Apa Kabar Revolusi Mental Jokowi?

Revolusi Mental Jokowi
Presiden Joko Widodo (Foto: Randy Tri Kurniawan/RM)
3 minute read

“Suara, dengarkanlah aku. Apa kabarnya pujaan hatiku?” – Hijau Daun, Suara


Pinterpolitik.com

Apa kabar ya Revolusi Mental?

Itu kan sebuah jargon kampanye yang begitu fenomenal, sampai membuat banyak orang yang ikut berkampanye mau perang total. Kok sekarang jadi tak begitu terkenal? Apakah mungkin program ini sudah akan terpental?

Pada tahun 2014, kampanye milik Pak Jokowi ini kan begitu menarik bagi banyak orang. Gimana enggak, untuk pertama kalinya, ada terobosan dalam kampanye politik Indonesia yang selama ini diisi oleh jargon-jargon bernada terlampau umum.

Kalau melihat asal pemikirannya, siapapun pasti terpukau dengan gagasan revolusi mental Pak Jokowi ini. Kata-kata ini kan di Indonesia pertama kali mengemuka dari Soekarno, presiden pertama negeri ini.


Konon, Revolusi Mental menurut Soekarno adalah suatu gerakan untuk menggembleng manusia Indonesia agar menjadi manusia baru, yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, berjiwa api yang menyala-nyala.

Kurang lebih, revolusi ini terkait dengan perubahan pola pikir agar tak terus memiliki mental seperti bangsa terjajah.

Apa kabar ya revolusi mental? Masih kental apa sudah terpental? Click To Tweet

Nah, dengan jargon memukau semacam itu, semua orang pasti menanti-nanti seperti kelanjutannya ketika Pak Jokowi menjabat.

Sayangnya, selama lima tahun periode pertama Pak Jokowi, program tersebut relatif minim sekali didengar. Memang sih ada kementeriannya Bu Puan Maharani yang jadi ujung tombak dari program tersebut. Pak Jokowi sendiri sudah meneken Inpres terkait dengan program tersebut. Selain itu, di situs-situs instansi pemerintahan juga jargon itu kerap dipajang dengan rapi.

Meski demikian, sulit untuk bilang bahwa program tersebut telah benar-benar sukses. Kalaupun pemerintah mengaku sudah menjalankan gagasan revolusioner tersebut, bagaimana ya caranya buat mengukurnya?

Malah sebenarnya ada ironi tersendiri bagi jargon tersebut. Jadi kan, di pemerintahan Pak Jokowi ini ada penghargaan Revolusi Mental Awards 2018 mengukur dan mengapresiasi implementasi revolusi mental di lembaga pemerintahan, kementerian, dan BUMN.

Nah, di antara pemenang penghargaan tersebut, terselip nama Dirut Perum Jasa Tirta II Djoko Saputro sebagai salah satu pemenang. Ironisnya, delapan bulan setelah mendapat penghargaan, Pak Djoko justru malah ditangkap oleh KPK.

Jadi, wajar tuh kalau publik bertanya apanya yang direvolusi ya kalau pemenang penghargaannya malah ditangkap KPK.

Sebenarnya ada perkara lain yang membuat pertanyaan soal kabar Revolusi Mental ini jadi keluar. Pada kampanye Pilpres 2019, sepertinya istilah ini hampir tak terdengar dan kalah pamor dari program lain semacam Kartu Pra Kerja atau Pemerintahan Dilan (Digital Melayani).

Apa mungkin ini jadi sinyal kalau program revolusi mental yang fenomenal itu akan terpental?

Wah, sayang sekali ya, kan sudah banyak yang terpukau dengan revolusi mental ini, apalagi sampai meminjam pemikiran Bung Karno segala. Kita tunggu saja ya, apakah program ini beneran terpental atau akan tetap dikenal. (H33)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.