akhirnya menerangkan alasan mengapa Amien begitu membenci Jokowi. Meski begitu, menurut Aristoteles yang juga diyakini Mahfud, keberadaan para demagog ini menjadi risiko bahaya dari berlakunya sistem demokrasi. Sebab mereka kerap membawa essence demokrasi ke sistem diktatorial bahkan tirani, meskipun pada permukaan atau formal-proseduralnya mirip demokrasi. (R24)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here